Dari Penjaga Warnet, Ia Kini Miliki E-Commerce Nomor Satu di Indonesia

Seperti kata-kata Bung Karno, bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh maka akan jatuh di antara bintang-bintang. Kutipan itulah yang menjadi penyemangat dan pedoman William Tanuwijaya, COE dan founder situs belanja online nomor satu di Indonesia, Tokopedia.

Delapan tahun sudah Tokopedia hadir melayani kebutuhan belanja online konsumennya. Kini Tokopedia pun semakin mantap menjejakkan langkahnya di industri e-commerce tanah air.

Siapa sangka, awal mula sukses William Tanuwijaya berangkat dari profesinya sebagai penjaga warnet. Profesi ini dilakoninya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya saat berkuliah di Jakarta. Keterbatasan ekonomi membuat pemuda kelahiran Pematangsiantar 36 tahun lalu ini harus membiayai hidupnya sendiri. Selain menjadi penjaga warnet, ia pun sempat bekerja di sebuah forum jual beli online.

Dari kedua pekerjaannya ini, William menyaksikan betapa internet dapat membantu seseorang untuk belajar apa saja. Selain itu, ia pun menyadari bahwa internet sering kali menjadi lahan tindak kriminal penipuan. Ia lalu melihat peluang untuk mengubah stigma internet menjadi tempat transaksi yang aman dan wadah untuk saling membantu.

"Selain melihat internet sebagai celah, saya juga riset bahwa masyarakat Indonesia itu banyak yang butuh kerja sampingan. Saya langsung kepikiran ingin membuat perusahaan semacam eBay," kata William pada acara Business Scale Up e-Commerce Workshop di Jakarta, Selasa (21/11/2017).

Harapan untuk mewujudkan idenya saat itu adalah bantuan modal dari atasannya. Namun sayang gagasan itu tak disambut baik. Penolakan itu justru membuat William terus mencari jalan lain untuk mendapatkan modal. Tanpa menyerah, ia terus berusaha meyakinkan pemodal untuk berinvestasi.

"Bahasa Inggris saya dulu pas-pasan tetapi dikarenakan investor kami kebanyakan dari Jepang. Jadi kemampuan bahasa Inggris saya tidak terlalu terlihat buruk di depan mereka yang sama-sama tidak terlalu lancar berbahasa Inggris," ujar William.

Mimpinya pun terwujud pada tahun 2009. Tokopedia lahir dengan 90 persen saham milik investor lokal. Namun kini Tokopedia telah menjadi raksasa yang merajai situs belanja online di Indonesia. Berbagai suntikan dana asing pun terus mengalir untuk menyokong pertumbuhannya.

Seperti apa yang terjadi pada Facebook, prinsip ekonomi berbagi yang diterapkan dalam Tokopedia ternyata bersambut. Meskipun tidak memiliki toko atau produk, Tokopedia justru menyediakan fasilitas bagi pengusaha dan UKM yang ingin mengembangkan usahanya.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)