Pertaruhan Mayora Pasarkan Bakmi Mewah

Di tengah sengitnya persaingan mi instan, Mayora menggebrak pasar dengan menghadirkan Bakmi Mewah sebagai kategori baru. Sang pesaing, Indomie, yang juga penguasa pasar sudah mulai beraksi untuk membendungnya. Akankah Bakmi Mewah sukses dan bertahan lama?

Percaya ga ada bakmi cepat saji yang ayamnya asli?

“Mana ada?” ujar presenter Indy Barend

“Cuma gambar” timpal artis Rafi Ahmad

Tapi sekarang ada Bakmi Mewah. Baru dan pertama di Indonesia. Dengan ayam dan jamur asli

 

Begitulah cuplikan iklan Bakmi Mewah di televisi commercial (TVC) dengan durasi yang lumayan panjang, yaitu 60 detik. Iklan ini sering nongol di berbagai TVC nasional terutama pada Februari lalu,  setelah resmi diluncurkan. Setelah  sekian lama ditayangkan, iklan Bakmi Mewah juga berubah dengan menampilkan dr Sonia Wibisono sebagai bintang iklannya. Dalam iklan terbaru ini, dr Sonia memberikan edukasi bagaimana cara menyajikan Bakmi Mewah, yaitu disajikan tanpa kuah. Selain iklan TV, saat Bakmi Mewah resmi diluncurkan, juga beriklan besar-besaran sebanyak empat halaman di Koran Kompas dan juga di 13 koran di berbagai daerah secara serentak.

Vienno Monintja, Direktur Marketing Mayora Vienno Monintja, Direktur Marketing Mayora

Jauh sebelum resmi diluncurkan  serta beriklan di TVC dan media cetak, PT Mayora Indah Tbk, selaku produsen Bakmi Mewah, sudah gencar melakukan  gerilya marketing untuk test pasar dan mencari insight dari calon pelanggannya. Seperti pada Oktober tahun lalu, pengelola Bakmi Mewah menggandeng sejumlah artis untuk mencoba dan memberikan testimoni tentang bakmi yang dibumbui daging ayam dan jamur asli. Kemudian pengalaman mereka melahap Bakmi Mewah tersebut di-share melalui media sosial. Adapun para selebritis yang digandeng Bakmi Mewah  di antaranya Raffi Ahmad, Sandra Dewi, Daniel Mananta, Ruth sahanaya, Rio Dewanto, Mike lewis, Ayu Dewi, Fenita Arie, Omesh, Indra Herlambang dan yang lainnya.

“Sebelum soft lauching Bakmi Mewah pada November 2015 ada sejumlah endorser dari kalangan selebiritis yang mencoba Bakmi Mewah. Kemudian mereka share di media sosial dan tidak boleh bohong komennya,” ujar  Vienno Monintja, Direktur Marketing Mayora.   Menurutnya gerilya marketing sebelum soft lanching dimaksudkan: Pertama, untuk mendapatkan komen yang asli (genuine comment) dari pelanggan.

Kedua,  adanya insight tentang perlunya  inovasi baru di industri mi instan. Pasalnya selama ini boleh dibilang inovasi mi instan hanya begitu-begitu saja seperti hanya soal perbedaan rasa dan perang harga.  Insight lainnya banyak produk mi yang hanya memberikan janji pada bungkusnya dengan gambar ayam tapi di dalamnya tidak ada ayamnya. “Itu sebabnya kami masuk ke blue ocean dengan menghadirkan sesuatu yang baru karena pemain  mi instan sudah banyak dan besar-besar. Dan apa yang ditampilkan di kemasan produk kami disajikan sebenanya, tidak sekedar gambar,” ujarnya.

Sejatinya rencana untuk menghadirkan Bakmi Mewah sudah digodok sejak lama oleh manajemen Mayora. Setelah produknya jadi, maka Mayora pun membuat persiapan yang matang untuk memasarkan bakmi ini sekitar 4-5 bulan sebelum November 2015. Yang ikut terlibat di dalamnya pun menyangkut banyak pihak mulai dari pemilik Mayora, tim R&D, tim sales, marketing, promosi, distribusi dan yang lainnya.

Lalu ditentukan pula daerah-daerah mana yang diprioritaskan menjadi daerah pemasaran Bakmi Mewah. Hal ini perlu dipetakan dengan jeli yang disesuaikan dengan segmentasi dari Bakmi Mewah yang menyasar segmen kelas A dan B. Akhirnya diputuskan yang disasar adalah kota-kota besar di seluruh Indonesia dan di luar pulau Jawa seperti Makassar dan Medan.

Diakui Vienno memang tidak gampang memasarkan sesuatu yang baru dalam industri yang sudah dikuasai pesaing seperti Indofood dan Wings Food . Namun bagi Mayora bukan sekali ini saja memasarkan produk-produk yang sudah dikuasai pesaing, namun produk Mayora bisa mendapat tempat di hati pelanggan. Contohnya Mayora dianggap sukses memasarkan minuman siap saji The Pucuk Harum dan air mineral Le Minerale. Demikian juga dengan Bakmi Mewah, ia yakin produk tersebut akan diterima pasar. Hal ini pun sudah mulai dirasakannya saat ini karena Bakmi Mewah direspon positif pelanggan.

“Yang penting adalah bagaimana meyakinkan para penjual, dan produknya tidak bohongan sesuai dengan yang dijanjikan. Kami juga meyakinkan para penjual  tentang dukungan Mayora untuk keseriusan produk ini,” katanya. Selain itu, pihaknya pun merumuskan sebuah strategi agar produknya bisa diterima pelanggan. Pertama, dari sisi produk, Bakmi Mewah menyasar kelas menengah atas. Bagi segmen ini ketika akan membeli produk, mereka akan berpikir apa nilai lebih yang ditawarkan. Nah, Bakmi Mewah menawarkan mi instan yang mengklaim sebagai bakmi sehat tanpa bahan pengawet, tanpa MSG, tanpa pewarna, dilengkapi  topping ayam dan jamur basah  yang asli, serta kemasan produk yang menarik dan elegan.

“Ya ini inovasi yang menarik di tengah industri mi instan yang masih status quo dan kering dengan inovasi. Sementara faktanya adalah banyak konsumen yang juga mengonsumsi jenis mi noninstan seperti mi ayam jalanan sampai yang premium. Jadi market demand- nya sudah ada namun belum terlayani dengan produk yang ada,” ujar Sumardy, pengamat pemasar menganlisis.

 

Dengan sejumlah nilai lebih yang ditawarkan Bakmi Mewah, tak heran kalau bakmi premium ini dipasarkan di atas Rp 5000 per satu bungkus. “Rata-rata ketegori mi yang harganya di atas Rp 5000 banyak yang tidak bertahan lama karena tidak ada inovasi dan tidak ada perbedaan yang nyata dengan mi instan yang sudah ada. Rata-rata harga mi Rp 2000-3000,” ujar Vienno.

Kalau melihat pasarnya, sejatinya pasar segmen kelas A dan B, potensinya cukup besar. Vienno menghitung penduduk Indonesia sebanyak 240 juta jiwa dan diperkirakan masyarakat yang masuk kelas A dan B ada sekitar 20 persennya atau sekitar 48 juta penduduk.  Tak hanya itu market size bisnis mi instan di negeri ini sangatlah besar dan dari tahun ke tahun terus meningkat. Nielsen mencatat market size mi instan pada 2015 mencapai Rp 32,9 triliun. Sedangkan di 2014 sebesar Rp 29,4 triliun dan di 2013 sebesar Rp 25,3 triliun. Inilah yang membuat manajemen Mayora optimistis kalau Bakmi Mewah bakal sustainable diterima pasar saat ini dan ke depan.

Bakmi Mewah Bakmi Mewah

Gencar Berpromosi  Menyerbu Pasar

Vienno pun sangat menyakini kekuatan promosi. Itu sebabnya promosi Bakmi Mewah sangatlah gencar, terutama di TVC. Kemudian di media cetak, radio melalui promosi oleh para penyiarnya atau artis yang sudah mencoba Bakmi Mewah. Lalu melalui media digital dengan membuat website khusus www.bakmimewah.com, serta media social seperti Twitter, Facebook, dan Instagram. Belum lagi berbagai iklan yang dibuat para e-commerce yang memasarkan dan menjual Bakmi Mewah seperti Blibli.com. Baca Selanjutnya ... >

Pages: 1 2 3

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)