Rudiantara Bicara Pentingnya Infrastruktur Digital Bagi Pendidikan Indonesia

Rudiantara, Menteri Komunikasi dan Informatika RI (Dok. SWA)

Pendidikan merupakan nyawa sebuah bangsa; makin cerdas manusianya, makin maju negaranya. Sektor pendidikan tidak hanya bisa didorong oleh Kementerian Pendidikan saja, tapi juga didukung oleh Kementerian lain yang hasil kerjanya dinilai bisa mendukung ekosistem pembelajaran. Salah satunya adalah Kementerian Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) melalui pembangunan infrastruktur digital.

Rudiantara, Menteri Kominfo RI, menyatakan, Kominfo sudah beralih peran dari sebagai regulator ke fasilitator hal-hal yang tidak bisa dilakukan operator. Lebih daripada itu, juga mengakselerasi pertumbuhan teknologi yang eksponensial negatif. “Salah satunya kami melakukan penyederhanaan izin. Jenis izin awalnya ada 36 jenis, sekarang tinggal 5 jenis. Karena makin banyak jenis izin, makin banyak prosesnya, makin banyak yang harus dikerjakan. Cara melayaninya pun, seperti izin prinsip, same day service. Hari yang sama harus sudah keluar izin. Harus dipermudah semua,” ungkapnya pada acara Forum FORTI BUMN 2018 di Jakarta (19/12/2018).

Dalam konteks fasilitas, salah satu yang menjadi isu di sektor komunikasi dan informatika adalah jaringan, misalnya di Kepulauan Natuna. Operator mengatakan bahwa untuk membangun jaringan di sana mahal, tapi wilayah Natuna  berada Indonesia ke laut di utara yang perlu dikembangkan. Maka dari itu, akhirnya Kominfo memfasilitasi infrastruktur di sana dengan melengkapi yang sudah dibuat oleh operator.

Targetnya, tahun 2019 semua kabupaten dan kota di Indonesia sudah terhubung dengan jaringan broadband. Bila fasilitas ini sudah selesai, perusahaan tidak akan kesulitan untuk membuka proses bisnis terkait teknologi di daerah-daerah.

Rudiantara menambahkan, “Di Indonesia Barat sudah beroperasi sejak April. Indonesia Tengah tahap akhir. Indonesia Timur sudah 85 persen dan kuartal I 2019 diharapkan selesai. Pada kuartal II sudah diintegrasikan. Contoh di Papua saja kami bangun di 41 kabupaten. Pemerintah tidak melihat visible atau tidak seperti operator, tapi viability. Kami bangun BTS akses internet, dan sebagainya di daerah perbatasan.”

Menurut Rudiantara, pendidikan Indonesia masih berbasis hapalan. Padahal, idealnya anak-anak diajak untuk memiliki pemikiran kreatif dan kritis. Salah satu caranya adalah menggunakan internet. Namun nyatanya, dari 214 ribu sekolah di Indonesia, ada 80 ribu sekolah yang belum terhubung dengan internet. “Yang terhubung pun dipakainya di UNBK, dipakai di ujung. Kita seharusnya menggunakan internet dalam proses belajar mengajar. Saya diskusi dengan Mendikbud bahwa anak sekolah harus dikasih soal dan kasus. Biarkan mereka berdebat, diskusi, dan mencari referensi, salah satunya melalui internet.” Ke depan, ia berencana untuk menghubungkan sekolah-sekolah tersebut melalui internet.

Dalam kesempatan yang sama, Rudiantara juga menyoroti proses bisnis rumah sakit di Indonesia yang terlalu banyak berfokus pada administrasi. Seharusnya, rumah sakit menyiapkan dokter yang menunggu di depan dengan medical record, sehingga bisa langsung menangani pasien, alih-alin menanyai pasien dengan beragam proses administrasi.

Menkominfo menyampaikan, Indonesia memiliki 75 ribu desa dan 20 ribu di antaranya belum terhubung intenet. “Kita pastikan semua terhubung. Kalau dengan kabel sulit, tapi kita gunakan satelit. Bukan satelit komunikasi, tapi high throughoutput. Mengapa? Karena kami menghitung untuk untuk deliver satu megabit data menggunakan high throughoutput satellite, biayanya hanya sekitar 13-15 persen dari eksisting cost kalau menggunakan communication satellite.”

Adapun target penyelesaian proyek satelit ini adalah pada akhir 2022. Kendati begitu, Rudiantara merasa bahwa tahun  2022 terlalu lama, sehingga ia akan menyewa satelit sejenis terlabih dahulu pada 2020.

 

Didik Anak Bangsa Menjadi Tenaga Kerja Berkualitas di Era Digital

Rudiantara juga menyinggung tentang pendidikan tenaga kerja. Dalam dunia digital, tenaga kerja menjadi permasalahan para global tech company. Jadi, mereka menrekrut pegawai dari luar Indonesia. “Namun, hal itu membuat industri di Indonesia mahal dan juga membuat cemburu orang Indonesia. Banyak anak Indonesia yang potensial tapi kapasitasnya saja yang belum ditingkatkan.”

Melalui program Digital Talent Scholarship, Kominfo berusaha mendidik anak bangsa untuk menjadi talent yang berkualitas bagi para perusahaan digital. Rencananya, tahun depan program ini akan mendidik 20 ribu anak bangsa untuk level teknisi. “Mereka boleh lulusan SMK TI, Diiploma, S1, yang penting lulus tes online,"ujar Menteri Rudiantara.

Mereka akan mempelajari materi yang berkaitan dengan industri revolusi 4.0 dan akan fokus belajar pada bidangnya masing-masing, misalnya AI, Cloud, dan lain-lain selama 2 bulan. Setelah itu, diharapkan mereka bisa melakukan kolaborasi, masing-masing berkontribusi di bidangnya. “Silabusnya kami minta dari big tech comp. Tempat belajarnya di universitas. Pengajar dosen yang kami tes dulu. Nanti 20 ribu anak itu bisa bekerja di perusahaan-perusahaan,” jelas Rudiantara.

Visi pemerintah ke depan adalah untuk mengekspor tenaga kerja di bidang digital ke luar negeri. “Jangan orang asing masuk ke sini. Karena kita pasti menang, kita ada bonus demografi,” tuturnya bersemangat.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)