Ini Sumber Inovasi Citra Langgeng

Ide inovatif bisa datang dari berbagai sumber. Ini dia lima sumber inovasi PT Citra Langgeng Sentosa. Berdiri sejak 2001 lalu, perusahaan yang tergabung di Grup Infinity telah memiliki 1.200 klien. Padahal, jumlah karyawannya hanya 71 orang.

Di daftar pelanggan mereka, ada nama-nama top semacam Toyota, Daihatsu, dan Honda. Bisnis mereka yang terus melambung membuat Citra Langgeng mesti lebih giat berinovasi untuk memberi nilai tambah pentingnya meningkatkan produktivitas dan keselamatan kerja kepada para pelanggan.

Sederet produk inovatif telah mereka hasilkan seperti lampu LED, infinity design, safety product, dan robot dengan merek Infinity Design dan Infinity Robotics. Nama infinity dipilih agar mudah diingat dan juga berarti karya inovasi yang tak terbatas.

Ardinal Haryadi, CEO Citra Langgeng Ardinal Haryadi, CEO Citra Langgeng

“Kami mendapatkan ide dari berbagai macam sumber. Pertama, mencari apa yang digunakan konsumen dengan melakukan benchmarking ke tempat konsumen dan mengamati apa yang mereka gunakan,” kata Ardinal Haryadi, CEO Citra Langgeng.

Kedua, adalah mencari apa harapan konsumen. Ketiga, adalah melihat tren di industri. Perseroan telah memasuki industri robot seiring kenaikan upah minimum kabupaten/kota (UMK). Kehadiran robot bisa membantu proses produksi. Sejak Januari 2015, lanjut dia, Citra Langgeng telah menjual 170-an robot senilai Rp 30 miliar.

“Keempat, ide inovatif bisa datang dari pameran. Kami menyebutnya eye calibration. Kami melihat, apa yang dipamerkan di Singapura akan dipakai 2-3 tahun kemudian di Indonesia, di Hongkong 3-5 tahun lagi, Eropa dan Jepang 5-7 tahun lagi. Dengan begitu, kami bisa bersiap,” katanya.

Yang terakhir, adalah faktor X karena kadang-kadang ide bisa tiba-tiba muncul sendiri. Setelah ide terkumpul, perseroan kemudian mengecek ke konsumen menanyakan ketertarikan mereka dengan produk baru yang akan dibuat. Kesiapan suplier juga dilihat, demikian juga dengan kesiapan perusahaan, terutama terkait dengan dana. Terakhir, adalah mengecek regulasi yang berlaku.

“Kami selalu mematenkan produk. Saat ini, kami sudah punya 2 industrial paten dan 12 paten merek. Ini kami lakukan sendiri, bukan distributor. Sebab, kami ingin punya merek dan tidak ingin menjadi pembantu orang lain. Kami juga tidak mau ada copy pattern dan brand issue,” ujarnya. (Reportase: Maria Hudaibyah Azzahra)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)