TIKI Menggurita Dengan Layanan Terbaik

Layanan jasa pengiriman tumbuh pesat beberapa tahun belakangan. Salah satu pemicunya adalah bisnis jual-beli online yang kian marak seiring tingginya penggunaan ponsel pintar (smartphone) di Indonesia.

(foto: istimewa) (foto: istimewa)

PT  Citra Van Titipan Kilat (TIKI) mengawali bisnisnya tahun 1970 di Jakarta. Sadar kalau punya kompetitor yahud semacam PT Pos Indonesia, TIKI tak boleh main-main. Kepercayaan pelanggan adalah nafas perusahaan.

Manajer Marketing & Outlet Development  TIKI, Zulkarnaen Sumarta menuturkan ada tiga titik penting yang menjadi perhatian, yaitu sales counter, customer service, dan marketing.
Evaluasi kepuasan pelanggan secara rutin digelar untuk menjaga keberlangsungan bisnis perseroan. Keluhan pelanggan, mulai dari barang terlambat datang sampai hilang, semuanya dilayani dengan baik.

“Pengiriman yang hilang akan diganti 10 kali lipat dari biaya pengiriman untuk layanan domestik, dan maksimal kompensasi internasional adalah USD 100. Untuk pengiriman yang diasuransikan, setiap pengiriman yang hilang/rusak ditanggung sepenuhnya,” katanya.

Dari segi infrastruktur teknologi dan informasi, TIKI juga terus berbenah. Dengan infrastruktur yang bagus, pelanggan bisa lebih mudah berinteraksi dengan perusahaan. Misalnya, saat melakukan cek tarif dan cek tracking. Seluruh layanan tersebut akan membuat pelanggan kian loyal dengan TIKI.

Hasilnya luar biasa. Jumlah agen mereka selalu bertambah setiap tahun. Demikian juga jaringan kantor cabang. Kini, TIKI sudah memiliki 65 kantor cabang dan lebih dari 2.000 agen yang tersebar di kota-kota besar di Indonesia.

PT Citra Van Titipan Kilat/TIKI tergabung dalam Group TIKI. Selain, PT Citra Van Titipan Kilat dengan tipe bisnis express, ada juga PT Titipan Kilat Suprapto/TKS ( berdiri tahun 1980) dengan tipe bisnis freight forwarding, PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir/JNE (1990) dengan tipe bisnis express dan logistik, PT Titipan Kilat Wisata/TIKITA (1995) dengan tipe bisnis travel wisata, dan PT Titipan Kilat Indonesia/TIKINDO (2001) dengan tipe bisnis logistik.

Semakin menggeliatnya bisnis belanja online oleh masyarakat Indonesia mendorong bisnis logistik nasional makin bergairah. Perkembangan online shopping tak bisa dilepaskan dari jasa logistik.

Online shopping sudah menjadi kebutuhan dan gaya hidup masyarakat urban dewasa ini. Berdasarkan Online Shopping Outlook 2015 yang dikeluarkan Brand Marketing Institute (BMI) Research, peluang pertumbuhan pasar belanja online masih sangat besar seiring meningkatnya jumlah pengguna internet di Indonesia.

“Alasannya adalah karena dengan melakukan belanja online, buyer tidak hanya bisa menghemat waktu, melainkan mereka juga bisa mendapatkan opsi terbaik dalam berbelanja,” ungkap Yoanita Shinta Devi, Head of BMI Research.

Prediksi tersebut juga didukung oleh data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dimana pada tahun 2015 pengguna internet mencapai 150 juta jiwa, atau sekitar 59% dari total penduduk Indonesia. Jika dibandingkan tahun lalu, jumlah ini naik sebesar 5%.

Berdasarkan data tersebut, pasar belanja online di Indonesia bakal tumbuh 57%, dua kali lipat lebih dibanding tahun lalu, yang hanya 24%. Ditilik dari perputaran uangnya, total nilai belanja online per orang selama satu tahun belakangan ini mencapai Rp 825 ribu, atau jika diakumulasikan mencapai Rp 21 triliun.

(foto: istimewa) (foto: istimewa)

Jumlah transaksi diperkirakan mencapai Rp  50 triliun.”Ini merupakan kondisi yang positif bagi pertumbuhan bisnis pasar belanja online di Indonesia. Sehingga bisa disimpulkan pasar belanja online 2015 mendatang merupakan pasar yang seksi,” kata Yoanita. (Fardil Khalidi)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)