Powering Indonesia 4.0

Kher Tean Chen
Country Managing Director, Accenture Indonesia

Lebih dari setahun sejak pandemi COVID-19 pertama kali muncul, dunia akhirnya memiliki sumber harapan yang nyata, yaitu vaksin. Bagian tersulitnya saat ini adalah bagaimana cara mendistribusikan vaksin tersebut secara tertib, efisien, dan aman.

Di Australia, pemerintah setempat telah mendapatkan lebih dari 117 juta dosis untuk penduduknya, dan penyedia logistik DHL Supply Chain dan Linfox bekerja sama dengan Departemen Kesehatan untuk merancang dan mengoperasikan jaringan distribusi nasional. Di pihak Accenture, kami menangani pembuatan dan implementasi solusi perangkat lunak untuk melacak dosis vaksin di seluruh rantai pengiriman hingga memantau reaksi penerima setelah dilakukan penyuntikan vaksin di Australia. Jika dilakukan dengan benar, ini akan menandai kemenangan yang penting dan sangat dibutuhkan dalam pertempuran dunia melawan virus corona.

Dari segala dampak yang telah ditimbulkan oleh krisis COVID-19, setidaknya ada makna tersembunyi, yaitu menunjukkan bahwa teknologi memainkan peran yang sangat diperlukan dalam keadaan normal baru (new normal) ini.

Indonesia adalah salah satu negara yang sudah mengakui hal tersebut. Faktanya, pandemi ini telah menggarisbawahi kebutuhan yang mendesak akan digitalisasi dan perubahan, yang mempercepat upaya “Making Indonesia 4.0” yang digagas oleh Presiden Joko Widodo - sebuah roadmap yang akan membawa Indonesia menjadi salah satu dari 10 negara dengan ekonomi terbesar di dunia pada tahun 2030.

Meskipun tuntutan berbisnis saat ini tidak jauh berbeda dari tahun lalu, tetapi saat ini sifatnya jauh lebih mendesak. Dan dibandingkan dengan membiarkan diri terseret oleh perubahan yang terus terjadi tanpa henti, para pelaku bisnis harus mengendalikan masa depan dan bertindak dengan ketangkasan dan keberanian - untuk memimpin perubahan tersebut.

Pandemi ini jelas telah menghambat upaya Indonesia 4.0, dan memperburuk tantangan-tantangan yang terkait dengan kurangnya infrastruktur serta talenta yang terampil. Misalnya, meskipun proyek Palapa Ring selesai pada tahun 2019, yaitu memberikan jaringan serat optik nasional ke seluruh nusantara, bandwidth Internet yang rendah tetap menjadi kendala bagi para siswa yang belajar dari rumah.

Kabar baiknya adalah semakin banyak pihak yang menyadari bahwa perlunya melakukan perubahan. Perusahaan-perusahaan sekarang menyadari bahwa digitalisasi akan tetap perlu ada, baik sewaktu melakukan pemotongan anggaran, penghematan biaya, peningkatan produktivitas maupun pengamanan keuntungan pada titik awal. Mereka harus mengambil langkah dan mengubah krisis yang dihadapi – menjadi peluang.

Kami di Accenture telah melakukannya, dengan memindahkan 70 persen bisnis kami ke sektor digital, cloud, dan keamanan teknologi informasi, dan kami ingin membantu para pelaku bisnis untuk melakukan hal yang sama.

Baru-baru ini kami juga meluncurkan strategi yang bernama “360° Va-lue” untuk membantu klien memimpin perubahan – dengan mengubah dan merancang ulang bisnis mereka, melatih kembali karyawan mereka, atau melakukan upaya lainnya agar menjadi lebih berkelanjutan. Hal ini menjadi sangat penting ketika cakupan bisnis menjadi sesuatu yang bermakna bagi perusahaan dalam melakukan transformasi. Salah satunya contohnya, dengan mengoperasikan kecerdasan terapan (applied intelligence), atau apa yang kami sebut sebagai Industry X, dimana perusahaan-perusahaan dapat membangun bisnis yang lebih baik.

Contoh lain adalah Serasi Autoraya (SERA), salah satu anak perusahaan Astra Group yang menyediakan solusi transportasi dan layanan logistik. SERA memanfaatkan jasa Accenture, Microsoft dan Avanade di tahun 2019 untuk mengembangkan dan meluncurkan layanan platform berbasis telematik dengan nama Astra Fleet Management Solution ke pasar fleet di Indonesia. Accenture juga membantu perusahaan tersebut dalam membuat beberapa solusi blueprints, termasuk solusi manajemen armada yang terhubung dengan menggunakan IoT dan analitik. Dengan menggunakan solusi ini, SERA dapat menghasilkan aliran pendapatan dan kemitraan baru, salah satunya joint venture antara Astra dan decacorn Indonesia untuk sebuah layanan ride-hailing roda empat baru, dimana AstraFMS mengelola transportasi dengan layanan seperti pemantauan kendaraan secara real-time.

Dalam pidatonya tahun lalu, Presiden Jokowi mengibaratkan situasi ekonomi yang sedang berlangsung saat ini seperti “komputer yang sedang mengalami crash”, di mana Indonesia harus melakukan “shut down, restart dan reboot”.

“Kita tidak boleh membiarkan krisis ini mengakibatkan kemunduran. Krisis ini justru harus kita manfaatkan sebagai momentum untuk membuat lompatan besar,” ujarnya*

Lompatan besar inilah yang harus diambil oleh para pelaku bisnis Indonesia – dengan ketangkasan dan keberanian – untuk beralih ke ekonomi digital dan membentuk masa depan mereka sendiri.

Lebih lanjut bisa Klik https://www.accenture.com/id-en/insights/industry-x-0-index

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)