Joko Supriyono: Industri Sawit sebagai Pride of the Nation!

Tahun 2012 yang lalu neraca perdagangan Indonesia defisit, sebesar US$ 1,63 miliar. Penyebab defisit ini adalah karena neraca migas yang defisit cukup besar (US$ 5,59 miliar), padahal neraca nonmigas sebenarnya surplus US$ 3,93 miliar. Dan hal ini berlanjut hingga tahun 2013. Sampai dengan April, defisit transaksi berjalan sebesar US$ 1,89 miliar, migas defisit US$ 4,57 miliar, sedangkan non-migas surplus US$ 2,68 miliar.

Kalau disimak lebih jauh, neraca sektor pertanian sebagai bagian dari nonmigas surplus cukup besar yaitu sekitar US$ 23,6 miliar. Kalau dibedah lebih dalam lagi ternyata semua kelompok komoditi pertanian juga defisit, kecuali sektor perkebunan sebagai berikut :

• Tanaman pangan – US$ 6,7 miliar

• Perkebunan + US$ 33,6 miliar  (ekspor : US$ 36,9 miliar, sedangkan impor US$  3,3 miliar)

• Peternakan – US$ 2,29 miliar

• Hortikultura – US$ 1,35 miliar

Sektor perkebunan sendiri didominasi oleh industri kelapa sawit baik dalam bentuk CPO maupun produk turunannya. Lebih lengkapnya sebagai berikut :

• Kelapa Sawit : US$ 22,45 miliar

• Karet : US$ 8,39 miliar

• Kelapa : US$ 1,91 miliar

• Kopi : US$ 1,33 miliar

• Lain-lain : US$ 2,83 miliar

GapkiBogorII

Apa artinya ini semua? Sektor kelapa sawit menjadi penyumbang besar terhadap ekspor Indonesia (24% terhadap total ekspor non migas, 19% terhadap total ekspor). “Ini artinya sektor kelapa sawit telah menjadi salah satu pilar (back bone) perekonomian Indonesia yang berkelanjutan (sustainable),” jelas Joko Supriyono, Sekjen Gabungan Asosiasi Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI).

Betapa besarnya sumbangan sektor kelapa sawit terhadap perekonomian Indonesia. Ini adalah direct contribution (on farm). Banyak aspek yang bersifat indirect akibat keberadaan industri sawit, misalnya tenaga kerja sebanyak 4 juta kepala keluarga, perkebunan kelapa sawit menjadi sentra pertumbuhan ekonomi di daerah.

Di pasar global bisnis minyak nabati, yang dikuasai oleh beberapa pemain besar minyak nabati yaitu kedele dan jagung (Amerika Serikat), rapeseed dan bunga matahari (Eropa), kelapa sawit (Indonesia dan Malaysia), Indonesia menjadi penguasa pasar (13,5%). Indonesia telah menjadi produsen dan  eksporter terbesar minyak nabati.

Joko Supriyono, Sekjen GAPKI Joko Supriyono, Sekjen GAPKI

“Apakah tidak seharusnya kita mengatakan bahwa sawit adalah 'Pride of the Nation'? Apa yang salah dengan industri sawit, kok seolah-olah berkembang isu di dunia internasional bahwa sawit adalah perusak lingkungan, pembunuh orang utan, pelaku deforestasi, penyebab pemanasan global? Jawabannya adalah, karena sawit mengancam bisnis kedele dan rapeseed Amerika dan Eropa. Apalagi dengan program mandatory biofuels di Amerika dan Eropa,” Joko menegaskan.

Mengapa demikian? Menurut Joko, hal itu dikarenakan sawit mempunyai tingkat produktifitas jauh lebih tinggi dibanding kedele, rapeseed maupun bunga matahari (produktifitas kelapa sawit : 3,54 ton/ha/tahun, kedele : 0,35 ton/ha/th, rapeseed : 0,7 ton/ha/th, bunga matahari : 0,55 ton/ha/th).  Artinya produktifitas sawit 6-10 kali lebih tinggi dibanding pesaingnya. Ini berarti sawit paling efisien sehingga harganya murah.

Produksi sawit tahun 2011 (153,6 juta ton), sedangkan land use yang digunakan tahun 2011 (267,5 juta hektar). Dari data ini sangat jelas bahwa, karena produktifitas yang tinggi, perkebunan kelapa sawit juga sangat efisien dalam memanfaatkan lahan (land use change), oleh karena itu mustahil perkebunan kelapa sawit adalah pelaku utama deforestasi.

Sebagai perbandingan luas lahan berbagai perkebunan minyak nabati adalah sebagai berikut (th 2009) :

1. Kedele : 102,4 juta ha

2. Rapeseed : 59,9 juta ha

3. Bunga Matahari : 23,8 juta ha

4. Kelapa Sawit : 12,1 juta ha

Kemajuan Indonesia dan pengembangan kelapa sawit menjadi ‘ancaman’ bagi negara maju dan akan ‘mengurangi ketergantungan’ Indonesia kepada negara maju. Oleh karena itulah kampanye ‘anti kelapa sawit’ terus dilancarkan oleh berbagai LSM, khususnya LSM asing yang ‘notabene’ adalah kepanjangan tangan dari negara-negara maju dan menggunakan jaringan media global, seolah-olah menggunakan data riset dengan berbagai tema yang dijadikan alasan antara lain masalah lingkungan, kesejahteraan buruh, kesehatan, biodiversity, kerusakan hutan, hak asasi manusia, pemanasan global dan lainnya.

Bahkan di level pemerintah, negara maju mulai membuat berbagai peraturan yang sebenarnya lebih sebagai hambatan perdagangan (non tarrif barier) bagi produk Indonesia, khususnya kelapa sawit.

Melihat dan menghadapi tantangan inilah diperlukan dukungan media nasional. Kami berharap agar media nasional melihat ini secara obyektif, karena inilah salah satu industri yang keberlanjutannya tergantung bagaimana kita (pemerintah, pelaku usaha, media) melindungi dan memajukannya.

“Jangan sampai nasib industri ini tidak bedanya dengan komoditas lainnya, yang dulunya Indonesia sebagai eksportir, tapi kini berubah menjadi importir. Sebut saja ; beras, gula, rempah-rempah, dsb,” ungkap Joko dengan nada prihatin. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)