Strategi BPJS Ketenagakerjaan Dorong Organisasi Agile dan Resilience

Pandemi Covid-19 membuat banyak bisnis dan proses kerja di organisasi perlu menyesuaikan diri dengan kondisi dan situasi yang ada. Untuk mengikuti keadaan, organisasi perlu lebih agile dan digital sehingga dapat membantu perusahaan menciptakan inovasi agar bisnis tetap bisa berkelanjutan di masa yang tidak pasti ini.

Untuk menciptakan budaya agile working, BPJS Ketenagakerjaan (BPJamsostek) telah menyusun Human Capital Roadmap selama 5 tahun ke depan. Di 2021, perusahaan fokus memperkuat talenta melalui digitalization of employee services, talent management and learning organization improvement, serta memperbanyak jumlah subject matter expert (SME).

"Agilitas harus didukung oleh budaya berbagi informasi, ilmu pengetahuan, dan inovasi. Karyawan juga biasanya menginginkan work life balance baik secara fisik, mental, maupun spiritual," ujar Abdur Rahman Irsyadi, Direktur Umum dan SDM BPJS Ketenagakerjaan dalam Webinar HR Excellence 2021 yang diselenggarakan oleh Majalah SWA pada sesi pertama dengan mengangkat topik Leading HR Transformation Towards Agile Organization.

Di dalam agility of resilience culture, kata dia, organisasi menciptakan lingkungan kerja yang sehat dengan membuat suasana kerja yang menyenangkan sehingga produktivitas tetap terjaga walaupun terjadi perubahan yang tidak bisa dihindarkan (Covid-19).

Oleh karena itu, perusahaan melakukan berbagai inovasi agar secara terus menerus budaya agile ini terbentuk di dalam diri karyawan. Di antaranya Human Capital Podcast yakni bincang-bincang inspiratif oleh pemimpin maupun karyawan berprestasi; Insanova adalah festival inovasi individu/grup karyawan untuk meningkatkan kreativitas, inovasi, dan menjawab tantangan perubahan; Best Culture & Service Award merupakan penghargaan kepada unit kerja yang bisa mengimplementasikan nilai budaya dan meningkatkan produktivitas; Sertifikasi K3 merupakan sertifikasi 96 karyawan menjadi agen K3; serta Comic Strips.

Untuk melindungi karyawan, perusahaan membentuk Crisis Management Team Khusus Covid-19 untuk mendukung protokol new normal. Ada beberapa kegiatan yang dilakukan seperti pengaturan Work From Home (WFH) dan Work at Office (WAO) karyawan, pelayanan tanpa kontak fisik, serta vaksinasi karyawan TKAD. "Organisasi yang agile membutuhkan kesehatan karyawan yang prima," tambahnya.

Tak hanya kesehatan fisik, perusahaan juga fokus pada kesehatan mental karyawan dengan memberikan pendampingan melalui Employee Assistance Program dalam bentuk coaching, counselling, dan sharing session. Ini dilakukan untuk mengoptimalkan potensi dan kompetensi yang dimiliki karyawan.

Berbicara learning agility, digital dan distance learning menjadi suatu keharusan bagi semua insan BPJamsostek. Perusahaan mengembangkan Digital Library (Dila) di mana semua karyawan diwajibkan untuk membaca buku yang telah ditentukan berdasarkan gap kompetensinya.

"Setiap karyawan minimal harus membaca 6 buku dalam satu tahun dan ini masuk ke dalam KPI karyawan. Kami juga menggunakan learning management system yang didalamnya ada e-learning. Semua ini dilakukan untuk meningkatkan percepatan pemecahan masalah operasional," jelas Ari.

Saat ini, BPJamsostek memiliki 11 kantor wilayah dan 325 kantor cabang dengan total karyawan sebanyak 5.952 per Juli 2021. Kelompok milenial mendominasi sebanyak 75% dari total populasi. Perusahaan pun menargetkan dalam jangka waktu 5-7 tahun mendatang, milenial akan memegang estafet kepemimpinan. "Dominasi generasi milenial yang melek teknologi menjadi aset penting dalam dunia digital karena lebih mudah beradaptasi saat perubahan terjadi," tuturnya.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)