Bank Mantap Tumbuh Mantap, Ditopang Penerapan GCG

Berawal dari bank lokal di Bali dengan 93 kantor cabang, sekarang Bank Mandiri Taspen (Bank Mantap) memiliki sekitar 430 jaringan kantor di 34 provinsi. Artinya, Bank Mantap sudah naik kelas, yang dulunya hanya sebuah bank lokal di Bali menjadi bank nasional.

Asetnya pun mengalami pertumbuhan yang sangat cepat. Tahun 2015, kata Direktur Compliance & Control Bank Mantap Paulus Endra Suyatna, anak usaha Bank Mandiri dan Taspen ini baru memiliki aset Rp 1,7 triliun, saat ini sudah Rp 34,7 triliun. Labanya pun tumbuh: pada 2015 hanya Rp 24 miliar, sedangkan pada 2019 tercatat Rp. 456 miliar, kenaikan yang signifikan tersebut mengindikasikan bahwa Bank Mantap merupakan bank yang sehat.

Endra mengungkapkan, pada dasarnya Bank Mantap telah mene­rapkan GCG sejak awal, terutama setelah Bank Mandiri dan Taspen masuk menjadi pemegang saham Bank Mantap di tahun 2015. Dengan masuknya dua BUMN besar yang telah memiliki reputasi yang baik di bidang masing-masing, Bank Mantap semakin kokoh dalam mene­rapkan GCG.

Direktur Compliance & Control Bank Mantap Paulus Endra Suyatna

Penerapan GCG di Bank Mantap, kata Edra, tentu memiliki tujuan yang sama deng­an perusahaan lain pada umumnya, yaitu memberikan nilai tambah yang maksimal bagi seluruh stakeholder, antara lain melalui pelayanan yang baik; pertumbuhan nilai perusahaan yang berkesinambungan; peningkatan kesejahtera­an bagi karyawan & keluarga, nasabah, dan masyarakat; serta pelestarian lingkungan. “Dengan demikian, Bank Mantap turut berperan serta dan berkontribusi aktif dalam menyejahterakan masyarakat Indonesia,” ujarnya.

Bahkan, Endra mengungkapkan, bank ini tetap menunjukkan kinerja yang bagus di saat pandemi karena penerapan GCG. Terlebih, bisnisnya berubah dari mikro ritel ke pasar pensiunan. Belum lagi, cakupan usahanya pun berubah dari lokal atau bank daerah menjadi bank nasional.

“Kami mengubah kebijakan bank, internalisasi, petunjuk teknis, untuk menyesuaikan dengan perkembangan bisnis. Kami berkomitmen menerapkan GCG. Bank itu bisnis kepercayaan, dengan penerapan GCG, tentu saja, kepercayaan itu bisa dicapai. Kami bangun GCG dari 2015. Kami jaga risk, kontrolnya. Komisaris pun sangat aktif, tiap bulan dievaluasi. Direksi tiap minggu rapat mengenai penerapan GCG, bahkan di awal-awal kami bisa rapatkan masalah ini setiap hari. Ada komite audit, internal audit aktif. Kami terus perkuat, tidak ada aturan yang dilanggar,” Endra memaparkan.

Bank Mandiri, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Badan Peme­riksa Keuangan (BPK) pun rutin mengaudit Bank Mantap. Menurut Endra, dalam hal risiko, dilakukan identifikasi, pemantauan, dan evaluasi. Semuanya dilaporkan secara periodik, bukan saja ke pemegang saham, tetapi juga ke regulator. Penggunaan dana besar pun dilaporkan dengan baik.

Untuk menjadikan GCG se­bagai bagian dari DNA atau budaya kerja perusahaan, menurut Endra, kuncinya dari top level. Setiap aturan dijalankan dengan konsisten, direksi juga memberikan arahan, dan kontrol melekat terus dilakukan.

“Budaya kepatuhan dijalan­kan, di mana setiap hari ada code of conduct yang diing­atkan. Kalau ada temuan-temuan masalah di cabang, dicari penyebabnya, lalu apa penye­lesaiannya, selanjutnya kami sampaikan ke kawan-kawan di cabang. Kami melakukan kontrol dan evaluasi apa yang menjadi temuan dan apa tindak lanjutnya,” papar Endra. Ia menambahkan, “Ini untuk mencegah fraud. Kalau terjadi pun, bisa segera ditangani, jangan sampai berlarut, dan pelakunya dikenai sanksi sesuai dengan aturan yang berlaku.”

Untuk mencegah fraud, Bank Mantap juga memberikan reward. Biasanya ada reward terkait yang dihitung per tiga bulan atau reward tahunan. Bentuknya bisa barang (sepeda, motor, dsb.) atau ibadah umroh.

“Kami pun punya whistleblowing system. Temuan kami pun banyak dari sini. Kalau temuan itu benar dan objektif, akan langsung kami tindaklanjuti. Kami terus ingatkan, setiap hari, kerja militan boleh, tapi kerja dengan integritas itu pen­ting,” Endra menuturkan.

Setiap tahun, baik direksi maupun karyawan Bank Mantap menandatangani pakta integritas. Namun, menurutnya, yang utama adalah membang­un budaya untuk patuh pada aturan dan konsisten dalam penerapan GCG. “Di dunia perbankan, pemain mana pun tidak lepas dari fraud. Tapi yang utama, kami fokus pada penyelesaian segera dari setiap fraud, lalu mengambil langkah-langkah hukum agar mereka jera, demi mencegah hal ini terulang lebih besar,” katanya.

Karena sistem Bank Mantap yang bagus, termasuk sistem teknologi informasi (TI)-nya, sekali terjadi fraud, langsung dilaporkan ke OJK. Dan, Endra pun selalu mengingatkan ke awak Bank Mantap, jika melakukan fraud, nama mereka akan tetap “hitam” karena tercatat di OJK. “Kami juga menaikkan benefit secara berkala, ini upaya kami agar bisa mencegah fraud,” ujarnya.

Edra menegaskan, komunikasi dua arah yang cair dan terbuka menjadi kunci utama dalam menerapkan budaya perusahaan. Termasuk, penerapan tata kelola perusahaan yang baik atau GCG.

Selain komunikasi, menurutnya, ada dua faktor penting lainnya dalam membudayakan GCG. Faktor pertama, konsistensi dalam penerapan GCG. Untuk menjadikan GCG sebagai budaya pada setiap pegawai di semua jenjang, diperlukan waktu yang relatif panjang, dimulai dari sosialisasi dan internalisasi sampai pada tahap menjadi DNA setiap pegawai atau “walking the talk”.

Menurut Endra, konsistensi penerapan GCG bukan hanya diperlukan dari segi waktu (du­rasi) penerapannya, tetapi juga dari segi tingkatan organisasi dan area bisnis/operasional. Jadi, penerapan GCG tidak hanya diterapkan pada jenjang tertentu, tetapi harus diterapkan pada seluruh jenjang organisasi. Begitu pula penerapan pada area bisnis/operasional, tidak hanya dite­rapkan pada area tertentu, tetapi harus diterapkan pada seluruh area bisnis/operasional.

Faktor kedua, leadership role model. Setiap manajer lini di Bank Mantap harus menjadi role model bagi sub-ordinate-nya. Dalam hal ini, peran top management (direksi dan manajer senior) menjadi sangat penting. Sebagai jajaran manajemen, mereka tidak hanya memberikan arahan, tetapi juga menjadi contoh dalam setiap perilaku, sikap, pengambilan keputusan, dan tindakan lainnya. Sehingga, seluruh manajer lini dan pegawai di bawahnya akan mengikuti contoh perilaku dan tindakan tersebut, sebagai bagian dari penerapan budaya perusahaan, termasuk GCG.

Peran teknologi dalam pene­rapan GCG, menurut Endra, tentu saja sangat diperhatikan perusahaan. Dalam setiap penerapan teknologi baru, bank ini selalu memperhatikan risiko, mitigasi, kontrol, dan SDM-nya. Seperti ketika akan meluncurkan mobile banking, diperbaiki sistem dan TI-nya, dididik orang-orangnya, bukan sekadar kejar target.

“Pemanfaatan TI tidak dapat dihindari, termasuk dalam penerapan GCG. Contohnya, improvement pada website per­usahaan, antara lain digunakan sebagai sarana penyebaran informasi perusahaan, baik informasi keuangan maupun nonkeuangan. Hal ini sebagai bentuk transparansi perusahaan kepada seluruh stakeholder,” Endra menerangkan.

Contoh lainnya, pengembang­an whistleblowing system secara online. Seluruh stakeholder dapat menyampaikan informasi yang akurat sesuai dengan fakta mengenai terjadinya berbagai bentuk pelanggaran atau kecurangan (fraud) yang dapat berpotensi merugikan per­usahaan. Dalam setiap proses pengembangan TI, Endra meng­ungkapkan, pihaknya selalu mengikuti standar internasional yang telah diterima secara luas, seperti COBIT dan ISO 27001 dalam hal Information Security Management System (ISMS).

Ia menegaskan, ke depan Bank Mantap tetap fokus pada pelayanan untuk pensiunan, dan menjadikan pensiunan sebagai wirauasaha baru, yang memang merupakan core business bank ini. “Pengalaman selama kurang-lebih lima tahun membuat Bank Mantap mulai memahami kebutuhan nasabah pensiunan. Oleh sebab itu, seluruh desain produk, layanan, infrastruktur jaringan kantor, dan kompetensi SDM diarahkan untuk mendukung core business tersebut,” tuturnya.

Keunggulan yang unik dan spesifik itu menjadikan Bank Mantap sebagai satu-satunya bank saat ini yang benar-benar fokus melayani para pensiunan. Ditambah lagi dengan dukung­an salah satu pemegang saham, yaitu Taspen, yang memberikan dukungan knowledge terkait bisnis pensiunan.

Endra menargetkan pertumbuhan tinggi di tahun 2021. Meskipun masa pandemi, pihaknya yakin Bank Mantap akan mencapai kinerja lebih bagus. Kegiatan pemasaran yang semula dilakukan secara konvensional, kini lebih didorong dengan dukungan TI dan telemarketing. Tentu saja, “Keamanannya dikuatkan. Ini menjadi perhatian Bank Mantap. Walau WFH, kami terus kontrol keamanan dalam bekerja para karyawan. Risiko pun kami jaga agar terus dikelola dengan baik, terjaga GCG nya di tahun 2021 juga,” Endra menandaskan.§

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)