Resep Sukses Bisnis Kafe Modern

Sekarang bukan zamannya lagi kelas menengah minum kopi di warung kaki lima. Terutama di kota metropolis seperti Jakarta, penikmat kopi pada umumnya baru puas jika minum di kafe. Tak heran, rupa-rupa gerai kopi menjamur dalam tiga tahun terakhir, termasuk Kopitiam dan sejumlah kafe waralaba lainnya.

Kecenderungan ini dibenarkan oleh Direktur PT Harvest Coffee Forenity (HCF), Franky Angkawijaya. “Tren tahun 2012 lalu adalah gerai kopi modern yang menyeduh espresso, cappuccino, latté menggunakan mesin. Minat pebisnis kafe untuk paham cara penggunaan mesin kopi pun makin luas,” katanya bercerita pada SWA online (5/2).

Memasuki bulan ke-2 tahun 2013, tren bisnis kafe bisa jadi agak suram. Biaya listrik mulai naik, padahal mesin kopi yang harganya berkisar Rp 80 jutaan itu bisa menyedot 9.000-11.500 watt. Sementara itu, kafe yang menggunakan kopi impor bakal agak susah payah berhadapan dengan kurs dolar yang naik turun. “Apalagi kondisi ekonomi luar negeri belum bagus,” kata pengusaha yang sudah bergelut dengan kopi sejak 1997 itu.

Direktur PT Harvest Coffee Forenity, Franky Angkawijaya

Tapi seakan tak kenal takut, pemain baru masih saja bermunculan. Bukan hanya yang sudah menguasai keterampilan barista, yang tak mengerti cara mengoperasikan mesin kopi pun ingin membuka kafe sendiri. Lalu supaya kafe baru bisa sukses, apa yang mesti dilakukan?

Untuk sekadar bertahan, yang penting kafe menyajikan kopi enak, memberi pelayanan, dan menampilkan dekorasi cantik. Lebih dari itu, kafe yang berhasil harus bisa mengakomodasi kebutuhan banyak orang,” papar Franky. Lebih rinci, bukan hanya rasa dan layanan yang memuaskan, bahkan ambience dan tempat parkir kafe pun harus menarik orang masuk. Konsumen kelas menengah pun tak keberatan menomorduakan harga.

Di masa depan, bisnis kafe punya potensi untuk berkembang jangka panjang sebab konsumen mulai serius menanggapi trend kopi. “Kopi tidak dianggap minuman bapak-bapak lagi, tetapi diburu cita rasanya. Maka selain menjaga mutu dan konsistensi, kafe punya peran mengedukasi, bagaimana sebenarnya kopi yang enak,” ungkap Direktur Monolog Quality Coffee Co., Evie Karsoho.

Menurut Evie, kopi yang ditanam di negeri sendiri bisa jadi solusi menghadapi sulitnya impor. Kopi Gayo dan Sumbawa, misalnya, sudah punya reputasi di kalangan penggemar kopi. “Wilayah tanam yang berbeda menghasilkan ciri kopi yang berbeda. Pelanggan jadi punya pilihan,” tambahnya sambil membanggakan Indonesia sebagai produsen kopi terbesar di dunia. Lewat proses roasting dan blending yang pas, kopi dalam negeri tentu akan menyokong keberlanjutan bisnis-bisnis kafe modern, baik yang baru muncul maupun yang sudah lama. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)