Guru Menjadi Kunci Pendidikan Kesetaraan Gender

Isu kesetaraan gender dewasa ini masih menjadi hal yang menarik untuk dibahas. Selama dasawarsa terakhir, Indonesia telah meningkatkan kesetaraan gender dalam pendidikan. Sesuai komitmen terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan sebagai kelanjutan dari Tujuan Pembangunan Milenium (MDG) pada 10 tahun sebelumnya, saat ini Indonesia mengambil langkah lebih lanjut untuk menyediakan akses yang adil bagi anak laki-laki dan perempuan, termasuk meningkatkan prestasi dan hasil belajar mereka.

MDG menegaskan kembali bahwa pendidikan dasar universal dan kesetaraan gender baik pada pendidikan dasar dan menengah harus tercapai pada tahun 2015. Lebih jauh, MDG menetapkan kesetaraan gender tidak hanya pada tingkat pendidikan dasar dan menengah, tapi meliputi pada pendidikan usia dini, pendidikan teknis dan kejuruan, serta pendidikan tinggi.

kopidar

Saat ini kesetaraan gender pada umumnya telah tercapai di semua tingkat pendidikan, termasuk juga dalam hal literasi kelompok muda Indonesia yang terletak pada penduduk usia antara 15-24 tahun. Kesuksesan ini tercapai berkat kombinasi dari serangkaian kebijakan pendidikan yang efektif dan investasi pendidikan pada tingkat nasional yang berhasil memperluas ketersediaan sekolah di daerah pedesaan dan menurunkan biaya sekolah.

Meski beberapa golongan dari masyarakat sudah menyadari akan adanya kesetaraan gender, namun strategi yang dilakukan guna menyadarkan masyarakat Indonesia mengenai isu ini masih sangatlah minim sekali. Secara umum, dukungan atas isu-isu gender di tingkat pusat. Kelemahannya ada pada pengarusutamaan gender secara jelas serta kapasitas keahlian teknis terkait topik ini masih terbatas di Indonesia dan masih dalam pengembangan hingga saat ini.

“Hingga saat ini, jajaran Pemerintah masih perlu mengembangkan kepekaan mereka dalam bidang ini, khususnya karena kebanyakan para pelopor di bidang ini sudah pensiun, dimana keterampilan dan pengetahuan tentang keadilan gender belum diregenerasi secara memadai,” ujar Totok Amin Soefijanto, Senior Advisor for Knowledge Management and Communication ACDP Indonesia

Saat ini yang terjadi adalah pengalaman antara murid laki-laki dan perempuan dalam proses belajar di dalam kelas bisa jadi berbeda. Hal ini tentunya akan mempengaruhi partisipasi dalam kelas, prestasi pendidikan dan hasil belajar mereka. Nilai-nilai sosial dan budaya, juga stereotype tentang gender dapat secara tidak sengaja diperkuat di kelas dan melalui interaksi guru-murid atau antar sesama murid. Pendekatan mengajar dan pedagogi, juga cara melibatkan dan menilai murid, kemungkinan sering berpihak pada anak laki-laki.

“Di Indonesia, pelatihan guru untuk memperlakukan murid laki-laki dan perempuan secara adil - misalnya dengan berbagi tugas dan berpartisipasi dalam semua kegiatan sekolah - sering kali terlewati. Sampai saat ini, lembaga penjaminan mutu pendidikan di provinsi, lembaga pelatihan tenaga kependidikan (LPTK) dan jaringan pengembangan keprofesian guru setempat di Indonesia belum ditatar tentang kepekaan atau pengarusutamaan gender,” ujar Najelaa Sihab, salah satu penggiat pendidikan.

Melihat hal tersebut, peran kurikulum sedemikian penting untuk memastikan agar semua murid laki-laki dan perempuan diberikan kesempatan yang adil untuk berhasil dan maju di sekolah. Di Indonesia, penelitian baru-baru ini tentang kurikulum dan buku teks dari PAUD sampai SMA - baik sekolah negeri maupun madrasah - mengindikasikan adanya potret peranan gender yang konsisten dengan norma-norma sosial yang tradisional yang sering kali menerima/mengakui superioritas dan kekuasaan laki-laki.

“Dalam wawancara tidak resmi terkait pandangan guru (baik laki-laki maupun perempuan) di SMP dan SMA, studi ACDP mengungkapkan bahwa para guru secara bulat yakin murid laki-laki lebih pintar di bidang sains, sementara murid perempuan dianggap pandai dalam pelajaran Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Pandangan ini mencerminkan hal yang sama atas prestasi murid Indonesia yang ditunjukkan oleh hasil kajian internasional atas sejumlah mata pelajaran tersebut, “ tambah Totok.

Dalam mendukung aksi mengenai kesetaraan gender dalam pendidikan, Totok menyebutkan peran guru tentunya menjadi hal yang penting. Caranya adalah dengan mendorong murid laki-laki dan perempuan untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu, memberikan arahan dan bertindak sebagai teladan.

Contoh terbaik dalam memadukan keadilan gender ke dalam praktik pembelajaran adalah dengan ‘menantang’ stereotipe yang ada, termasuk dalam memberi respon atau menunjukkan perilaku terhadap kemampuan murid laki-laki dan perempuan, memberikan perhatian yang adil bagi murid laki-laki dan perempuan, serta mendorong murid perempuan untuk ikut dalam kegiatan di luar sekolah yang biasanya diikuti oleh murid laki-laki.

Selain itu, perlu dilakukan pelembagaan program pelatihan guru yang menyeluruh, baik saat pra-dinas dan semasa dinas, serta program pelatihan kepala sekolah dan guru yang fokus pada pendekatan yang responsif terhadap gender. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)