Komunitas Pebisnis Bali: AAG Pratista - Sukses berkat Tantangan

Tak terbayang besarnya tantangan yang harus dihadapi Anak Agung Gde Pratista (36) yang akrab dipanggil Agung saat harus pulang ke Bali. Bagaimana tidak, Agung yang lahir dan besar di Jakarta dan menyelesaikan pendidikannya di Boston University, di usianya yang saat itu (tahun 2002) baru menginjak 24 tahun diberi tanggung jawab besar untuk mengelola budget hotel milik keluarga mereka di Kuta, Bali Niksoma Boutique Beach Resort.

Komunitas Pengusaha Muda Bali: AAG Pratista - Sukses berkat Tantangan
Komunitas Pengusaha Muda Bali: AAG Pratista - Sukses berkat Tantangan

Sebagai anak muda yang terbiasa hidup di kota besar dan berlatar belakang pendidikan teknik industri, tak pernah terlintas di benak Agung pulang ke kampung halamannya. Bali bagi Agung hanyalah tempat berlibur, bukan untuk bekerja. Namun tanggung jawabnya sebagai anak laki-laki tertua memaksa anak keempat dari lima bersaudara ini harus menerima tugas itu.

Sambil menunggu selesainya renovasi, Agung membuka 5aSec disaat jasa laundry belum begitu familiar bagi masyarakat Bali. Tapi bagi Agung kondisi itu malah merupakan tantangan karena melihat potensi besarnya peluang bisnis ini dan dibuktikan hingga berakhirnya masa kerjasamanya dengan 5aSec di tahun 2012 lalu Agung malah berani mengibarkan bendera sendiri, Brite Laundry.

Bali Niksoma Hotel (niksoma dalam bahasa Sanskerta artinya tabungan) ini sebenarnya sudah dimiliki keluarga Agung sejak tahun 1983 yang tanggung jawab pengelolaannya diserahkan pada pihak luar. Pasca renovasi menjadi butik hotel dan berganti nama menjadi Bali Niksoma Boutique Beach Resort, Agung melihat harus ada perbaikan di bidang manajemen bila tidak ingin apa yang sudah dilakukan menjadi sia-sia. “Apa gunanya kalau tetap seperti dulu”, ujar Agung mengulang kembali pernyataan yang disampaikan pada sang ayah.

Kendati tanggung jawabnya tidak ringan, Agung tidak menganggapnya sebagai beban. Ia menyadari harus pasang badan dulu setelah orang tuanya memasuki masa pensiun. Agung sadar kalau dirinya tidak punya pengalaman sama sekali di bisnis hospitality, sehingga saat sang ayah menanyakan “Kamu mengerti apa tentang hotel?”, Agung mengakui tidak mengerti apa-apa, tapi dengan yakin menanyakan pada sang ayah, “Mau berapa lama kembali modal?”. Malah dengan berani Agung menjamin hanya memerlukan 1 tahun saja untuk menjadikan hotel 58 kamar di atas lahan 1 Ha ini bisa beroperasional dengan baik.

Setelah malakukan take over management , hal pertama yang dilakukannya adalah pemilihan karyawan. “Produk itu penting, tapi service lebih penting”, alasan Agung. Tak tanggung-tanggung, Agung terjun tangan langsung dalam pemilihan karyawan karena menyadari betapa pentingnya peran karyawan. “Saya berusaha membuat karyawan nyaman dan senang bekerja karena sesungguhnya merekalah yang berhubungan langsung dengan para tamu” . Agung tak bosan-bosannya mengingatkan 90 orang karyawan hotelnya untuk mengutamakan “service dengan hati”

Langkah Agung ternyata tepat, walaupun terletak di daerah low to medium market, tingkat hunian hotel butik bintang empatnya rata-rata mencapai 80% dimana 70% diantaranya merupakan repeater guest dengan masa tinggal 7 – 14 hari.

Pages: 1 2

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)