Mau Tahu Cara Garuda Menghemat Avtur?

Bahan bakar pesawat, yakni avtur, adalah modal utama dalam bisnis penerbangan. Semakin banyak pesawat, semakin banyak rute serta makin tinggi intensitas pelayanan penerbangan, otomatis biaya yang dikeluarkan semakin besar. Wajar, teknologi terbaru untuk menghemat avtur selalu diburu. Semakin kecil konsumsi bahan bakar, emisi karbon yang dihasilkan juga semakin rendah. Ini juga salah satu program andalan banyak maskapai untuk mendukung kelestarian lingkungan.

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk punya program serupa yakni Fuel Conservation Programme (FCP) yang terdiri dari 8 aspek, seperti pengelolaan air bersih (Potable Water Management) di pesawat. Semakin sedikit yang dibawa, pesawat akan lebih ringan. Sehingga, konsumsi bahan bakar juga lebih efisien. Demikian menurut Novianto Herupratomo, Direktur Operasional Garuda.

Ada juga program optimum center of gravity, yakni semakin tinggi hidung pesawat akan menimbulkan hambatan yang bisa menimbulkan pemborosan bahan bakar. Kemudian, jarak terbang juga diusahakan terus diperpendek sesuai dengan izin Air Traffic Controller. Ada juga program Optimum Flight Level, yakni semakin tinggi pesawat terbang semakin irit bahan bakar.

Direktur Operasi PT Garuda Indonesia Tbk, Novianto Herupratomo Direktur Operasi PT Garuda Indonesia Tbk,
Novianto Herupratomo

“Kami berusaha mencapai ketinggian paling optimum dalam penerbangan. Ada juga Pilot Flight Technique, yakni pedoman menerbangkan pesawat seefisien mungkin,” katanya.

Selama kurun 2007-2015, program tersebut berhasil menghemat penggunaan bahan bakar. Artinya, ada selisih antara bahan bakar yang terpakai dengan bahan bakar yang direncanakan dalam setiap penerbangan. Sepanjang tahun lalu, Garuda mampu menghemat 26 juta liter konsumsi bahan bakar. Angka itu diperoleh dari selisih penggunaan avtur (actual fuel burn) sebanyak 1,59 miliar liter dari yang direncanakan (plan trip fuel) 1,61 miliar liter.

“Persentase efisiensinya 1,6% dan bisa mengurangi emisi karbon sebesar 65 juta kg. Hasil ini lebih baik dari tahun 2014 yakni 18,3 juta liter dan mengurangi emisi karbon 45,8 juta kg,” ujarnya.

Dia menjelaskan, sukses itu juga berkat peremajaan pesawat terbang. Jika pada tahun 2010, usia rata-rata pesawat terbang Garuda adalah 8,1 tahun, pada tahun 2015 jauh lebih muda yakni 4,3 tahun. Perseroan rutin memantau tingkat keborosan mesin pesawat (Engine High Consume) melalui program aircraft performance monitoring. “Teknologi pesawat yang semakin baik dan efisien akan semakin mengurangi emisi karbon,” kata dia.

Setiap tahun, rata-rata penumpang Garuda tumbuh sekitar 15%, pendapatan naik 28%, dan jumlah armadanya meningkat 10%. Meski begitu, pertumbuhannya tidak sebesar tahun-tahun sebelumnya. Fluktuasi rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dan penurunan harga minyak mentah menjadi pertimbangan perseroan menetapkan target pertumbuhan tersebut.

Hingga Desember 2015, maskapai kebanggaan Indonesia ini mencatat laba bersih US$ 76,48 juta. Hasil ini jauh lebih baik dibanding tahun 2014 yang masih menderita rugi bersih sebesar US$ 380,04 juta. (Reportase: Aulia Dhetira)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)