BAZNAS Tumbuh Melalui Transformasi Digital

Perkembangan teknologi digital beberapa tahun terakhir mendorong makin banyak orang beraktivitas secara online. Bukan hanya aktivitas bekerja, belajar, maupun berbelanja (e-commerce), tetapi juga aktivitas lain, termasuk berdonasi, seperti membayar zakat, infak, dan sedekah (ZIS).

Arifin Purwakananta - CEO, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS)

Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI, lembaga yang ditugaskan secara resmi oleh Pemerintah RI untuk mengumpulkan dan mendistribusikan ZIS, sigap merespons perkembangan zaman dengan beradaptasi melalui transformasi digital dalam menghimpun donasi. Berbagai strategi layanan digital telah dikembangkan BAZNAS dalam beberapa tahun terakhir.

Memulai zakat digital sejak 2016, upaya digitisasi dilakukan BAZNAS, dilanjutkan dengan digitalisasi yang terus dikembangkan, menjadi upaya transformasi digital yang lebih menyeluruh dari semua proses kerja BAZNAS. Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia sejak Maret 2020, membuat program zakat digital BAZNAS semakin efektif, lantaran masyarakat dianjurkan untuk lebih banyak berdiam di rumah, dan mengurangi aktivitas di luar. Hal ini turut berimbas pada masyarakat yang ingin berdonasi, termasuk membayar ZIS. Mereka tidak lagi harus menemui panitia seperti biasanya, namun bisa melakukannya secara online melalui aplikasi di ponsel cerdasnya.

Ada sejumlah program yang dirancang BAZNAS untuk mendigitalisasi layanannya. Pertama, Digital Fundraising. Menurut Direktur Utama BAZNAS RI, M Arifin Purwakananta, layanan zakat digital diluncurkan untuk memudahkan masyarakat dalam berzakat dan bersedekah, khususnya untuk membantu mereka yang terdampak pandemi dan para mustahik.

Transformasi layanan zakat ini menggunakan pendekatan multiplatform. Untuk itu, BAZNAS berkolaborasi dengan lebih dari 80 mitra platform digital, yang terdiri dari beragam peran, antara lain sebagai fasilitas payment gateway, crowdfunding, e-commerce, penyediaan QRIS untuk ZIS, dan penyedia teknologi chatbot ataupun teknologi augmented reality (AR).

Selain itu, BAZNAS membangun sistem dan pola komunikasi digital. Langkah ini dimulai dengan membuat website yang lebih informatif. BAZNAS juga merambah ranah digital lainnya, seperti membuat kanal khusus di YouTube, bernama BAZNAS TV News, yang berisikan update informasi layanan BAZNAS. “Kami juga mengubah event panggung menjadi online event,” ujar Arifin.

BAZNAS menjalankan layanan zakat digital untuk muzaki dengan menggunakan pola omnichannel. Teknologi dimanfaatkan pada setiap tahap, mulai dari interaksi dan transaksi, analisis data, loyalty program, hingga service development. Tujuannya, menghadirkan pengalaman terbaik bagi muzaki (customer experience) dalam berzakat.

“Ketika muzaki mendapatkan pengalaman berzakat yang memuaskan, mereka akan kembali menggunakan layanan kami dan bahkan bisa menjadi marketer kepada rekan dan keluarganya,” kata Arifin. Sejauh ini, menurutnya, sekitar 70% donatur yang mendonasikan ZIS melalui BAZNAS, kembali menggunakan layanan lembaga ini.

BAZNAS juga menerapkan program distribusi atau penyaluran ZIS secara digital. Dalam hal ini, BAZNAS mengembangkan sejumlah aplikasi yang mendukung penyaluran bantuan ini, seperti Modul Akademik dan Pembinaan Beasiswa untuk para penerima beasiswa BAZNAS, Hijrah untuk para mustahik dari kalangan mualaf, dan sistem ATM Beras.

Yang menarik disimak adalah ATM Beras. Sistem yang dibuat oleh tim dari Institut Teknologi Bandung ini memudahkan para mustahik untuk mengambil jatah bantuan berasnya. Mereka tidak harus antre dan tidak harus malu lantaran mesti bertemu dengan petugas seperti pada cara konvensional.

Seperti halnya mesin ATM, cara kerjanya sudah otomatis, pengguna cukup menggunakan kartunya. BAZNAS sudah menggunakannya sejak 2017 dan sudah memasangnya di sejumlah lokasi. “Kami memulai ATM beras di 2017 dengan bekerja sama dengan para lulusan ITB, sekarang sudah banyak lembaga lain yang juga menggunakannya,” kata Arifin.

Tak cukup di situ, BAZNAS juga punya program pemberdayaan warung secara digital. Aplikasi ZMART Mobile yang dikembangkannya telah diterapkan di lebih dari 300 warung binaan di Jabodetabek, untuk membantu pencatatan transaksi, stok barang, dan layanan pembayaran. Di masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), aplikasi ini telah memudahkan pemilik warung tetap dapat berbelanja, karena cukup memesan via smartphone dan barang akan dikirimkan oleh distributor.

Untuk mendukung berjalannya aneka aplikasi/platform tadi, BAZNAS telah memiliki sistem backbone yang disebut SIMBA, singkatan dari Sistem Informasi dan Manajemen BAZNAS. Sistem yang dikembangkan sejak 2012 ini berperan penting dalam pencatatan aktivitas pengelolaan ZIS secara nasional. “Sistem ini dibangun dan dikelola oleh SDM internal kami dan menjadi modal yang kuat bagi transformasi digital di BAZNAS,” kata Arifin.

Saat ini, ada lebih dari 170 pengguna aktif dari jejaring BAZNAS di seluruh Indonesia. Penggunaan sistem ini terus meningkat sejak 2015. Bahkan, selama masa pandemi tahun 2020 terjadi peningkatan penggunaan sebesar 24,6%.

Program transformasi berbasis teknologi digital yang telah disusun dan dijalankan itu memang mendukung kinerja BAZNAS tingkat Pusat ini. Dalam kurun waktu lima tahun, realisasi pengumpulan zakat lembaga meningkat signifikan, yakni empat kali lipat, dari Rp 94 miliar pada 2015 menjadi Rp 395 miliar pada 2020. Secara nasional pengumpulan zakat di seluruh Indonesia oleh BAZNAS dan LAZ sebesar Rp 12 triliun di tahun 2020. Dalam lima tahun terakhir ini, sistem pengelolaan layanan zakat digital BAZNAS semakin diminati, dengan pertumbuhan empat kali lipat selama lima tahun ini.

Arifin menjelaskan bahwa penyaluran ZIS melalui BAZNAS akan tercatat secara digital; baik dalam hal total nilai penghimpunan, total nilai penyaluran, jumlah penerima donasi, lokasi penyaluran donasi, hingga pengukuran dampak bantuan.§

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)