Kehadiran DKR sebagai Penghubung Masyarakat Indonesia yang Kreatif

IMG_0243

Guna memperingati Hari Perempuan Internasional (8 Maret), Hari Anti Diskriminasi (1 Maret), dan Hari Autis sedunia (2 April), digelar acara International Film Festival For Women, Social Issues, and Zero Discrimination (IFFWSZ) yang akan dilangsungkan pada tanggal 26 Maret sampai 6 April 2015.

Festival ini merupakan hasil kerja sama dengan beberapa festival fim internasional seperti International Movie Awards, Filmmakers World Festival, dan Documentary and Short International Movie Awards. Terdapat 355 film yang telah diseleksi dan terpilih 50 film yang akan ditayangkan di IFFWSZ. Film-film yang akan diputar bertemakan isu mengenai perempuan, sosial, dan diskriminasi.

“Ke- 50 film itu belum tentu diputar semua. Nanti akan disaring lagi. Takutnya filmnya terlalu sensitif untuk beberapa masyarakat, ” ujar Damien Dematra, salah seorang Founder dan Direktur IFFWSZ.

Acara festival ini akan menjadi grand launching peresmian Dewan Kreatif Rakyat (DKR) yang sudah disiapkan sejak akhir tahun 2014 lalu. Dewan Kreatif Rakyat dibentuk berawal dari obrolan komunitas-komunitas seni yang sudah sering mengadakan event di luar negeri. DKR menjadi penghubung masyarakat yang kreatif untuk dapat menyalurkan kreativitas mereka dalam satu wadah.

Selama ini, menurut Dedeh Kurniasih, Sekjen DKR, pemerintah kurang mendukung kreativitas masyarakat Indonesia. Padahal menurut Lily Wahid, aktivis perempuan, kreativitas dapat menghasilkan sebuah produk yang mempunyai nilai jual tinggi, sehingga dapat meningkatkan pereknomian Indonesia.

Para penasihat yang akan memotori visi misi DKR antara lain Sinuhun Tedjowulan (Baginda Surakarta Hadiningrat), Damien Dematra (sutradara), Erna Santoso (artis senior Indonesia), Dr. Jalaluddin Rahmat (pakar komunikasi), Dorce Gamalama (penyanyi), Abah Ukam (produser musik indie), Tiara Savitri (Ketua Yayasan Lupus Indonesia), Arie Rahmadani (coordinator i-Hebat Intenational Volunteer), Alika Chandra (pemimpin sanggar teater), Sidik W. Martowidjoyo (pelukis internasional), Hery Sucipto (penulis), dan Emilia Renita (aktivis perempuan).

Selain itu, pada tanggal 26 Maret sampai 1 April 2015, DKR mengadakan berbagai kelas pelatihan seperti creative writing, photography, teater, how to be a star, on site casting, dan pelatihan bagaimana cara membuat musik indie. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)