Upaya RSPO Meningkatkan Sertifikasi Petani Minyak Sawit

Kehadiran industri kelapa sawit di Indonesia, membawa banyak problematika. Keberadaanya banyak dikecam, namun tak sedikit yang menarik keuntungan. Ada 16 juta keluarga di Indonesia yang memeperoleh penghasilan dari industri kelapa sawit. Indonesia pun menjadi eksportir terbesar di dunia selain Malaysia untuk industri kelapa sawit.

Permasalahan awal dari industri ini adalah kurangnya undang-undang serta peraturan yang jelas saat awal munculnya tren minyak kepala sawit. Menurut Tiru Rumondang, Direktu RSPO Indonesia, pada awalnya industri kelapa sawit tak dilihat sebagai suatu industri yang memiliki potensi besar. Tapi, pada perkembangannya, industri ini ternyata banyak menarik minat para petani. Dalam perkembangannya, akibat kurang edukasi membuat mereka mengambil jalan pintas.

rspo

Salah satunya adalah membuka lahan dengan cara membakar hutan. Efeknya tentu tak main-main, banyak habitat penting yang terancam punah, terjadinya erosi udara, tanah, air, perubahan iklim dll, yang menjadi efek negatif dari kemunculan industri ini. Oleh karena itu, edukasi dan sertifikasi pun menjadi sesuatu yang penting untuk menjaga industri ini sekaligus mempertahankan ekosistem.

Produksi minyak sawit di Indonesia tumbuh 3 kali lipat selama beberapa dekade terakhir. Dari tahun 2005 hingga 2015, minyak sawit Indonesia tumbuh 11%, sementara pertumbuhan lahannya hanya berkisar di 8%. Untuk itu, pertumbuhan produksi dan lahan harus bisa ditekan sedemikan rupa.

Adanya sertifikasi dan pelatihan diharapkan dapat menekan angka pertumbuhan lahan kelapa sawit, salah satunya melalui Global Certified Sustainable Palm Oil (CSPO). Pada tahun 2015, sudah ada 12.89 juta produksi di dunia yang menggunakan CSPO meningkat dari 2014 yang hanya 11.91 juta.

Sementara itu sudah ada 3.45 juta meter2 lahan di dunia yang menggunakan CSPO. Indonesia sendiri berkontribusi lebih dari 50% produksi CSPO. Sejak tahun 2010 hingga 2015 sudah ada 143 lahan yang disertifikasi dan 31 perusahaan yang menggunakan sertifikat CSPO.

Selain perusahaan sertifikasi juga dilakukan pada petani sawit baik yang individu maupun plasma.  Sampai saat ini sudah ada 95.430 petani yang mendapat sertifikasi dengan total 166.023 m2 yang tersertifikasi. Beberapa di antaranya berada di daerah Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan.

Menurutnya, hingga saat ini program ini sedang berjalan kembali di Sumatera, Kalimantan, dan Jambi dengan total area 10.000 m2. Program ini menaungi 5.000 petani dengan total dana US$ 300.000. sementara itu nantinya sudah ada 1 proyek lagi yang akan di goalkan pada pertemuan internasional RSPO.

Bagi Djaka Riksanto, Technical Manager RSPO Indonesia, hal ini sejalan dengan 8 prinsip yang ingin diterapkan RSPO pada pengusaha perkebunan minyak sawit. “Prinsip dan kriteria RSPO selalu kami review setiap 5 tahun sekali supaya selalu sejalan dengan tren dan perkembangan di industri minyak sawit,” tutupnya. (EVA)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)