Jadi Unicorn Baru, Ini 3 Strategi yang Akan Dilakukan Xendit

Di tengah pandemi Covid-19, perusahaan payment gateway, Xendit, dinobatkan menjadi perusahaan unicorn baru di Indonesia. Status tersebut disandang setelah perusahaan yang berdiri pada tahun 2015 tersebut mendapatkan pendanaan seri C sebesar US$150 juta atau senilai Rp2,1 triliun. Putaran pendanaan ini dipimpin oleh Tiger Global Management dengan partisipasi dari investornya saat ini, yaitu Accel, Amasia, dan Goat Capital yang dimiliki oleh Justin Kan.

Tessa Wijaya, Co-founder & COO, Xendit mengatakan bahwa pihaknya mencatatkan peningkatan total volume pembayaran lebih dari 200% (YoY) di Indonesia dan Filipina. “Tren tersebut melanjutkan rekam jejak kami yang tumbuh lebih dari 10% dari bulan ke bulan sejak awal pendirian,” kata dia dalam konferensi pers yang diadakan tadi siang (15/09/2021).

Ada tiga rencana besar yang akan dilakukan perusahaan untuk memaksimalkan pertumbuhan bisnis melalui pendanaan tersebut. Pertama, Xendit akan meluncurkan inovasi produknya dan kemudian memasarkannya ke wilayah Asia Tenggara yang meliputi Filipina, Malaysia, Singapura, dan Vietnam. Tessa menargetkan pihaknya akan menjadi leading company di industri payment gateway di Asia Tenggara dalam kurun waktu 1 sampai 2 tahun mendatang.

Kawasan Asia Tenggara dipilih lantaran memiliki pasar yang potensial bagi pertumbuhan bisnis teknologi. Terutama karena 70% dari 580 juta populasi di Asia Tenggara saat ini sudah merambah ke dunia online. Pada tahun 2021, nilai ekonomi digital di kawasan ini akan melebihi US$100 miliar, dan diproyeksikan meningkat tiga kali lipat menjadi lebih dari US$300 miliar pada tahun 2025 mendatang.

Kedua, Xendit akan mengembangkan layanan baru untuk para merchant. Layanan tersebut nantinya akan memudahkan merchant mengoperasikan fitur Xendit melalui telepon genggam sehingga lebih sederhana. "Kami akan menyediakan berbagai fitur dan layanan yang dapat membantu UMKM agar dapat mulai bertransaksi secara digital, menerima pembayaran lebih cepat, serta mengembangkan produk untuk mendukung layanan e-commerce di berbagai platform.

Selain itu, platform juga akan menciptakan produk dan fitur yang akan memberikan nilai tambah dalam mempermudah proses bisnis merchant Xendit, seperti sistem pencegahan penipuan dan asuransi tolak bayar. Ketiga, Xendit akan memberikan pinjaman kepada merchant untuk mengembangkan usahanya. “Kendala para UMKM saat ini adalah dukungan pendanaan. Mereka tidak memiliki akses untuk mendapatkan dana yang cukup guna kebutuhan pengembangan usaha," jelasnya.

Oleh karena itu, menurutnya, Xendit ingin memberikan pinjaman untuk membantu para UMKM di Indonesia. Skema pinjaman yang ditawarkan Xendit berbeda dengan P2P landing yang bersumber dari dana orang lain. Pendanaan yang disalurkan untuk para merchant akan bersumber dari dana Xendit. Masih dalam agenda yang sama, Moses Lo, Pendiri dan CEO Xendit melihat adanya pergeseran tren ke ranah digital di seluruh bisnis dan sektor usaha.

Tren tersebut diamini tidak hanya oleh toko-toko kecil, tetapi juga perusahaan besar di Indonesia. “Infrastruktur pembayaran digital Xendit memungkinkan para pelaku usaha baru di kawasan Asia Tenggara untuk dapat menerima pembayaran dengan lebih cepat, dan mendukung para perusahaan besar dengan layanan finansial modern kelas dunia," kata Moses.

Sebelumnya, Xendit telah mendapatkan pendanaan Seri B pada bulan Maret 2021. Pendanaan tersebut dipimpin oleh Accel. Secara total, perusahaan telah menggalang dana sebesar Rp3,4 triliun atau sekitar US$238 juta sejak tahun 2015 lalu.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)