Rekomendasi Accenture untuk Operator Pelabuhan

photo(2)Industri pelabuhan di Indonesia masih memiliki potensi untuk terus berkembang. Namun, perkembangan tersebut mengalami benturan-benturan yang menyulitkan operator untuk mengembangkan industrinya. Indonesia sebagai negara kepulauan dinilai telah mapan dalam industri pelabuhan ternyata masih belum bisa menandingi negara tetangga, Singapura dan Malaysia yang merupakan pemimpin di kawasan.

Salah satu yang menjadikan industri pelabuhan Indonesia belum maju antara lain soal kondisi infrastruktur logistik yang masih tertinggal dari negara kawasan di Asia Tenggara. Indonesia berada pada peringkat 85, paling rendah di antara negara-negara Asia Tenggara, seperti Malaysia yang berada di peringkat 27 dan Filiphina peringkat 62. Hal ini merupakan kekhawatiran tersendiri meskipun berarti masih banyak potensi perbaikan sehingga ke depan dapat lebih optimal.

Accenture, sebuah perusahaan konsultan manajemen, teknologi serta outsourcing/business service mengidentifikasi lima tren kunci yang dapat membantu operator pelabuhan untuk berinovasi. Kelima hal yang menjadi kunci tersebut adalah dinamika rantai persediaan, dampak automisasi, ketidakstabilan ekonomi, kurangnya SDM dan imobilitas serta pengurangan waktu untuk maksimalisasi profit.

Accenture setidaknya merekomendasikan lima hal yang perlu diperhatikan operator pelabuhan agar memiliki performa yang tinggi. Pertama, operator pelabuhan harus dapat memosisikan diri secara strategis dalam rantai logistik yang holistik dengan lebih berorientasi konsumen, mereka harus memahami bahwa ruang lingkup mereka harus meluas sehingga dapat melayani direct consumers maupun end customer. Kedua, penting bagi operator pelabuhan untuk memanfaatkan automatisasi yang semakin berkembang sehingga mampu menghasilkan produktivitas yang tinggi. Ketiga, ketidakstabilan ekonomi perlu dihadapi perusahaan dengan menjadikan lebih responsif secara operasional. Keempat, perlunya proses standardisasi melalui IT dalam menghadapi kurangnya masalah SDM . Kelima, operator pelabuhan membutuhkan sebuah model bisnis yang ringkas dan dapat diukur.

Julianto Sidarto, Managing Director – ASEAN Business Process Services Accenture, mengatakan, “Indonesia saat ini masih underperforming karena infrastruktur yang buruk. Jika kapasitas pelabuhan bisa diupgrade, sehingga naik pesat atau setidaknya sama efisiennya dengan negara lain, Indonesia punya keuntungan banyak karena mereka akan lewat sini. Kalau tidak segera dibenahi, kita akan dilewati begitu saja. Agar peluang-peluang tersebut dapat dicapai, sebagai pelabuhan harus bisa menjadikan jasa end to end sehingga bisa menjadi pilihan.” Sementara itu, Sooho Choi, Managing Director – Products Operating Group Accenture mengatakan, berlabuhnya kapal-kapal perdagangan di sebuah negara merupakan sebuah pilihan. “Harus efisien, efektif, kompetitif dan reliable,” tambahnya.

Tantangan dalam pengembangan industri ini tidak sekedar masalah pelabuhan, tetapi juga apakah supply chain yang ada efektif. “Infrastruktur menjadi persoalan yang mendasar, tetapi bukan hanya itu. Teknologi yang bisa optimalkan proses juga perlu diperhatikan. Software itu hanya barang, talent dan organisation perlu juga dikembangkan sehingga bisa menangani proses dan teknologi yang berbeda. Ada banyak hal yang bisa dibangun agar mata rantai jalan, sehingga bisa berkompetisi dengan yang lain.” pungkas Julianto Sidarto.

Dari serangkaian riset yang telah dilakukan dan pengalamannya bertahun-tahun, Accenture siap membantu operator pelabuhan agar meningkatkan performanya. Saat ini, operator pelabuhan yang menjadi klien Accenture di antaranya satu operator pelabuhan di Indonesia, Singapura dan beberapa operator pelabuhan di China. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)