Technology Vision 2021

Ketika interaksi sosial dibatasi, perbatasan ditutup, toko-toko ditutup dan orang-orang dihimbau untuk tidak meninggalkan rumah sebagai bagian dari langkah-langkah lockdown pandemi di seluruh dunia, banyak orang mulai mengandalkan teknologi.

Retno Kusumawati - Managing Director of Technology, Accenture Indonesia

E-commerce memungkinkan konsumen untuk berbelanja daring, sementara panggilan video dan alat kolaborasi kerja digital memungkinkan bisnis untuk terus beroperasi. Kolaborasi digital telah mendekatkan belahan dunia dengan lebih cepat. Teknologi telah memaksa terjadinya sebuah terobosan pada apa yang dulunya merupakan cara hidup "normal", dengan mengubah perilaku dan ekspektasi dan memunculkan istilah “normal baru”.

Hasilnya, sebuah realita pasca-pandemi baru muncul dalam semua industri. Dan ketika para pemimpin Indonesia melakukan invensi ulang atas diri mereka dan perusahaan mereka di era transformasi dan peluang yang bersifat eksponensial, maka orang-orang yang paling visioner - mereka yang menggunakan teknologi untuk menguasai perubahan - yang akan menentukan masa depan.

Mengubah krisis menjadi peluang

Sebagai contoh, salah satu perusahaan coffee chain di Indonesia, sebelum COVID-19 melanda, membukukan hingga tiga juta pesanan per bulan. Jumlah ini menguap dengan cepat sewaktu kasus pandemi terus meningkat di awal tahun 2020 - sampai strategi ekspansinya yang telah disesuaikan baru-baru ini mulai membuahkan hasil.

Strategi membuka gerai berkonsep grab-and-go di lokasi-lokasi pinggir jalan seperti SPBU dan ruko tepat sebelum terjadinya pandemi, terbukti sebagai langkah yang cerdik. Pendapatan dari lokasi-lokasi dengan tingkat pesan antar yang tinggi tersebut melonjak selama pandemi, mengkompensasi hilangnya pendapatan akibat berkurangnya jumlah konsumen yang datang ke gerai. Strategi ekspansinya kemudian mencakup dibukanya 30 gerai dalam sebulan.

Perubahan mendadak dalam permintaan konsumen ini menuntut perusahaan untuk merespon dan menyesuaikan sistem pendukungnya secara cepat, dengan bantuan teknologi. Misalnya, perusahaan memanfaatkan alat analisis untuk mengidentifikasi lokasi-lokasi dengan permintaan tinggi akan produknya sehingga pelanggan dapat dilayani dengan lebih baik.

Perusahaan telah berhasil menemukan peluang bahkan di masa-masa sulit seperti sekarang ini. Keberhasilannya hingga saat ini telah menggambarkan satu hal: masih ada berbagai peluang besar di luar sana, terutama dengan bergeraknya Indonesia menuju sasaran Making Indonesia 4.0.

Saat-Saat Penentuan (Moment of truth)

Kabar baiknya adalah, perusahaan-perusahaan di Indonesia menyadari perlunya mendorong perubahan dengan digitalisasi.

Dalam laporan Accenture Technology Vision 2021 terbaru kami yang berjudul “Leaders Wanted: Masters of Change at a Moment of Truth”, 67 persen eksekutif yang disurvei mengatakan bahwa laju transformasi digital bergerak dengan semakin cepat dalam organisasi mereka dalam situasi pandemi ini. Di Indonesia sendiri, 95 persen eksekutif mengatakan bahwa arsitektur teknologi mereka menjadi penting atau sangat penting untuk keberhasilan organisasi mereka secara keseluruhan.

Mereka memilih tiga teknologi yang paling penting untuk visi mereka: Cloud, Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI), dan keamanan siber (cybersecurity).

Accenture Technology Vision 2021

Accenture Technology Vision 2021 mengidentifikasi lima (5) tren utama yang harus disiapkan suatu perusahaan untuk melangkah lebih lanjut di pasca pandemi.

  • Stack Strategically: Architecting a Better Future

Era baru dalam kompetisi industri mulai tumbuh, dimana perusahan-perusahaan bersaing di teknologi arsitektur mereka. Perusahaan membangun sistem yang future-resistant bukan lagi future-adaptive. Pilihan teknologi dapat membuat perusahaan merubah value proposition mereka. Dengan ini, strategi binis dan teknologi menjadi tidak dapat dipisahkan.

  • Mirrored World: The Power of Massive, Intelligent, Digital Twins

Para pemimpin perusahaan membangun intelligent digital twins untuk membuat model “hidup” dari suatu pabrik, supply chain, daur hidup produk, dan lainnya. Untuk mendapatkan insight yang baik dari digital twins, fondasi data haruslah kuat. Dengan membawa data dan intelijen untuk me-representasikan dunia fisik di dunia digital akan membuka banyak kesempatan untuk beroperasi, berkolaborasi, dan berinovasi, dimana kondisi “What if” dapat disimulasikan tanpa batas.

  • I, Technologist: The Democratization of Technology

Kapabilitas yang kuat juga ada pada para karyawan. Hal ini menambah lapisan landasan bagi perusahaan untuk berinovasi. Sekarang, tiap karyawan dapat melakukan inovasi, mengoptimasikan pekerjaan mereka, memecahkan masalah, membuat bisnis dapat beradaptasi dengan cepat terhadap kebutuhan dan perubahan baru. Pelatihan karyawan akan pengetahuan teknologi menjadi hal yang penting untuk dilakukan.

  • Anywhere, Everywhere: Bring Your Own Environment

Sekarang lah saatnya untuk mentransformasi “remote work”, memikirkan ulang seperti apa organisasi yang seharusnya dan apa yang bisa didapatkan dari model pekerjaan virtual. Dulu ada istilah “Bring your own device” dimana karyawan boleh menggunakan laptop atau smartphone pilihan dan milik mereka dalam bekerja. Sekarang, para pemimpin harus mengembangkan strategi “bring your own environment”, dimana para pekerja membawa seluruh lingkungan mereka untuk bekerja yang melingkupi security, dampak terhadap cara kerja dan “culture”, dan pergantian kegunaan dari fisik ruang kerja kantor.

  • From Me to We: A Multiparty System’s Path Through Chaos

Adanya kebutuhan untuk dapat melacak kontak fisik, pembayaran secara digital, dan cara baru untuk mendapatkan kepercayaan dari lingkungan; membuat kolaborasi dengan banyak pihak menjadi penting. Sharing infrastuktur data antara individu dan organisasi akan membangun bisnis baru dan model pendapatan yang baru. “Multiparty system” dengan ekosistem-ekosistem akan membantu bisnis menjadi lebih bertahan dan beradaptasi

Ke depannya, setiap bisnis akan dibangun dengan berlandaskan teknologi. Penelitian kami mengenai Future Systems menunjukkan bahwa para pemimpin yang mengandalkan inti digital yang kuat dalam beradaptasi dan berinovasi dengan kecepatan kilat berhasil meningkatkan pendapatannya lima kali lebih cepat dari mereka yang saat ini lambat bergerak, padahal para pemimpin ini hanya mampu 2x lebih cepat saat rentang waktu 2015 hingga 2018.

Ini adalah saat-saat penentuan – teknologi telah menopang kita dalam melalui pandemi ini, dan akan terus mendefinisikan ulang cara kita bekerja, hidup, dan berinteraksi.

Untuk membentuk masa depan mereka sendiri, para pemimpin harus melepaskan diri dari pola pikir masa lalu dan merangkul kekuatan perubahan teknologi eksponensial untuk menata ulang dan membangun kembali bisnis dan pengalaman manusia (human experience).

Tags:

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)