Seperti Ini Cara Faber Castell Dorong Anak Menggambar Konvensional

Keberadaan dunia digital semakin mempermudah manusia dalam melakukan berbagai hal. Namun kemudahan tersebut justru mengurangi berbagai elemen penting yang terkandung di dalam proses penciptaan karya seni. Yandramin Halim, Managing Director Faber-Castell, mencontohkan bagaimana proses menggambar berhubungan dengan kepercayaan diri seseorang. Menggambar dengan pensil dan kertas membuat anak-anak semakin kreatif, di saat gambar mereka tak sesuai dengan yang diharapkan, mereka justru terpacu untuk membuat gambar tersebut menjadi lebih baik.

Yandramin Halim, Managing Director Faber-Castell (kiri) Yandramin Halim, Managing Director Faber-Castell (kiri)

Berbeda dengan menggambar menggunakan tablet, hanya dengan satu tombol, gambar yang tidak disukai bisa hilang. "Hal ini merupakan salah satu proses kepercayaan diri terutama kepada anak. Mereka jadi belajar bagaimana mengubah suatu kesalahan menjadi sesuatu yang positif."

Tradisi menggambar menggunakan alat tulis konvensional semakin ditinggalkan seiring dengan tingginya penggunaan gadget. Meskipun begitu, masih banyak anak-anak yang ternyata menikmati menggambar menggunakan alat konvesional seperti pensil dan kertas.

Hal ini terlihat dari tingginya antusiasme anak-anak dalam lomba menggambar yang diadakan Faber-Castell. Ada 62.000 peserta dari 93 kota yang dipilih menjadi 12 orang pemenang. Nantinya para pemenang akan mendapatkan hadiah jalan-jalan ke Jerman dan berkunjung ke kantor pusat Faber Castell.

Selain lomba menggambar, ada juga lomba membuat komik dan membuat cerpen. Menurut Yandramin, proses kreatif tidak hanya berlaku untuk anak-anak saja. Saat ini, orang tua dan remaja pun masih memiliki minat yang tinggi terhadap proses kreatif menggunakan peralatan tradisional.

Hal ini terbukti dari tingginya minat orang tua yang ikut dalam lomba craft khusus untuk keluarga. Selain itu, setiap workshop mengambar, membuat komik, dan cerpen selalu dipadati masyarakat. Workshop juga tidak hanya ditunjukan kepada anak-anak tetapi juga guru dan mahasiswa perguruan tinggi.

Ia berharap para guru yang ikut workshop mau membagikan ilmunya kepada para anak didiknya. Di kurikulum pendidikan sekolah, pendidikan seni mulai tergerus keberadaanya. Kebanyakan anak-anak diwajibkan hanya belajar akademi saja. Padahal pendidikan seni memiliki pengaruh yang besar terhadap  psikologis dan proses berpikir anak.

Anak-anak yang serius terhadap seni juga diharapkan mampu menghasilkan karya yang berdaya jual tinggi. Saat harga komoditi melemah, industri kreatif justru diharapkan mampu memberikan nafas baru bagi perekonomian Indonesia.

Di saat persaingan mulai sulit, produk yang memiliki daya jual tinggi justru merupakan barang-barang yang dibuat dengan nilai seni yang tinggi pula. Biasanya barang-barang ini dibuat secara eksklusif dengan tangan dan tidak dibuat secara masal seperti produk industri.

Bagi Yandramin, tren barang-barang handmade ini, justru sedang populer di luar negri.  Ia mencontohkan bagaimana Korea yang masih menjaga pasar tradisonal yang khusus menjual barang buatan tangan. “Di saat seperti ini semua orang bisa membuat apa saja. Namun  sentuhan kreativitas akan memberikan suatu keunikan yang tidak dimiliki barang lain, sehingga bisa memberikan nilai jual yang tinggi," ujarnya. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)