Vaksin Polio Akan Dihapus WHO, Ini Strategi Bio Farma !

Badan kesehatan WHO mengumumkan tahun 2020 mendatang, vaksin polio akan dihentikan produksi dan suplainya (eradikasi). Pasalnya, kasus polio di dunia sudah menurun dan bisa dinyatakan bebas polio khususnya di negara berkembang.

Hal ini membuat Bio Farma sebagai salah satu produsen vaksin polio terbesar di dunia, segera mengambil langkah guna menyelamatkan bisnis perusahaan ini. Sekretaris Perusahaan Bio Farma, Bambang Heriyanto, mengatakan suksesnya pemberantasan penyakit polio memang menjadi tantangan tersendiri bagi Bio Farma.

Sekitar 59 % dari total penjualan ekspor perusahaan ini adalah dari bulk polio. Pada tahun 2016 lalu, nilai ekspor bulk polio Bio Farma mencapai US$ 55,83 juta. Secara keseluruhan nilai ekspor Bio Far,a pada 2016 turun dari US$ 121 miliar tahun 2015 menjadi US$ 93 miliar tahun 2016. “Ini karena regulasi internasional WHO sudah masuk dalam tahap eradikasi polio di tahun 2017, jadi ada satu tipe vaksin polio kami yang tidak boleh lagi dijual yaitu tipe 1 ini sudah masuk eradikasi, sisa tipe 2 dan 3 yang masih kami produksi,” jelasnya.

Bambang menjelaskan, sebetulnya hanya satu tipe yangg sudah dieradikasi (Vaksin Polio ada 3 tipe). Bio Farma masih mensuplai dua tipe lagi. Sementara itu, vaksin polio tipe 1 yang masuk daftar eradikasi pun ternyata tidak akan serta merta dihapus oleh WHO. “Hanya diskip saja, tapi virusnya tetap disimpan. Nanti suatu saat kalau ada lagi kasusnya maka itu harus disuplai lagi,” jelas Bambang. “Kami masih menyimpan 500 juta stok, ini sebenarnya adalah potensi, “ lanjutnya.

Melihat kinerja ekspor yang turun akibat eradikasi polio, Bambang mengaku pihaknya lalu menggenjot penjualan dalam negeri. Pada tahun 2016 lalu penjualan dalam negeri Bio Farma mencapai US$ 80 miliar, naik dari US$ 52 miliar tahun 2015. Mereka juga sudah menyiapkan pipeline produk vaksin baru untuk menutup gap produksi dan penjualan yang sebelumnya didominasi vaksin dan bulk polio. Produk baru yang tengah digarap itu antara lain Measles Rubella (MR), Rotavirus, Varicella, HPV dan IPV.

Langkah lainnya untuk memulihkan kinerja ekspor adalah dengan fokus meregistrasi produk barunya, Pentabio Vaccine ke beberapa negara tujuan ekspor seperti Argentina, Iran, Mesir, Sri Lanka dan Thailand. Kemudian juga memperluas pasarnya ke tujuan ekspor baru seperti Amerika Latin, “Kami suplai vaksin DPT, lalu kami juga sedang ikut tender WHO untuk bisa memasukan produk lainnya kesana karena mereka sedang gencar kampanye imunisasi sehingga proses registrasinya akan lebih cepat,” jelas Bambang.

Editor : Eva Martha Rahayu

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)