Generasi Ketiga Buka Rahasia Bisnis Tape Uli Cisalak

Erik Suryawan, Generasi Ketiga RM Tape Uli Cisalak Erik Suryawan, Generasi Ketiga RM Tape Uli Cisalak

Membangun dan mempertahankan bisnis hingga tiga generasi tentu bukan perkara mudah. Demikian yang dialami Rumah Makan Tape Uli Cisalak yang terkenal dengab tape ulinya itu. Rumah makan yang telah ada sejak tahun 1957 itu hingga kini masih ramai dikunjungi, umumnya pelanggannya datang untuk menikmati tape uli atau membelinya sebagai buah tangan khas Bogor.

Kini usaha tersebut dijalankan oleh Erik Suryawan, sang generasi ketiga. Bagaimana Alumni Manajemen Pemasaran, Institut Bisnis dan Informatika Indonesia tahun 2001 itu meneruskan tongkat estafet dari kakek dan ayahnya? Berikut kutipan wawancara SWA Online dengan Erik dalam Pameran Produk Fermentasi Nusantara di Kemang, Jakarta Selatan beberapa waktu lalu.

Bisa diceritakan bagaimana dulu kakek Anda memulai usaha ini ?

Dulu dimulai dari Jalan Raya Cisalak sebagai alan utama untuk lalu lintas orang yang dari Jakarta ke Bogor atau sebaliknya. Presiden pada masa itu pun kalau mau ke istana Bogor pasti lewat jalan itu. Kemudian di sekitarnya juga masih berupa perkebunan karet, jadi lingkungannya masih sangat asri dan nyaman sebagai tempat istirahat untuk makan atau sekadar minum kopi. Kong Item, kakek saya kebetulan punya tanah—di tempat yang sekarang—di pinggir jalan raya itu, beliau kemudian membangun sebuah warung kecil seperti warung kopi, di situ ia menjual tape uli buatannya dan makanan lainnya seperti laksa ayam Bogor.

Orang-orang banyak yang singgah untuk istirahat dari perjalanan Jakarta – Bogor atau sebaliknya. Tape uli lalu menjadi menu favorit pengunjung. Akhirnya usaha terus berkembang, warungnya kemudian diperluas, ragam makananya juga bertambah. Kami juga menerima produk dari tetangga di sekitar kampung, misalnya sagon, geplak, opak, kue cincin, dan lainnya. Akhirnya sampai sekarang, orang-orang yang ingin menikmati tape uli pasti sengaja menyambangi rumah makan kami. Ada makan di tempat, tetapi tidak sedikit juga yang membeli untuk oleh-oleh.

Jadi apa yang membuat tape uli ini punya pelanggan loyal dan bisnisnya tetap eksis sampai sekarang ?

Kami masih mempertahankan resep dan cara mengolahnya. Kami masih pakai kayu bakar, lalu ulinya juga masih kami tumbuk dengan alu, masih tradisional. Bahkan dandang (alat merebus) kami masih pakai dandang tembaga peninggalan dari kakek. Memang ciri khas kami adalah memasaknya dengan kayu bakar.

Saat ini berapa produksi tape ulinya ?

Untuk hari-hari biasa, Senin-Jumat, kami produksi 20 – 30 liter ketan hitam dan putih per hari, kalau hari sabtu-minggu, produksinya naik dua kali lipat. Saat libur panjang seperti lebaran atau libur sekolah bisa tiga kali lipat produksinya.

Bagaimana caranya untuk menjaga rasanya tetap sama dari generasi pertama sampai generasi ketiga ?

Kami pertahankan semuanya agar tetap sama. Pertama, pemasok beras ketannya, masih dari pemasok yang sama dari jaman kakek dahulu. Dengan begitu kami yakin kualitas beras ketannya terjaga, tidak berubah. Untuk ragi pun kami masih memakai ragi yang diwariskan kakek. Bahkan karyawannya pun beregenerasi, dari ibunya hingga kini anaknya masih ada yang ikut dengan kami, khususnya bagian peragian, mereka adalah orang-orang yang sudah cukup sepuh dan kini anak-anaknya juga ikut membantu.

Anda sendiri sejak kapan disiapkan dan diberikan tongkat estafet usaha ini ?

Saya sudah mulai belajar soal tape uli itu sejak saya berusia belasan tahun. Tetapi saya belum fokus ke bisnisnya. Saat saya menamatkan SMU, saya kemudian diarahkan untuk melanjutkan ke bidang bisnis atau pemasaran, maksud orang tua agar kelak saya bisa ikut membesarkan bisnis ini dengan ilmu baru dari bangku kuliah. Saya kemudian melanjutkan kuliah di jurusan pemasaran, Institut Bisnis dan Informatika Indonesia tahun 1998. Setelah lulus kuliah, tahun 2001, saya kemudian terjun dan fokus membesarkan usaha ini.

Setelah diberikan amanah ini, apa saja perubahan yang anda lakukan ?

Saya mulai mencoba melobi ke jaringan ritel agar produk tape uli ini bisa masuk kesana, dan Alhamdulillah berhasil. Sekarang produk ini sudah ada di beberapa ritel seperti Hypermart Ciburu, Bellanova dan Cimanggis Square. Lalu kami juga titip jual di pusat-pusat belanja oleh-oleh di Bogor. Selain itu, saya  coba lakukan diversifikasi produk. Tadinya tape uli ini hanya dijual dalam bentuk kemasan kecil-kecil dibungkus daun pisang harganya Rp 20 ribu sebungkus, sekarang ada yang ukuran setengah kilo dalam kemasan bowl plastik harganya Rp 27 per bungkus. Kami juga meracik tape uli menjadi minuman segar, es tape uli. Kami pakai sirup vanili yang kami buat sendiri (home made). Di rumah makan sekarang menunya juga tambah beragam, selain laksa yang jadi andalan, ada juga soto ayam, sate ayam dan kabing, ayam bakar, gulai kambing. Harga menu mulai dari Rp 20 ribu.

Tetapi ada satu hal yang belum bisa saya ubah adalah, tape uli ini tidak bisa bertahan lebih dari empat hari karena ulinya itu kan ada campuran kelapa, sehingga tidak bisa tahan lama. Sedangkan kami tidak mau memakai pengawet. Saya sedang memikirkan bagaimana cara nya agar ulinya bertahan lebih lama, apakah kemasannya diubah yang steril dan kedap udara. Maksudnya, saya ingin bisa dijual lebih luas lagi, mungkin lewat online.

Selama perjalanan 58 tahun bisnis ini, pasti ada kisah jatuh bangun yang dihadapi, apa saja kisah yang berkesan dan inspiratif ?

Iya kami pernah dua kali mengalami kebakaran, itu risiko kami yang masih menggunakan kayu bakar untuk memasak dalam jumlah besar. Saat aktivitas dapur usai, dan tungku dimatikan ternyata masih ada bara api yang menyala dan terkubur dalam abu tunggku. Dari situ jadi sumber kebakaran. Seluruh bangunan habis dilalap api. Selain asuransi, ternyata mitra bisnis dan kerabat banyak juga yang membantu. Waktu itu ayah dan ibu saya yang memegang usaha, mereka bercerita, setelah musibah itu banyak bantuan datang dari rekan dan kerabat yang dulunya pernah bekerjasama bisnis dengan kami. Dari situ pesan ayah saya salah satunya adalah jaga hubungan baik dengan semua orang, termasuk pelanggan. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)