Ekonomi Melambat, Ujian Untuk Raja Daerah

Sepuluh tahun terakhir sebelum pemerintahan yang baru, ekonomi RI memang tumbuh cukup baik. Banyak daerah mencapai puncak pertumbuhan ekonomi dengan bertumpu pada sumber daya alam, baik agro maupun pertambangan yang saat itu harganya masih bagus.

Kini, harga komoditas merosot tajam seiring perlambatan ekonomi global. Ekonomi raksasa Amerika Serikat masih belum menentu. Roda ekonomi Tiongkok telah melambat. Demikian pula Jepang yang ekonominya mengalami kontraksi. Negara-negara Eropa juga masih berkutat dengan krisis keuangan.

Inilah ujian berat para raja daerah, pengusaha yang tumbuh dan besar di daerah. Mereka berbekal sifat berani mengambil risiko, dekat dengan pengambil keputusan, piawai melobi instansi di daerah, serta bekerjasama dengan pengusaha dari pusat untuk menggarap potensi di daerah.

“Di era pemerintahan baru dan situasi global yang lesu, tidak semua pemain rontok. Sektor infrastruktur yang sedang digenjot justru menjadi peluang bari para pemain di daerah untuk melaju,” kata CCO DIREXION Strategy Consulting, Yahya B Soenarjo.

Beberapa raja daerah yang layak diperhitungkan:
1. Johnlin Group di Kalimantan Selatan
2. TBPC Group di Bandung
3. Sinar Galesong Group di Makassar
4. Trophy Group di Medan
5. Johnny Sugiarto di Bangka
6. Alexander Foe di Bandung
7. Sritex Group di Solo

Suasana Kerja di pabrik Deyeko produk bulu mata palsu Suasana Kerja di pabrik Deyeko produk bulu mata palsu

Sang penguasa bisnis mesti memeras otak keluar dari zona nyaman. Ekspor komoditas tak lagi menggiurkan seiring harganya yang anjlok dan merosotnya permintaan dunia. Investasi yang digelontorkan lewat kredit bank akhirnya bermasalah sehingga mengganggu arus kas.

Saat inilah nyali sang raja daerah diuji. Kepiawaian mereka dinanti dalam situasi yang sulit seperti sekarang. Roda sekarang sedang berada di bawah. Hanya waktu yang akan menjawab. Ada yang sukses melakukan turnaround, restrukturisasi, diversifikasi untuk menyebar risiko, atau strategi jitu lainnya.

Namun, tak sedikit yang terancam gulung tikar. Sebagian yang lain, berbekal strategi konservatif alias tidak terlalu agresif, malah cukup aman dan sehat. Mereka yang bakal lulus biasanya punya kompetensi dan pengalaman serta didukung jejaring yang kuat.

“Namun, seringkali mereka lamban dalam menangkap peluang baru dan cenderung masih memiliki pola manajemen yang konvensional, khususnya perusahaan keluarga,” kata dia.

Inilah yang kemudian diambil pesaing mereka yang bermodal nekat, cepat dalam bertindak, dan selalu hadir dengan ide-ide brilian meskipun tanpa pengalaman yang memadai. Dana mereka biasanya juga terbatas. Namun, mereka akhirnya sukses menghimpun dana dari mitra atau lembaga keuangan. (Reportase: Istihanah)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)