Tugu Mandiri Mulai Sasar Segmen Milenial dan Pensiunan

Gus Imron Gunasenjadja, Chief Marketing Officer Tugu Mandiri

Dampak revolusi industri 4.0 telah menyeruak ke berbagai industri, salah satunya asuransi. Bila tidak segera masuk pasar digital, pemain asuransi bisa-bisa ditinggalkan pelanggan.

PT Asuransi Jiwa Tugu Mandiri (Tugu Mandiri) sudah mempersiapkan platform digital agar pelanggan bisa membeli produk asuransi dalam jaringan. Gus Imron Gunasenjadja, Chief Marketing Officer Tugu Mandiri, mengatakan, “Kami sedang mengembangkan suatu platform aplikasi mobile. Saat ini, milenial kan senang dengan kemudahan, kalau melalu proses yang lebih rumit kadang (milenial) merasa terganggu. Jadi kami sedang mengembangkan suatu paltform untuk membeli asuransi lewat digital, yang kami namakan LifeTM.”

Menurut Imron, berdasarkan ketentuan yang berlaku, pihaknya baru bisa menawarkan produk personal accident untuk channel digital. Pasalnya, ketentuan untuk produk tersebut lebih sederhana. “Untuk produk lain harus face-to-face, maka kami milih produk kecelakaan.”

Kendati begitu, Imron merasa ke depan Tugu Mandiri juga harus segera merambah ke produk lain seiring dengan perkembangan aturan dan izin dari regulator.

Sementara digital sudah mulai digarap, pasar tatap muka masih menjadi tulang punggung bisnis Tugu Mandiri. Pasalnya, kontribusi pasar digital itu masih di bawah 5 persen.

Imron merasa literasi asuransi di kalangan milenial masih kurang. Maka dari itu, selain dari pengembangan platform, pihaknya juga banyak melakukan program literasi. Ia mengatakan, “Mereka (milenial) merasa kalau masih muda belum memerlukan asuransi. Padahal justru kalau beli asuransi paling bagus waktu muda karena premi masih murah.”

Tugu Mandiri sampai saat ini telah memiliki 700 tenaga pemasar berlisensi serta 60 ribu nasabah di Indonesia. Untuk pasar umum, mayoritas usia nasabah antara 30-40 tahun. Sementara untuk pasar atas, sudah lebih dewasa, yakni di atas 40 tahun. Menurut Imron, produk untuk pasar atas ini menawarkan premi yang tinggi, namun produk disertai investasi.

“Jadi produk unitlink, produk-produk asuransi yang kami paketkan dengan investasi, dan juga yang sedang kami kembangkan kami arahkan untuk pensiunan. Jadi selain untuk milenial, kami menyasar pasar pensiun juga yang masih saat ini belum banyak mengambil ke situ. Produk untuk pasar para pensiunan ini juga tersedia di platform digital kami,”ungkap Imron pada SWA Online di Jakarta, (28/5/2019).

Dalam memasarkan produk, Tugu Mandiri memanfaatkan komunitas sebagai jaringan pemasaran mereka. “Strategi kami lewat acara Business Opportunity Presentation di beberapa tempat di seluruh Indonesia. Kami menawarkan bahwa asuransi bisa jadi bisnis. Ini mungkin salah satu yang cukup efektif mengangkat branding Tugu Mandiri.”

Saat ini, porsi market captive Tugu Mandiri masih mendominasi, yakni 60 persen. Sementara market non-captive ada di angka 40 persen. Kendati begitu, target perusahaan pada akhir 2019, porsinya akan seimbang.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)