Yustinus Prastowo: Tidak Mudah Tarik Pajak Google

Pengamat Pajak Yustinus Prastowo mengatakan pemerintah akan kesulitan untuk menarik pajak yang lama dari Google, Twitter, dan Facebook. Sebab, ketiga perusahaan tersebut sebelumnya belum menjadi Badan Usaha Tetap (BUT) dan melakukan pembayaran ke luar negeri.

"Akan ada kesulitan teknis karena pembayaran langsung ke Singapura. Jadi enggak mudah untuk melihat transaksi bisnisnya gimana," ujar Yustinus saat dihubungi Tempo, Kamis, 7 April 2016.

google google

Yustinus mengatakan potensi pajak dari ketiga perusahaan tersebut yang paling mungkin ditarik saat ini adalah PPN. Untuk menarik potensi pajak seperti PPH 23, kata dia, membutuh waktu lantaran perusahaan mesti melakukan pembukuan. "Kalau PPH harus memaksa pembukuan dan lainnya. Yang penting mereka declare transaksinya," kata dia.

Yustinus mengatakan perhitungan pajak perusahaan online dengan perusahaan konvensional sebetulnya tak jauh berbeda. Hanya jadi efektivitasnya saja yang berbeda. Namun, dalam menghitung pajak perusahaan online ada standar yang diterapkan. Saat ini standarisasi penghitungan tersebut masih digodok Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). Penerapan ini melibatkan negara maju terutama negara G-20.

Dalam merumuskan hitungan pajak perusahaan online, ujar Yustinus, pemerintah juga harus selaras dengan standarisasi internasional itu. Jika hitungan terlalu besar dikhawatirkan investor akan lari lantaran dipajaki tinggi.

Pemerintah saat ini tengah menghitung potensi pajak dari Google, Twitter, dan Facebok. Ketiga perusahaan tersebut sebelumnya hanya membayar PPh 21 saja. Saat ini ketiganya menjadi Badan Usaha Tetap dengan begitu seluruh penghasilan dari volume bisnis yang digarap bisa dipajaki.

Tempo.co

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)