Dwi Sapta: Gaya Hidup Sehat Makin 'Ngetren'

Hang out di coffee shop dan mal sudah menjadi gaya hidup masyarakat Indonesia. Tren tersebut masih berlangsung hingga saat ini. Namun, perusahaan periklanan, Dwi Sapta Group memerkirakan ke depan, tren gaya hidup sehat akan lebih banyak dipilih. Orang memilih makanan dengan melihat kandungan gizinya sudah menjadi pemandangan yang biasa saat ini. Pembelian produk natural dan organik juga tumbuh kian pesat, termasuk meminum infused water.

“Kita semua melihat tren olahraga seperti lari dan bersepeda kian meningkat seiring makin tingginya kesadaran masyarakat akan kesehatan. Perawatan kecantikan juga akan meningkat karena konsumen lebih memikirkan tentang good looks yang relevan untuk diri mereka. Mungkin nanti perawatan kulit dan wajah dengan Spa bisa dipanggil ke rumah karena mobilitas konsumen yang semakin tinggi,” ujar Maya Watono, Direktur Pengelola Dwi Sapta.

Menurut dia, tren kenaikan Produk Domestik Bruto (PDB) menyebabkan daya beli masyarakat juga meningkat. Masyarakat justru lebih jeli dengan membeli barang yang memiliki value lebih tinggi. Misalnya, kalau dulu masyarakat banyak membeli shampoo sachet, sekarang beralih ke shampoo kemasan besar karena memberikan value for money yang lebih tinggi.

Maya Watono, Managing Director, Dwi Sapta Group Maya Watono, Managing Director, Dwi Sapta Group

Kenaikan jumlah kalangan middle class yang signifikan juga berimplikasi pada meningkatnya daya beli. Produk kesehatan dan kecantikan semakin banyak diburu. Di beberapa daerah seperti Kalimantan, angka pertumbuhan facial care bisa mencapa 60%, sementara hair care product tumbuh 52%.

“Produsen harus menyikapi tren tersebut dengan membuat produk kemasan value for money (ukuran besar). Pesan marketing atau komunikasi pun harus diterapkan yang berkesan lifestyle, namun tetap memberikan added value untuk konsumen,” ujarnya.

Masyarakat Indonesia saat ini, lanjut dia, semakin memperhatikan gaya hidupnya. Ada tiga kategori perubahan kebiasaan konsumen mengonsumsi produk, yaitu indulgence (memanjakan) yang melibatkan produk indulgent seperti Starbucks, Breadtalk, dan es krim Magnum. Kedua, kesehatan dan penampilan seperti produk saat ini yang bertulisan less sugar, non cholesterol, low fat dan lainnya.

“Contoh, produk Fitbar dulu menawarkan non cholesterol dalam produknya, tapi banyak konsumen yang melihat kandungan kalori dari snack itu sendiri. Itu kenapa Fitbar kembali menawarkan produk yang rendah kalori, yaitu hanya 90 kalori di setiap kemasan,” ujarnya.

Terakhir, adalah convenience (kenyamanan), yakni produk-produk yang mudah didapat dan kemasannya praktis, mudah dibawa, seiring waktu masyarakat yang semakin sedikit karena mobilitas yang tinggi. Misalnya, Fiesta Chicken Nugget yang sangat simpel tinggal digoreng tanpa harus mencampur dengan bumbu apapun. “Kopi pun tidak harus nyeduh dulu, nunggu airnya mateng, sekarang sudah banyak kopi siap minum yang harganya terjangkau,” ujarnya.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)