9 Hal Yang Perlu Dipertimbangkan Ketika Mendapat Tawaran Kerja Baru

Mencari pekerjaan itu memang gampang-gampang susah. Di saat sedang susah, meski sudah melamar kerja sana-sini ke puluhan perusahaan atau instansi, masih saja mentok. Ditolak. Namun ketika sedang gampang, bahkan sudah punya pekerjaan pun malah ditawari beberapa kesempatan pindah kerja dari perusahaan lain yang kadang setengah memaksa untuk pindah. Si pencari karyawan butuh sangat mendesak.

Yang jelas, siapapun yang mendapatkan kesempatan kerja, bila ia seorang profesional sejati yang ingin sunggguh-sungguh dalam berkarir, maka ia tidak serta-merta mengiyakan ketika ada tawaran kerja datang menghampirinya. Agar karir jangka panjang cemerlang, maka sembilan (9) hal berikut ini perlu dipertimbangkan ketika mendapatkan tawaran kerja.

1. Apakah merasa punya kompetensi untuk mengerjakan tantangan pekerjaan baru yang ditawarkan?

Jangan asal 'iya'. Pertimbangkan matang-matang tantangan yang diberikan dengan kemampuan atau kompetensi Anda untuk menyelesaikan pekerjaan itu. Terutama tantangan pekerjaan pada saat start. Karena masa-masa start/percobaan itu sangat kritikal, setelah itu Anda akan lebih mudah untuk menggelinding dan menyesuaikan. Sebab itu harus tahu apa saja pekerjaan yang mesti diselesaikan pada bulan-bulan awal, bagaimana kompleksitasnya dan mesti mengukur kemampuan Anda.

2. Apakah Anda sudah sreg dengan gaji yang ditawarkan?

Persoalan gaji adalah hal yang sangat fundamental bagi para profesional. Kita bekerja untuk mencari income, dan gaji adalah pembentuk utama income seorang profesional. Sebelum menerima tawaran kerja, pertimbangkan apakah gajinya akan pas dengan beban pekerjaan Anda, dengan ekspektasi Anda, dengan standar pendidikan dan kompetensi anda, dan dengan pertimbangan personal Anda.

3. Pertimbangkan paket benefit (tunjangan) yang ditawarkan

Masing-masing Anda tentu punya selera berbeda soal paket tunjangan yang diharapkan. Ada profesional yang sangat suka mendapatkan tunjangan pensiun walau gaji kecil, namun ada pula profesional yang tidak terlalu care dengan tunjangan hari tua, namun lebih suka mendapat tunjangan wisata ke luar negeri atau beasiswa untuk melanjutkan kuliah atas biaya kantor. Ada pula yang mementingkan adanya benefit car ownership program. Dan sebagainya. Tanyakan bagaimana tunjangan yang mungkin anda dapatkan dan peluang anda untuk mendapatkan sesuai ekspektasi Anda.

4. Apakah Anda nyaman dengan budaya kerja perusahaan yang akan Anda tuju?

Penting bagi Anda untuk 'tanya-tanya' bagaimana kondisi suasana dan budaya kerja dari perusahaan yang akan menjadi tujuan baru Anda. Anda yang masih generasi milenial, mungkin tidak akan terlalu cocok dengan budaya perusahaan lama yang didalamnya dipenuhi kalangan tua usia. Anda yang suka jam kerja fleksible mungkin akan berontak bila tempat kerja baru Anda sangat rigid soal absen, dan tingkat kehadiran dipersoalkan. Bagaimana budaya meritokrasi di perusahaan itu? Bagaimana kesempatan bagi profesional murni untuk meniti karir di perusahaan itu? Kalau Anda biasa bekerja di perusahaan multinasional yang menjunjung tinggi fairness mungkin harus bertanya lebih dalam ketika Anda akan pindah ke sebuah perusahaan yang masih didominasi keluarga owner.

5. Kenali siapa calon atasan langsung Anda

Biasanya calon karyawan baru akan dipertemukan dengan calon atasan langsungnya. Dari sana Anda akan tahu secara garis besar bagaimana kesesuaian chemistry dan style kerja dia dengan preferensi Anda. Anda juga perlu cari tahu dari kenalan Anda tentang si calon atasan Anda itu. Bagaimana dia akan mendukung Anda sebagai anggota timnya untuk berkembang? Seberapa bagus cara kerja dia akan memberi kesempatan Anda untuk berkembang dan mendapatkan empowerment? Kalau Anda cenderung akan bentrok, buat apa Anda teruskan.

6. Pikirkan masak-masak, apakah pekerjaan baru tersebut memang sudah sejalan dengan tujuan jangka panjang karir Anda.

Jangan terpengaruh sesaat dengan iming-iming tawaran gaji besar. Kalau mimpi besar Anda sebagai seorang Direktur Keuangan dan sekarang sudah pada posisi manager keuangan, jangan terpesona ketika Anda ditawari sebagai manajer purchasing atau manajer warehouse misalnya. Kembalikan pada tujuan besar karir Anda. Anda harus memastikan pekerjaan baru Anda menjadi estafet yang tepat untuk karir kedepan Anda.

7. Ruang pertumbuhan karir di perusahaan itu.

Anda harus tahu bagaimana peluang pertumbuhan karir di perusahaan yang menawari pekerjaan Anda. Untuk mencari tahu, bisa dari dua sisi. Dengan bertanya saat wawancara, namun juga harus dikombinasi dengan bertanya ke pihak lain. Seorang kawan penulis pernah menyesal ketika pindah ke sebuah perusahaan properti yang namanya sudah cukup dikenal, karena ketika prestasinya sangat cemerlang (the best sales manager secara nasional), tiba-tiba tidak ada kesempatan promosi jabatan baginya karena pekerjaan GM Sales diisi oleh ponakan si pemilik, seorang fresh graduate yang baru selesai kuliah dari Amerika. Career path di perusahaan itu tidak jelas. Meritokrasi karir tidak dijalankan dengan baik. Anda bisa terjebak bila masuk di perusahaan seperti itu.

8. Gali informasi apakah load pekerjaan baru akan cocok dengan style pribadi Anda.

Ada orang yang suka tantangan target tinggi dan mau lembur sampai jam 21.00. Ada yang sangat suka pekerjaan berkeliling dinas luar kota, tidak masalah berpisah seminggu dengan keluarga. Namun ada yang justru sebaliknya. Ada orang yang sangat suka melakukan pekerjaan dunia entertaining untuk mendukung pekerjaan marketing, chit chat di cafe sampai malam sebagai bagian dari pekerjaan dengan merasa tidak ada masalah. Namun ada yang justru sebaliknya. Ada yang sangat suka dengan pekerjaan mengontrol puluhan anak buah, sebagian lain lebih suka mengontrol dari sisi angka angka. Anda perlu bertanya beban kerja dan harapan kerja dalam hitungan jam mingguan dan pertimbangkan kesesuaiannya dengan syle Anda.

9. Jangan lupa untuk mendalami kontrak kerja sebelum menerimanya.

Sebelum menandatangani kontrak, pastikan Anda tahu hal-hal apa yang tertulis di kontrak. Anda harus mengerti. Banyak karyawan yang menganggap sepele soal ini namun menyesal di kemudian hari. Mereka baru sadar merasa dirugikan padahal sebenarnya salah mereka sendiri yang di diawal tidak membaca kontrak kerja. Kontrak kerja ini banyak mengandung hal sensitif, mulai dari soal besaran bonus, soal PHK, soal pesangon, dan sebagainya.

Semoga karir Anda sukses dan cemerlang !

Sudarmadi@swamail.com

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)