55 Tahun Bumida Babak Baru Transformasi Bisnis di Industri Asuransi Kerugian

Sejak berdiri pada 1967, PT Asuransi Umum Bumida 1967, yang lebih dikenaldengan Bumida, selalu hadir di setiap perkembangan dan dinamika industri asuransi, khususnya asuransi kerugian di Indonesia. Serangkaian penghargaan bergengsi berhasil diraihnya. Hal ini menunjukkan dedikasi Bumida yang tidak terbantahkan dalam hal produk dan layanan yang berkualitas, tata kelola perusahaan yang baik, dan sumber daya manusia terbaik.

Memasuki usia 55 tahun di 2022 ini, Bumida patut mensyukuri perjalanan panjang yang telah dilaluinya. Terutama di industri asuransi, Bumida telah menempatkan diri sebagai institusi industri keuangan nonbank (IKNB) yang matang, konsisten, tumbuh, memberikan nilai lebih, serta senantiasa mampu bersaing yang menjadi kekuatannya.

Saat ini, Bumida memasuki babak baru dengan diluncurkannya logo baru yang mempertegas kehadirannya di industri asuransi kerugian. Penggantian logo ini dilakukanseiring dengan perkembangan zaman. Sebagai bagian dari proses adaptasi, Bumida memandang perlu untuk melakukan berbagai perubahan ke arah yang lebih baik, salah satunya dalam bentuk transformasi logo perusahaan.

Ramli Forez
Plt. Direktur Utama PT Asuransi Umum Bumida 1967

Sebagai bagian dari identitas korporat, logo ibarat bagian tubuh yang mampu mempresentasikan citra perusahaan. Transformasi logo perusahaan diharapkan juga dapat menjadi media promosi dan peningkatan corporate image sehingga mudah dikenali masyarakat luas serta menghasilkan citra positif perusahaan.

“Identitas baru ini merupakan representasi tekad kami untuk terus berupaya membuat Bumida menjadi perusahaan asuransi umum yang memberikan nilai lebih bagi stakeholder,” Ramli Forez, Plt. Direktur Utama PT Asuransi Umum Bumida 1967, menjelaskan tujuan pihaknya mengganti logo perusahaan.

Lalu, apa makna dan semangat di balik logo baru?

Logo baru Bumida memiliki bentuk dasar huruf “B” yang terbentuk dari pola angka “67”. Pola hurufini merupakan akronim dari Bumida dan dimaknai sebagai tahun berdirinya, 1967.

Angka “6” juga dimaknai sebagai falsafah dan nilai dasar yang dimiliki Bumida, yaitu idealisme, berkualitas, dipercaya, menguntungkan, profesionalisme, dan kebersamaan. Angka “7” yang membentuk pola panah melesat dimaknai sebagai visi Bumida, yaitu menjadi perusahaan asuransi umum yang memberikan nilai lebih bagi stakeholder.

“Kami yakin, Bumida 1967 pada 2022 ini dapat merealisasikan target yang telah diberikan stakeholder, tumbuh lebih besar, dan dapat meningkatkan posisinya di 2022 dengan logo baru dan semangat baru,” kata Ramli tandas.

“Logo yang lama itu sudah hampir 20 tahunan dan relatif belum mengadopsi kondisi kekinian” ungkapnya. Karena itu, pada logo baru ini pihaknya memberikan sentuhan kekinian melalui nuansa warna sedikit berbeda, yaitu merah, hitam dan sedikit orange yang menggambarkan semangat, kehangatan & keramahtamahan, serta kekuatan. Dengan logo baru ini, pihaknya berharap masyarakat akan lebih mengenal Bumida.

Jadi, dengan organisasi yang milenial, logo baru, dan tampil di berbagai wilayah baru, pihaknya berharap Bumida bisa membumi di masyarakat. “Dan memang terbukti, kami bisa tumbuh 12,08% di atas industri. Kemudian, profit perusahaan naik, kurang-lebih 12% juga,” ungkap Ramli.

Hingga Desember 2021, Bumida berhasil membukukan pertumbuhan produksi premi bruto dibandingkan periode yang sama di 2020. Dibandingkan dengan data industri, pertumbuhan produksi industri mengalami pertumbuhan minus 0,02%, sementara Asuransi Bumida hingga Desember 2021 justru tumbuh 12,08%. Bisa dikatakan, Bumida tumbuh cukup pesat di 2021.

Sebenarnya, perusahaan ini sudah mulai tumbuh dari 2018, namun di tahun 2019-2020, akibat badai Covid-19, industri termasuk Bumida sempat mengalami Kontraksi, dan pada tahun 2021  Bumida membuktikan mampu tumbuh di tengah badai Covid­19 saat pemain lain rata-rata tidak tumbuh. Kalaupun perusahaan lain tumbuh, karena mereka punya captive besar. “Berbeda dengan kami, kalau Bumida tidak bergerak dan tidak ada inovasi, tidak akan dapat premi,” ungkapnya.

Mengenai kiat sukses Bumida sehingga bisa bertahan sampai 55 tahun, Ramli menjelaskan, “Karena kami ini melayani kepentingan masyarakat, terutama di perlindungan risiko, jika nasabah ingin mencintai kami, pelayanan harus kami unggulkan. Pelayanan kepada customer adalah prioritas utama kami, sehingga nasabah tidak pernah berpindah ke lain hati.”

Hal yang paling penting lagi adalah kualitas dan kuantitas SDM, baik itu tim kantor pusat maupun tim di daerah sebagai marketing team. Perusahaan ini bisa bertahan karena kualitas organisasinya cukup bagus. Kemudian, secara kuantitasnya pun memadai, meskipun itu baru mulai dibentuk pada tiga tahun belakangan ini.

Manajemen Bumida juga menjaga agar perusahaan tetap lincah dengan cara terus meningkatkan kualitas pelayanan dan organisasi. Menurut Ramli, awalnya di beberapa provinsi, Bumida tidak hadir. Namun, dalam dua tahun terakhir, pihaknya mencoba mengembangkan Bumida di kota-kota besar, seperti Tarakan, Balikpapan, Sorong, Lhokseumawe, dan Banyuwangi.

Bumida membuka kantor layanan untuk memenuhi kepentingan masyarakat, terutama di Indonesia Timur. Dengan demikian, Bumida mulai hadir dan dikenal di wilayah Timur Indonesia, setelah sebelumnya hanya seputar Pulau Jawa dan Sumatera.

Bicara tentang era digital, diakui Ramli, di Bumida masih terbatas dengan pengembangan sistem yang ada. Sebab, jika diperbarui total, perlu biaya yang cukup tinggi.

“Saat ini kami mengembangkan sistem yang ada saja, tetapi disisi lain jumlah agen kami tambah sehingga agen inilah yang berada di garis depan melayani nasabah,” ujarnya. Jumlah agen Bumida saat ini sekitar 1.500 orang. Dimana sebelum 2019, baru sekitar 600 orang.

Jadi, dalam dua tahun ini Bumida membuat lompatan hampir tiga kali lipat di tengah pandemi. “Target kami sampai akhir 2022 ini sekitar 2.000 agen.”

Saat ini hampir 40% agen Bumida adalah kaum milenial. Diharapkan, pasar milenial yang belum tergarap karena kurangnya sosialisasi sehingga asuransi dianggap kurang menarik bagi mereka, padahal manfaatnya cukup bagus, sehingga nantinya dapat tergarap dengan baik.

“Jadi, dengan adanya daerah-daerah yang kami buka, kami coba merekrut yang muda-muda, dan ternyata peluang mereka di industri asuransi ini cukup bagus. Tinggal bagaimana cara kami memberikan pemahaman agar generasi muda lainnya tertarik bekerja di asuransi,” kata Ramli.

Pada Bulan Maret lalu, bertempat di Bandung, pihaknya memberikan pendidikan kepada 41 milenial untuk ditempatkan di daerah yang belum ada Bumidanya. Usia mereka rata­rata di bawah 30 tahun. Saat ini, mereka masih dididik secara kontinyu oleh Kantor pusat, dan di pertengahan tahun akan dikirim ke daerah masing­masing. “Harapan kami, di 2022 ini sudah terpenuhi semua agen & kebutuhan organisasi terutama dari kaum milenial, khususnya di kota-kota besar,” katanya.

Sejatinya, Bumida sudah mempunyai produk untuk bisa mengakomodasi kebutuhan milenial. Hanya saja, belum secara optimal dipasarkan, belum banyak yang mengenalkan di pasar. Produk Bumida yang cocok dengan milenial di antaranya asuransi kendaraan, Personal accident, MahasiswaKoe, dan SiswaKoe serta produk lainnya.

“Harusnya kan itu secara optimal dikenalkan, tetapi selama ini  kami terlalu terlena dengan kekuatan Induk kami (Bumiputera) ketika itu. Captive-nya hanya Bumiputera, dimana dalam setahun kurang­lebih memberikan kontribusi Rp 70 miliar. Saat ini sudah  tidak ada premi dari sana,” ungkapnya.

Artinya, Bumida harus bangkit sendiri, tidak bisa lagi berharap kepada induk perusahaan. “Hal inilah yang mendasari kami  merekrut milenial. Mudah­mudahan apabila Bumida mampu untuk menjaga kinerja tetap sehat serta tumbuh besar, Bumiputera juga akan bangkit. Kalau yang lain itu kan punya captive yang besar­besar, punya grup besar,  premi mereka itu rata­rata hampir 60% dari captive­nya. Sementara saat ini, kami sudah tidak ada lagi captive market. Berarti, Bumida harus bangkit, bekerja keras, dan membangun kekuatan organisasi,” Ramli menegaskan.

Hasilnya mulai terlihat pada 2021. Ketika itu Bumida tumbuh 12,08%. “Sebelumnya, selama enam tahun hampir tidak pernah tumbuh. Ketika induk kami terjadi turbulance, kami sebagai anak perusahaan tidak siap,” katanya. Jadi, Bumida memang harus melakukan perubahan, mentransformasi diri untuk membentuk kekuatan, agar mampu berdiri sendiri, tanpa mengharapkan induk lagi. Pihaknya juga harus menumbuhkan keyakinan masyarakat bahwa Bumida itu berbeda dan bisa terus bertumbuh

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)