Diferensiasi Nyonya Indo Menyeruak di Pasar Batik

Pasar busana batik nasional memang sangat besar, lantaran kain bercorak khas Indonesia itu telah diterima menjadi pakaian sehari-hari di Nusantara. Meski demikian, pemain baru tetap harus memiliki strategi yang kuat agar mampu menembus pasar yang telah disesaki ratusan bahkan ribuan merek di setiap segmennya itu.

Moses dan Priscilla Saputro, Pemilik Batik Nyonya Indo Moses dan Priscilla Saputro, Pemilik Batik Nyonya Indo

Seperti yang dilakukan oleh pasangan suami istri Moses dan Priscilla Saputro. Keduanya sukses mengibarkan Batik Nyonya Indo di segmen menengah-atas lantaran mengusung perpaduan motif klasik dengan warna kontemporer. Keduanya pun gigih meriset berbagai bahan pewarna alami batik yang kerap digunakan oleh perajin batik tempo dulu.

Priscilla memulai usaha batik bersama suaminya tahun 1998, tepat saat ekonomi Indonesia dalam kondisi genting lantaran diterpa krisis moneter yang diikuti gejolak politik nasional. Menurut Priscilla, ketika pertama kali berniat untuk terjun di produksi batik, dirinya sudah memancangkan konsep yang berbeda dari batik lainnya di pasar. Aneka batik tulis, pok-pokan dan batik cap yang diproduksinya diperkaya dengan motif dan pewarnaan yang eksploratif. Jadilah motif tradisional parang, turungtung, sekar jagat dan kawung yang biasanya dilumuri warna natural, tetapi di tangan Moses menjadi sangat kekinian lantaran melebur dengan warna biru, merah, hijau dan oranye terang.

Sejak awal berbisnis batik, pasangan suami istri itu memang telah berbagi peran. Priscilla lebih banyak menangani desain dan pemasaran, sedangkan sang suami konsentrasi di urusan produksi. Kebetulan Moses berlatar belakangan pendidikan teknik kimia yang paham betul tentang teknik pewarnaan dan bahan kain. “Jadi perpaduan yang ideal dengan suami yang menguasai produksi,” ujar Priscilla saat diwawancarai SWA bersama suaminya di bengkel kerjanya di Jl. Dr. Rajiman 24, Ngemplak Caban, Tridadi, Sleman, Yogyakarta.

Selain itu Moses, lulusan Teknik Kimia dari Universitas Pembangunan Nasional, Yogyakarta, kembali meriset teknik pewarnaan batik lawas. Penelitiannya mengantarkannya menemui berbagai perajin batik tradisional, serta ke Balai Besar Kerajinan dan Batik di Yogyakarta. Hasilnya, tak kurang dari 50 formula malam dan bahan pewarna yang berhasil dikumpulkannya. Di antaranya: kote, atau lilin lebah yang dihasilkan dari proses alami di sarang lebah.

Satu hal yang penting, Moses mengaku Batik Nyonya Indo berupaya menjadi trend-setter dengan melahirkan produk baru setiap bulannya. Untuk menjaga eksklusivitas sebuah motif, ia membatasi hanya sejumlah tertentu. Jadi tidak ada sebuah motif yang diproduksi secara massal. “Kecuali untuk kebutuhan seragam, atau permintaan khusus baru bisa dicetak dalam jumlah banyak,” kata Moses yang kini dibantu tim litbang untuk merumuskan desain dan motif batik Nyonya Indo.

Moses mengaku memiliki divisi khusus untuk R&D, tim yang di bawah komando Moses inilah yang selalu mencari desain dan motif batik yang hendak diluncurkan ke pasar.

Moses dan Priscilla Saputro, Pemilik Batik Nyonya IndoPriscilla pun turut bekerja keras mengarahkan manajemen perusahaan. Di antaranya dengan mengelola para perajin. Tingginya tingkat keluar masuk para perajin batik telah lama menjadi masalah klasik di industri batik. Karenanya, Priscilla berupaya keras memastikan para perajinnya betah bekerja. “Kami mengelola dengan manajemen artisan, yakni menghargai para pembatik sebagai seniman,” ujarnya.

Maka, pola manajemen modern harus diperlunak dengan sentuhan manusiawi. Selain pengupahan di atas upah minimum provinsi, Priscilla juga berupaya menjadi sahabat para pekerjanya. Bahkan dirinya dan manajemen kerap mengabarkan siapa saja selebritas ataupun tokoh nasional yang mengenakan batik kreasi para perajinnya. Hal itu dilakukan tak lain demi menumbuhkan kebanggaan para perajin atas kerja keras dan dedikasi mereka dalam membatik. “Bahkan kalau mereka jenuh akan kami ajak jalan-jalan untuk refreshing. Ini perlu dilakukan karena kalau keinginan berhenti membatik tersebut dituruti, tentu lama-kelamaan pembatik akan musnah,” ungkap Priscilla.

Lantaran proses produksinya yang tak mudah dan bahkan bisa dibilang berbiaya tinggi, maka Batik Nyonya Indo pun disasar ke pasar kelas menengah-atas. Konsekuensinya, produk yang dihasilkan harus betul-betul disesuaikan dengan pasar yang disasar. Untuk itu, mulai dari bahan hingga desain sangat diperhatikan kualitasnya.

Bahkan untuk kain sutra, diakui Priscilla, harus ditenun sendiri dengan bahan sutra alam.  “Selain kain sutra untuk batik, juga digunakan kain katun untuk batik pok-pokan. Bahan kain seperti krep, sifon, dan organdi juga banyak digunakan untuk kebutuhan selendang atau syal dengan batik cap,” Priscilla menguraikan.

Sementara ini, ada dua kategori produksi Batik Nyonya Indo, yakni idealis dan bisnis. Batik idealis diproduksi hanya untuk keperluan koleksi dan dipamerkan, ataupun kegiatan workshop. Sementara batik bisnis atau komersial diproduksi untuk memenuhi kebutuhan pasar.

Kain batik tulis ini umumnya dijual dalam paket sarimbit berisi tiga potong kain untuk sarung, selendang dan kemeja pria, dan ada pula yang dijual secara terpisah. Untuk koleksi pakaian jadi, Nyonya Indo membuat kemeja pria, blus wanita, sackdress dan lainnya yang desainnya dirancang oleh Priscilla.batik-nyonya-indo1

Pasutri itu pun ternyata memiliki merek lain, yakni merek Priscilla Saputro, yang ditujukan untuk pelanggan mapan, dan Miselle untuk segmen pemula.  Untuk mempromosikan, produknya, Batik Nyonya Indo aktif disertakan dalam Indonesia Fashion Week. Selain itu sering pula terlibat dalam berbagai kegiatan peragaan busana lainnya.

Batik Nyonya Indo pun turut dipasarkan melalui beberapa ruang pamer, baik milik sendiri maupun bekerja sama dengan hotel. Selain di butik di Yogyakarta, Batik Nyonya Indo tersedia di Hotel Hyatt dan Sheraton Mustika Yogyakarta, serta di Beleza Shopping Arcade, Jakarta.

Berkat perkenalan Priscilla dengan Mooryati Soedibyo, bos Mustika Ratu, sekaligus penyelenggara kontes kecantikan Puteri Indonesia, yang berafiliasi dengan Miss Universe, maka Batik Nyonya Indo pun dipakai oleh Miss Universe Olivia Culpo. Saat mengunjungi Indonesia tahun 2012, tubuh molek perempuan cantik asal Amerika Serikat itu berbalut busana Batik Nyonya Indo. Begitu pun saat kunjungan Miss Universe 2013 Gabriela Isler ke Indonesia.

 

BOKS:

Kunci Sukses Batik Nyonya Indo

  1. Melakukan riset produk dan proses produksi secara mendalam.
  2. Gigih dalam memasarkan produknya melalui berbagai cara dan acara.
  3. Membuat desain corak dan motif yang di luar kebiasaan umum.
  4. Membagi segmen pasarnya dengan beberapa merek.
  5. Berani menyambar peluang emas yang ada dengan merancang busana Miss Universe.

Reportase: Gigin W. Utomo/Riset: M. Khoirul Umam

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)