Jogja Bertumpu Pada Wisata Budaya

Yogyakarta adalah kota pendidikan, budaya, dan pariwisata. Roda ekonomi pun bertumpu pada ketiganya. Walikota Jogja, Haryadi Suyuti mengatakan, sektor pariwisata masih menjadi primadona bisnis yang menarik minat banyak investor. “Bisnis hotel dan restoran memasok 40%. Budaya itu ada fesyen, kuliner, dan kesenian,” katanya.

Pariwisata masih menjadi lokomotif ekonomi yang menggerakan kehidupan kota Jogjakarta. Tak mengherankan, bila kota ini menjadi rebutan para pemilik modal yang ingin mengambil keuntungan di sektor ini. Dalam satu dekade terakhir, wajah Jogja telah berubah total. Mal dan hotel tumbuh dimana-mana.

Berdasarkan data PHRI Jogja, sedikitnya 80 hotel berbintang dengan jumlah kamar mencapai 8.000 plus 13.000 kamar yang disediakan 1.100 hotel non bintang. Dari jumlah tersebut, 60% berada di Kota Jogjakarta.

Walikota Jogja, Haryadi Suyuti Walikota Jogja, Haryadi Suyuti

Data dari Badan Pusat Statistik DIY menunjukkan, tingkat hunian kamar hotel rata-rata pada Juni 2015 sebesar 57,44 persen. Angka ini mengalami penurunan ketimbang Mei sebesar 65,90 persen.

Begitulah kenyataannya, setiap akhir pekan atau hari libur nasional kota ini penuh sesak dengan kendaraan luar kota. Jumlah pengunjung terus meningkat dari tahun ke tahun.

“Jogja menjual romantisme. Kalau ada wisatawan ke jogja, wisatawan yang berulang. (Mereka biasanya) Kangen-kangenan, reunian,” kata Haryadi.

Jumlah wisatawan mancanegara yang datang kebanyakan dari Singapura dan Australia. Wisatawan asing pada 2014 berjumlah 250 ribu dan ditargetkan bisa mencapai 300 ribu hingga akhir tahun 2015.

Sedangkan, wisatawan lokal kebanyakan datang dari Jakarta dan Surabaya. Kunjungan wisatawan domestik pada 2014 tercatat 3,3 juta orang. Hingga akhir tahun ini, ditargetkan sebanyak 3,5 juta.

Selain wisata dan budaya, Jogja juga menyimpan potensi besar di sektor lain seperti teknologi. Hal itu ditunjukkan dengan perusahaan game internasional asal Prancis, Gameloft, yang menanamkan investasi hingga US$ 1 juta di Jogja.

Sejak diinisiasinya JDV-Jogya Digital Valley, coworking space gratis besutan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk, dua tahun lalu, industri kreatif digital diharapkan tumbuh dengan pesat di Kota Pelajar. “Banyak orang kreatif di Jogja,” kata Haryadi. (Reportase: Gigin W. Utomo)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)