Kunci Bukalapak Memanfaatkan Disrupted Economy

Indonesia diramalkan akan menjadi surga bagi para startup company. Hal ini terlihat dari penetrasi pengguna internet sebesar 51% atau sebanyak 132,7 juta orang. Ditambah dengan frekuensi pengguna internet aktif setiap harinya yang mencapai angka 77%. Kondisi tersebut menjadi trigger bagi perkembangan digital economy di Indonesia.

Adanya pertumbuhan teknologi yang kian massif menimbulkan disrupsi di dunia bisnis dan industri, misalnya airlines dan financial services. Namun, berlangsungnya revolusi teknologi beberapa waktu belakang juga menjadi berkah bagi para pemain perusahaan digital, salah satunya Bukalapak.

Hal ini disampaikan ole Achmad Zaky, CEO sekaligus Founder Bukalapak di acara CEO Talk yang diselenggarakan oleh Iluni UI. Zaky mengatakan, Bukalapak lahir dari tren yang tengah berkembang di dunia pada tahun 2009 lalu. Kala itu Amerika mencetak banyak uang dan mengalihkannya ke bidang teknologi. “Banyak yang mengira ini akan bubble, karena banyak dana yang dimasukkan ke  teknologi yang belum jelas-jelas proven. Namun, ternyata dugaan itu meleset, timing-nya tepat,” ujar Zaky.

Dia mencontohkan Spotify dan Facebook yang kini sudah melakukan Initial Public Offering, serta Alibaba dan Tencent yang pertumbuhan bisnisnya masih tumbuh di angka 50%.”Saya merasa beruntung dari perubahan tren teknologi dan finansial global. Karena dana dan teknologinya sampai juga ke Indonesia,” ujarnya menambahkan.

Imbas dari perubahan tren global itu adalah bergesernya nilai uang yang bukan lagi menjadi competitive advantage. Kreativitas dan teknologi berubah menjadi power baru bagi perkembangan suatu bisnis di era digital economy. “Sekarang ini competitive advantage bukan lagi kapital, tapi kreativitas dan teknologi. Anak-anak muda yang memiliki ide brilian sudah banyak dipercaya untuk megembangkan suatu bisnis. Model bisnisnya pun berubah menjadi assetless,” kata Zaky.

Zaky menjelaskan, ketiadaan aset membuat Bukalapak menjadi sangat agile atau lentur. Sehingga bisa dengan cepat membuat produk baru. Dia mencontohkan ketika engineering membuat produk baru dan gagal, mereka bisa dengan cepat membuat produk lainnya dengan cost yang rendah. “Kami tidak memiliki keterbatasan fisik dan tempat. Kami ini ibarat store yang almost otomatic, tapi berjalan 24 jam d mana saja dan geraknya cepat.” Jelasnya.

Aset utama Bukalapak saat ini, diakui Zaky adalah SDM. Karena ke depan SDM akan lebih kompetitif dan menjadi satu-satunya competitive advantage dari industri. “Kami selalu meng-create dan menjaga culture di Bukalapak, agar banyak orang pintar yang mau bekerja sama kami. Komitmen Bukalapak dari awal adalah selalu investasi di hal-hal fundamental yang memiliki future bagus. Misalnya, kami saat ini sedang membuat research center di Bandung,” ujarnya menambahkan.

Selain itu, organisasi bisnis pun juga menjadi perhatian Bukalapak untuk mendukung agility dan kecepatan perusahaan dalam menciptakan produk baru. Dikatakan Zaky, perusahaan rintisannya memiliki CEO mini yang diberikan otoritas dalam mengeksekusi ide dan mengatur keuangan. “Strategi ini terbukti membuat bisnis lebih agile, karyawan pun lebih happy dan bisa empower,” ujar Zaky.

Untuk karyawan, Zaki mengaku lebih memilih pekerja lokal. Karena dianggap lebih mudah dalam berkomunikasi dan mengerti budaya kerja di perusahaan Indonesia. Namun, tidak menutup kemungkinan Bukalapak akan merekrut pekerja asing yang dianggap memiliki kemapuan yang tidak dimiliki oleh pekerja lokal, seperti ahli artificial intelligence (AI).

“Orang Indonesia lebih mengerti market. Namun kita juga perlu untuk merekrut pekerja luar untuk skill-skill yang tidak kita kuasai seperti artificial intelligence. Sampai sekarang kami sedang mencari ahli AI dari luar, karena orang Indonesia belum mengerti hal itu,” jelasnya. Zaky menilai hal lebih disebabkan oleh telah lamanya Indonesia tidak menjadi basis industri.

Untuk itu, ia menyarankan agar pemerintah bisa membuka akses dan memberikan insentif untuk para pekerja asing. Bahkan, Zaky juga mendorong R&D Google membuka kantornya di Indonesia. Hal ini ditujukan agar terjadi transfer pengetahuan dan skill antara pekerja asing dan lokal. “Tantangan terbesarnya ada di SDM, sehingga saya meng-encourage untuk Google buka kantor di sini, sehingga transfer skill itu bisa terjadi. Nanti, efeknya baru terasa 5-10 lagi, jangka panjang dan akan menguntungkan Indonesia sendiri,” ujarnya menutup penjelasan.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)