Cerita Yendi Amalia, Pebisnis Muda Inovatif di Bidang Layanan Bahasa (Part 1)

Yendi Amalia ( foto : beyond-banking.co )

Dewasa ini, banyak anak muda di Indonesia yang mentransformasikan ide-ide kreatifnya dengan membangun sebuah perusahaan startup. Berbagai inovasi dilakukan untuk mendukung perusahaan mereka agar semakin dikenal oleh masyarakat luas. Salah satunya adalah Yendi Amalia, pendiri sekaligus CEO Wordsmith Group, yang bersedia ditemui untuk menceritakan kisah perjalanan bisnisnya di salah satu kafe yang berada di Kemang, Jakarta Selatan

Yendi tidak menduga bahwa usaha yang dia rintis dengan modal coba-coba ternyata berkembang pesat dalam 3 tahun. Usaha yang dirintis bersama tiga rekannya dan beroperasi sejak 2012 tersebut bergerak di bidang layanan bahasa. Meskipun banyak yang menggeluti usaha tersebut, tetapi inovasi yang dimiliki membuatnya lebih unggul dibanding yang lain.

Mengimplementasi konsep mobile workstyle, memiliki staf in-house yang tersebar di beberapa kota dan mampu memberikan solusi terhadap 14 bahasa merupakan inovasi yang diunggulkan, mengingat saat ini Indonesia sudah membuka lebar pintu kerjasama dengan luar negeri. “Saat ini yang paling banyak dibutuhkan adalah layanan bahasa seperti Spanyol, Arab, Mandarin, dan Korea,” ucapnya.

Selain itu, kemampuan mengerti terminologi dari setiap artikel yang akan diterjemahkan juga menjadi kelebihan yang ditonjolkan. “Kita selalu mendalami konteks dari tulisan yang akan diterjemahkan, apa sih objektifnya? Siapa sih yang bakal baca tulisan ini? Jadi kita pengin konsumennya bisa paham dengan bacaan yang dibaca,” ujar Yendi yang merupakan lulusan Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Bandung ini.

Berkat keunggulan tersebut, Wordsmith Group sudah menjadi langganan dari perusahaan besar dari dalam dan luar negeri di antaranya World Bank, European Chamber, dan American Chamber.

Namun, Yendi tidak menampik bahwa usaha yang digelutinya masih banyak hal yang perlu diperbaiki. Salah satunya adalah semangat untuk terus menjalankan bisnis dan tidak menyerah di tengah jalan. “Kalau kita bekerja kan gue dibayar nih, tapi pas udah bener-bener terjun di dunia usaha dan punya pegawai, sense-nya tuh beda banget, itu kayak saya punya istri 10 orang yang harus dinafkahi nih hahaha,” kelakarnya.

Pages: 1 2

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)