Dulu Kesulitan Modal, Kini Bisnis Ryan Maju Pesat

Meski jalan hidup manusia tidak bisa ditebak, namun kegigihannya dalam berjuang mewujudkan impiannya bisa menjadi penentu takdirnya di masa depan. Seperti yang dialami Ryan Ade Pratama, seorang pengusaha muda 28 tahun yang kini sukses memproduksi alat musik Cajon, baca (ka:hun), yang berasal dari Peru, Amerika Selatan.

Ryan yang berbisnis sejak tahun 2010 tadinya mengalami kesulitan permodalan dalam mengembangkan usahanya. Namun, kondisinya berbalik 180 derajat saat dirinya mengikuti kontes Diplomat Success Challenge tahun 2014 dan keluar sebagai pemenang pertamanya. Berkat hadiah uang ratusan juta rupiah yang diraihnya, dirinya bisa mengembangkan bisnisnya dengan pesat. “Saya kini mampu memproduksi hingga 200 unit Cajon per bulan,” ujarnya dengan antusias.

Ryan bercerita di hadapan peserta seminar Business Fundamental yang digelar oleh Wismilak Diplomat Success Challenge 2016 bekerja sama dengan UIN Maulana Malik Ibrahim di Malang, Jawa Timur, 26 April silam. Acara yang bertujuan memberikan motivasi berwirausaha itu selain menghadirkan Ryan juga menampilkan Ridwan Abadi sebagai pembicara yang berprofesi sebagai seorang wirausaha dan motivator bisnis terkenal.

Ryan lebih lanjut memaparkan, ada perbedaan signifikan dari bisnis alat musik Cajon yang dijalaninya sebelum mengikuti kompetisi DSC. Jika awalnya ia hanya memproduksi 4 unit Cajon sebulan, setelah mengikuti program kompetisi Wismilak DSC kini ia mampu memproduksi hingga 200 unit per bulan.

Ryan Ade Pratama (kanan) Ryan Ade Pratama (kanan)

Ryan merasa sangat bersyukur karena perkembangan bisnisnya begitu diapresiasi masyarakat. Kesuksesannya tersebut tak terlepas dari modal usaha yang ia dapatkan sebagai pemenang dan bimbingan usaha yang selama satu tahun ini didapatkannya di DSC. Tahun 2014 diakuinya menjadi titik balik bagi Ryan.

“Masalah modal langsung terpecahkan karena sebagai salah satu pemenang program ini saya mendapat hibah dana, ya bukan pinjaman. Selain itu saya juga mendapat bantuan bimbingan bagaimana mengelola usaha yang baik,” ungkapnya mensyukuri buah dari kegigihannya.

Seluruh pemenang program DSC Wismilak memang mendapat pendampingan manajemen usaha selama satu tahun. Hal ini juga dijelaskan oleh Surjanto Yasaputera selaku Chief Board of Commissioner Diplomat Success Challenge, “Kami ingin memastikan keberhasilan para wirausahawan muda yang memenangkan kompetisi DSC,” ujarnya.

Dengan makin banyaknya produksi yang dihasilkan, jelas Ryan makin produktif merekrut banyak sahabat di sekelilingnya untuk berkarya. Di sinilah aspek social entrepreneurship seorang Ryan makin dalam terlihat pula. Ryan yang kini telah menjadi duta DSC, merasa ikut terpanggil untuk menginspirasi para generasi muda, khususnya para generasi penerus di DSC. Semangat yang didapatnya di DSC ingin ia tebarkan agar lebih terekspos di negeri ini.

“Sebagai alumni DSC, saya telah belajar banyak. Kami mendapatkan network dan pendampingan sehingga grafik kemajuan kami sangat terlihat,” jelasnya.

Kini bisnis Cajonnya sudah tersebar luas ke seluruh nusantara. Outletnya hingga saat ini mencapai 30 titik di hampir seluruh Indonesia, dengan omset perbulan mencapai 150 juta rupiah. Bahkan beberapa toko musik besar sudah menjadi mitra bisnisnya antara lain PT HLS Musik, PT Sincere Musik, PT Premier Musik, Chic’s Music, Queen Musik Solo, dan Istana Musik Medan.

Keberhasilannya itu pun ditularkannya kepada partisipan peserta DSC lainnya, atau dengan kata lain dirinya ingin menjadi agen perubahan. Dia percaya, banyak orang bisa sukses karena mereka mau belajar dari orang-orang yang telah lebih dulu sukses, dengan mengikuti langkah-langkah mereka.

“Ini merupakan salah satu pengejawantahan dari social entrepreneurship. Sehingga kami mengajak seluruh wirausaha muda Indonesia mempergunakan kesempatan yang diberikan DSC untuk ikut menjadi sukses,” ujar Ryan.

Eddy Dwinanto Iskandar

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)