Proteksi Keluarga Lengkap dengan Asuransi JSK Jagadiri

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar tahun 2013,  mayoritas masyarakat masih merogoh kantong pribadi untuk membayar biaya pengobatan baik rawat jalan maupun rawat inap. Itu artinya, potensi pasar perusahaan asuransi kesehatan sangat besar untuk menggarap ceruk pasar yang legit tersebut. Apalagi, potensi pasarnya masih terbuka lebar. Maklum penetrasi pasar asuransi di Indonesia berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan per September 2015, asuransi konvensional baru mencapai 2,51 % dengan densitas sebesar Rp 1,1 juta.

ssociate Director Operation PT CAF Dr. Dessy Kusumayati, CEO PT CAF Reginald J. Hamdani, dan VP - Strategic Marketing Division PT CAF Priska Sari Kurniawan. (Ki-ka) Associate Director Operation PT CAF Dr. Dessy Kusumayati, CEO PT CAF Reginald J. Hamdani, dan VP - Strategic Marketing Division PT CAF Priska Sari Kurniawan. (Foto by Eva SWA)

Sementara itu, jenis penyakit yang sering dialami anak sebagaimana dituturkan oleh Dr. Dessy Kusumayati, Associate Director Operation PT Central Asia Financial adalah infeksi saluran pernafasan atas (ISPA), diare, demam dengue, thypoid, infeksi saluran pernafasan bawah (ISPB).

Dari mana sumber pembiayaan pasien saat berobat? Masih hasil kajian Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 untuk rawat jalan, biasanya sumber pembiayaan berasal dari out of pocket (67,9%); jaminan kesehatan pemerintah meliputi Jamkesmas, Jamkesda, Jamsostek, Askes/ASABRI (25,2%), lainnya (3,3%); tunjangan perusahaan (1,8%); lebih dari 1 sumber (1,1%) dan asuransi swasta hanya 0,7%. Sedangkan, untuk rawat inap, sumber biaya yang dipakai pada semua fasilitas kesehatan di Indonesia masih didominasi oleh biaya sendiri (out of pocket), yaitu sekitar 53,5 persen.

Berangkat dari fakta masih tingginya biaya yang ditanggung oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan kesehatan, maka Asuransi JAGADIRI membuat terobosan baru. Pelopor asuransi e-commerce di Indonesia itu merancang khusus produk asuransi kesehatan keluarga dengan nama produk Jaga Sehat Keluarga (JSK) yang diluncurkan pada April 2016.

Fakta tersebut juga diperkuat dengan hasil survei internal Jagadiri dan eksternal dari berbagai institusi. Sikap yang dilakukan Jagadiri ini patut diacungi jempol. Pasalnya, kebanyakan perusahaan asuransi meluncurkan produk ke pasar tanpa melalui hasil survei terlebih dahulu. Pasar dibombardir aneka produk asuransi yang belum tentu sesuai kebutuhan konsumen.

Sebaliknya, Jagadiri bersikap anomali dan tidak mengikuti arus pasar konservatif dengan melakukan survei untuk membaca kebutuhan masyarakat akan produk asuransi kesehatan keluarga itu seperti apa. “Kami melakukan survei internal dengan interview ke kastemer yang dilakukan oleh Customer Service Jagadiri. Untuk survei eksternal, berasal dari riset statistik BPS atau lembaga lain,” jelas Reginald J. Hamdani, CEO PT Central Asia Financial, perusahaan pemilik merek dagang Asuransi Jagadiri.

Dari hasil survei itulah kemudian lahir sekitar 8 produk asuransi Jagadiri sesuai kebutuhan konsumen. Rinciannya 7 asuransi individu dan 1 asuransi keluarga. Dan asuransi Jaga Sehat Keluarga adalah produk terbaru yang dilempar ke pasar. Beberapa produk lain yang jadi andalan adalah Jaga Sehat Plus, Jaga Aman Instan, Jaga Jiwa Plus, Jaga Aman Plus, Jaga Aman, Jaga Jiwa, Jaga Sehat DBD.

Menurut Reginald, kahadiran asuransi Jagadiri mencoba untuk menggali apa sebetulnya yang menjadi titik kekecewaan atau persepsi masyarakat kalau kita bicara mengenai asuransi. Temuannya, stigma negatif asuransi di mata masyarakat, yaitu asuransi identik dengan klaim susah, premi mahal, dan proses ribet.masyarakat seringkali dirasakan ketika pembayaran premi dilakukan tanpa terasanya manfaat oleh nasabah. (EVA)

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)