Sinergi Unilever dan ITB dalam Pengembangan Packaging Produk

Kemasan menjadi media komunikasi pertama antara konsumen dan produk. Saat ini kemasan yang memiliki nilai estitka diminati masyarakat sehingga produk, kini tidak dinilai dari isinya saja. Pergeseran ini, dipahami Endang Saraswati, R&D Director Skin Cleansing –Oral Care SEAA Unilever, sebagai celah brand untuk semakin dikenali konsumen.

Endang Saraswati, R&D Director Skin Cleansing –Oral Care SEAA Unilever (kanan) Endang Saraswati, R&D Director Skin Cleansing –Oral Care SEAA Unilever (kanan)

Ada dua hal penting yang harus diperhatikan dalam bidang pengemasan,  pertama, melindungi isi dan kedua, memiliki nilai estetika. Pertimbangan kedua ini menjadi tren beberapa tahun belakangan dan membuat berbagai pemilik brand semakin kreatif dalam pengemasan.

Packaging skin care misalnya, untuk kalangan menengah ke atas biasanya menggunakan bahan kaca yang memberikan kesan tampilan mewah.  Sayangnya di Indonesia belum ada sekolah yang khusus pengemasan, sehingga talenta muda di bidang ini masih sedikit.

“Kami biasanya mendevelop sendiri untuk orang-orang di bidang pengemasan. Hal ini karena belum ada sekolah khusus yang mengembangkan potensi ini di Indonesia,” jelas Endang. Oleh karena itu, kebutuhan ahli di bidang ini masih sangat diperlukan.

Salah satu sekolah yang mulai berkonsentrasi pada bidang ini adalah Institut Teknologi Bandung (ITB). Menurut Dr Miming Miharja, Wakil Rektor Institut Teknologi Bandung, teknik pengemasan sudah mulai menjadi perhatian sejak tahun 2004. Bentuk perhatian ini  dengan memasukkan teknik pengemasan pada beberapa mata kuliah di berbagai fakultas.

Misalnya desain kemasan yang berada di bawah Fakultas Desain, lalu pengembangan kemasan di Teknik Kimia dan Farmasi. Melihat adanya kesamaan visi di bidang pengemasan, Unilver dan ITB melakukan kolaborasi yang dimulai dengan penandatanganan Memorandom of Undestanding (MoU) di bulan September 2016.

Dari tahun yang sama hingga 2017 Unilver dan ITB mempersiapkan kurikulum dan program pengajaran. Harapannya di tahun 2018 seluruh kurikulum terkait teknologi pengemasan akan siap dijalankan. Di tahap awal, tahun 2016 Unilever memberikan edukasi terkait pengemasan yang sesuai dengan kurikulum Teknologi Pengemasan yang sudah ada di berbagai fakultas ITB.

Selain itu, mahasiswa ITB juga diberikan kesempatan magang untuk bagian yang terkait dengan teknologi pengemasan produk. Menurut Endang, ilmu packaging perlu dipopulerkan terlebih dahulu sehingga mahasiswa mengenal dan tertarik untuk mendalami ilmu tersebut. Dari sana, Unilever akan melakukan evaluasi dari berbagai program yang dijalankan agar program yang ada bisa terus dikembangkan.

Untuk tahap magang, ia belum bisa memastikan jumlah mahasiswa yang akan ikut program tersebut. Namun kuantitasnya akan sebanding dengan jumlah tenaga ahli pengemasan yang ada di Unilever. Ia, optimistis bahwa mahasiswa dan perusahaan yang masuk ke Indonesia di tahun 1993 ini bisa saling bertukar pikiran.

Hal ini karena hampir semua kemasan produk Unilver yang dipasarkan di Indonesia diproduksi di negara yang sama. Hanya 3% dari total bisnis pengemasan yang diimpor. “Kami bukan perusahaan yang bergerak di bidang pengemasan. Namun, sebagai perusahaan consumer goods kami memiliki hubungan dan akses ke bidang pengemasan, sehingga kami bisa memfasilitasi mahasiswa yang ingin mendalami bidang ini,” jelas Endang.(EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)