Adji Watono “Krisis Itu Peluang; Mengajarkan Pengalaman Baru”

Empat puluh tahun mengelola Dwi Sapta, dari sebuah studio kecil tahun 1981 menjadi kelompok usaha besar menaungi belasan perusahaan di bidang periklanan, membuat Aloysius Adji Watono (70 tahun) benar-benar kaya pengalaman. Sepak terjangnya yang penuh dengan tetesan keringat, darah, dan airmata telah mengantarkan Dwi Sapta menjadi agensi periklanan lokal terbaik di Indonesia yang mampu bersaing dengan agensi-agensi multinasional.

A. Adji Watono,Chairman Dwi Sapta (Dentsu Aegis Network Company)

Beberapa kali dihadang krisis, ayah dua putri, Maya Watono (CEO  Dentsu Aegis Network Indonesia) dan Intan Watono (dosen di Universitas Western, Australia), serta kakek dari empat cucu ini membuktikan dirinya sungguh-sungguh seorang petarung sejati. Tidak ada rasa gentar dalam setiap kalimat yang dilontarkan, bahkan nada bicaranya masih lantang, bersemangat tinggi, dan optimistis, walaupun menghadapi masa sulit. “Percayalah, badai krisis akan berlalu. Krisis akan selalu mengajarkan pengalaman baru,” ujarnya meyakinkan. Berikut ini penuturannya.

Sejak berdiri tahun 1981 Dwi Sapta sudah melalui beberapa kali krisis, yakni di tahun 1998, 2005, 2008, dan tahun 2020. Setiap krisis datang, masing-masing memberikan pelajaran dan pengalaman yang berbeda-beda.

Di antara krisis-krisis itu, krisis ekonomi tahun 1998 adalah yang terberat karena merupakan krisis multidimensi. Sehingga, kami harus bisa memanfaatkan krisis menjadi peluang bisnis. Kami harus mencari peluang yang bisa di­kerjakan dan menghasilkan uang, walaupun terpaksa harus menawarkan iklan loose spot ke klien-klien.

Syukurlah, peristiwa itu tidak berlangsung lama. Pada 1999, krisis mulai berakhir dan kondisi ekonomi bisa membaik. Sehingga, kami langsung bisa tancap gas mendapatkan bisnis baru untuk Dwi Sapta.

Krisis tahun 2005 dan 2008 kurang-lebih sama situasinya. Mungkin sedikit membedakan, pada 2008 itu kami sudah mencapai top 5 agency, yang artinya secara organisasi sudah sangat besar dengan karyawan ratusan orang. Saat itu kami juga sedang bertransformasi menjadi Dwi Sapta IMC, sehingga tantangan krisis yang kami hadapi cukup krusial.

Nah, sekarang kita bertemu dengan krisis pandemi Covid-19. Berbeda dengan krisis-krisis sebelumnya, kali ini kita sulit memprediksi kapan akan berakhir dan akankah kondisi ekonomi bisa kembali seperti semula. Semua masih belum jelas. Kita semua bergantung pada pemerintah dan kesadaran masyarakat untuk meng­hentikan penyebaran pandemi karena sampai sekarang pun masih fluktuatif angka persebarannya.

Menurut saya, keadaan krisis memang berbeda-beda setiap masanya, tetapi cara berpikir untuk keluar dari krisis harus tetap sama. Bahwa untuk keluar dari krisis, pertama, kita harus bisa menciptakan opportunity baru. Khusus di industri advertising agency, misalnya, yang perlu didorong adalah pergeseran periklanan dari offline ke online. Ada pergeseran televisi ke digital dan media sosial sehingga digital advertising menjadi pilihan sekarang. Apalagi, semua orang kini juga sudah terbiasa melakukan segala sesuatu secara online dan live streaming.

Kedua, harus positive thinking dan bisa menciptakan hal-hal baru yang belum pernah ada sebelum krisis. Memanfaatkan peluang yang ada agar bisa menjadi bisnis dan menghasilkan uang. Ya, kuncinya adalah positive thinking. Seorang pebisnis tidak boleh berpikir bahwa “Oh, ini krisis.” Selesai. Saya tidak pernah melihat krisis sebagai keadaan sulit. Saya melihat krisis sebagai peluang.

Ketiga, agar jeli melihat peluang, kita harus kreatif dan inovatif. Saya yakin, jika kemampuan kreatif dan inovatif itu dilandasi kemauan berkolaborasi, kita akan dapat melalui krisis dengan lebih baik. Mindset kolaborasi dan digitalisasi harus ditanamkan di perusahaan. Key innovation-nya adalah adaptif dan kreatif. Deng­an menciptakan hal-hal baru dan berinovasi dengan memanfaatkan tren serta teknologi, niscaya bisnis perusahaan tetap terjaga.

Yang harus disadari kita semua, pasar tidak bisa dikembalikan seperti apa yang kita mau. Prediksi pasar ditentukan oleh keadaan saat ini. Keputusan ada di tangan pebisnis itu sendiri, apakah mau mengikuti zaman atau tidak. Market akan menentukan dirinya sendiri, market tidak bisa didikte oleh perusahaan. Pengusaha justru yang harus melihat opportunity apa yang ada di market, sehingga produk harus inovatif, kreatif. Seperti hand sanitizer yang bentuknya bertransformasi jadi gel. Omsetnya langsung naik. Artinya, market selalu ada, tetapi tergantung pada kita, apakah mau berinovasi atau tidak.

Pebisnis di saat krisis harus mampu menciptakan peluang-peluang baru dan harus lebih produktif agar bisnis tetap bisa berkembang dan berjalan terus. Ciptakan kreativitas, berinovasi, improve all the time, dan go to digital. Pebisnis harus update teknologi dan melakukan continuous improvement. Find new way in the new era. Manfaatkan teknologi yang ada untuk menciptakan peluang bisnis.

Tentu saja, untuk mencapai perubahan itu, perlu melakukan reinventing visi-misi perusahaan. Bahkan, kalau perlu, harus dilakukan re-organization untuk menghadapi krisis. Perusahaan mesti bisa beradaptasi, modern, innovative, go to digital, sampai keadaan berubah menjadi lebih baik.

Adapun syarat untuk berubah menjadi lebih baik, ya harus memegang teguh nilai-nilai kebaikan yang universal, seperti nilai-nilai kemanusiaan, nilai gotong royong, kola­borasi, kebersamaan, tolong-menolong, dan seterusnya. Itu prinsip yang harus dibawa oleh karyawan dan perusahaan. Biarpun sedang work from home (WFH), karyawan tetap bekerja profesional dan memegang teguh nilai-nilai perusahaan sehingga tetap bisa produktif dan mendukung bisnis perusahaan.§

Author : Dyah Hasto Palupi/Andi Hana Mufidah Elmirasari

KUTIPAN

“Ciptakan kreativitas, berinovasi, improve all the time, dan go to digital.Pebisnis harus update teknologi dan melakukan continuous improvement. Find new way in the new era.”A. Adji Watono,Chairman Dwi Sapta (Dentsu Aegis Network Company)

Tags:

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)