Strategi Kolaborasi JFW 2017 Untuk Memperkenalkan Label Lokal

Pesatnya perkembangan bisnis desainer nasional mampu menarik dunia internasional untuk melakukan kolaborasi dengan desainer dan label lokal. “Kolaborasi semakin meluas terutama di ranah Asia Pasifik, dengan berbagai organisasi dan institusi di dunia,” jelas Lenni Tedja, Direktur Jakarta Fashion Week.

 Designers Michelle Tjokrosaputro of Bateeq and Suzuki Takayuki walk the runway of Japan Fashion Week in Jakarta featuring Spring Summer 2016 collection during the Jakarta Fashion Week 2016 in Senayan City, Jakarta.

Pada tanggal 22-28 Oktober 2016, akan ada beberapa kolaborasi yang dilakukan desainer atau label lokal yang tergabung dalam acara Jakarta Fashion Week (JFW) 2017 bersama organisasi dan pusat kebudayaan internasional. Beberapa di antaranya adalah British Council, Council of Fashion Designers Korea, Korea Creative Content Agency, Korea Cultural Center, dan Amazon Tokyo Fashion Week. Selain itu negara-negara lain seperti Swedia, Thailand, dan Australia juga akan ikut berkolaborasi dengan desainer atau brand fesyen lokal.

Kolaborasi yang terjadi merupakan hasil kerja sama antara pemerintah Indonesia dengan pemerintah negara-negara tersebut. Kerja sama dengan Korea Cultural Center misalnya, menjadi agenda tahunan yang dilaksanakan kedua negara setiap setahun sekali dalam rangka mempromosikan kebudayaan dan industri mode masing-masing negara.

Menurut Lenni, pada tahun ini, kolaborasi didominasi oleh culture center seperti British Council dan Korea Cultural Center. Konten yang dibawa merupan perpaduan kultur antara negara-negara tersebut dengan kultur Indonesia. Salah satu contohnya adalah desain koleksi terbaru label I.Y.Y.K yang terinsipirasi dari baju tradisional wanita Korea yaitu Hanbok.

Anandia Putri, Founder dan Creative Director I.K.Y.K, menambahkan, koleksi terbaru tersebut merupakan hasil kolaborasi dengan brand fesyen Korea yaitu Twee x Hwangsung Park. Koleksi ini akan ditampilkan di hari terakhir perhelatan JFW 2017 pada tanggal 28 Oktober 2016 di Fashion Tnet, Mal Senayan City.

Sinergi ini menjadi salah satu upaya perancang busana dan label lokal dalam menembus pasar internasional. “Label Bateeq ingin menembus luar negeri, oleh karena itu kami selalu aktif di JFW. Dalam 2 tahun terakhir di JFW kami juga berkerja sama dengan Suzuki Takayuki karena ia memiliki exposure yang besar di luar,” jelas Michelle Tjokrosaputro, CEO & Creative Director Bateeq. Ia mengaku, banyak hal yang bisa dipelajari dari kolaborasi tersebut. Tidak hanya mengenai teknik, motif, dan cara pemilihan kain, tapi juga belajar bagaimana melakukan kampanye, mendesain produk, serta brand. Untuk kolaborasi ini pun, ia tak ingin setengah-setengah.

Motif-motif batik, diperoleh dari koleksi PT Dan Liris yang merupakan sister company dari PT Efrata Retailindo yang menaungi brand Bateeq. Sebagai perusahaan tekstil, Dan Liris juga memproduksi benang dan kain khusus untuk kolaborasi tersebut.

Selain itu, dua desainer muda asal Inggris yaitu Billie Jacobina dan Rosella May akan bekerja sama dengan label Lekat dan Soe. Sementara label Toton akan bersinergi dengan desainer Korea Lie Sang Bong. Semua kolaborasi tersebut akan hadir setiap hari di acara JFW di Fashion Tent, Mal Senayan City mulai dari tanggal 22 hingga 28 Oktober 2016.

Pagelaran tahunan ini diikuti oleh 200 desainer lokal dan 12 desainer internasional yang beberapa di antaranya melakukan kolaborasi dengan desainer lokal. Dengan 70 show yang dijadwalkan, Lenni menargetkan 35.000 pengunjung dalam waktu 7 hari.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)