Bermodal Nekat, Amos Budiono Tuai Hasil Bisnis Roti

Foto : beyond-banking.co

Gigih, pantang menyerah, rupanya bisa menjadi salah satu kunci menggapai sukses. Bukan cuma berani atau nekat yang beda-beda tipis dengan ngawur. Hal ini telah dibuktikan oleh Amos Budiono dalam memulai usaha roti. Meski sempat dilarang oleh sang isteri, Amos tetap pantang menyerah untuk mencoba lagi menjalani usaha tersebut.

"Sewaktu ingin memulai bisnis ini, isteri saya sempat melarang," kata Amos saat menceritakan perjalanannya memulai bisnis roti.

Amos mengaku, isterinya sempat memiliki trauma masa lalu lantaran usaha roti kecil-kecilan yang dibangun bersama dirinya mengalami kegagalan. Usaha kecil-kecilan dengan mutu roti yang cuma pas-pasan semasa pacaran dulu, akhirnya habis tergilas oleh pabrik roti yang mutunya jauh lebih baik. Setelah pabrik roti kecil yang dirintisnya ditutup, Amos diterima sebagai karyawan di pabrik roti yang membuat pabrik roti kecilnya bangkrut..

Frida mengaku lebih suka melihat sang suami bekerja di pabrik roti milik pengusaha besar dibandingkan merintis bisnis roti sendiri. Kekhawatiran Frida cukup masuk akal. Pasalnya, Amos telah bekerja di sebuah pabrik roti di Jawa Timur selama 10 tahun.

Dengan masa kerja yang panjang, Amos tentunya sudah menduduki jabatan yang cukup tinggi. Tak hanya itu, penghasilan yang diterima Amos pun dinilai telah mencukupi kebutuhan keluarganya. Sementara, risiko yang harus ditanggung sebagai karyawan juga lebih minim dibandingkan harus memulai bisnis yang baru.

Meski sang isteri sempat melarang, namun Amos tetap gigih mewujudkan niatnya.  Walaupun merasa sedikit keberatan, sebagai isteri Frida tunduk kepada keputusan suami, dan mendukung sepenuhnya keputusan suaminya.

"Kegagalan bukan akhir segalanya. Sejauh belum menyerah, kegagalan hanya sukses yang tertunda. Saya tidak mau tenggelam meratapi kegagalan, tetapi berusaha bangkit dan mencoba lagi." demikian keyakinan Amos.

Berguru selama 10 tahun di pabrik roti dengan mutu terbaik, dari mulai merintis sampai bertumbuh menjadi pabrik roti terbesar pada jamannya, membuat Amos menguasai seluruh jenis pekerjaan dari A sampai Z, bahkan melakukan berbagai improvement.

Pengetahuan dan pengalaman yang ditimbanya selaku karyawan yang bekerja seperti untuk Tuhan dan bukannya manusia, semakin meningkatkan integritas dan rasa percaya diri Amos.

Bertemu Rekan Bisnis

Tepatnya pada 1988, bersama rekannya dari Bandung, Amos mencoba bangkit lagi untuk merintis pabrik roti kecil di Porong-Sidoarjo. Sikap gigih dan pantang menyerah yang dimiliki sepasang sahabat ini membuat mereka tetap bertahan di masa-masa sulit dan terus berjuang untuk mengatasi segala rintangan.

Dengan tetap mengandalkan kemurahan Tuhan sampai pabrik kecil yang bagaikan pelanduk di tengah pertarungan para gajah ini tetap bisa eksis, bahkan terus berkembang. Tenggang rasa yang tinggi, saling percaya dan bisa dipercaya, membuat perkongsian mereka terus bertahan selama 25 tahun.

Kalaupun pada 2013, sepasang sahabat yang layaknya bagaikan saudara ini merencanakan untuk mengakhiri perkongsian, sama sekali bukan karena adanya pertikaian, namun semata-mata demi alih generasi. Tahun 2014, kerja sama bisnis berakhir, tetapi tali persahabatan dan persaudaraan tetap rukun abadi, demikian harapan mereka. (Adv)

Sumber : beyond-banking.co

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)