BPPT Mendorong Produk Inovasi Melalui Sinergi dan Kolaborasi

Kepala BPPT Hammam Riza menjelaskan bahwa saat ini beberapa hasil inovasi BPPT untuk menanggulangi  Covid-19 sedang  dalam proses produksi masal.  Salah satunya adalah PCR test kit yang dapat mendukung program pengujian PCR sebanyak 20.000 spesimen per hari seperti diamanatkan Presiden Jokowi.  Hammam berharap Kementerian Kesehatan dan BNPB dapat segera menggunakan produk dalam negeri untuk program tersebut.

Kepala BPPT Hammam Riza

Produk PCR test kit ini dikembangkan oleh BPPT bekerjasama dengan startup company Nusantics yang mendisain dan mengembangkan prototip produk tersebut,  serta mendapat dukungan crowdfunding dari Gerakan Indonesia Pasti Bisa. Adapun dalam proses produksi secara massal memanfaatkan fasilitas produksi Bio Farma.

Hammam juga menjelaskan, BPPT berkolaborasi dengan Universitas Gadjah Mada, Universitas Airlangga, dan menggandeng PT Hepatika Mataram telah berhasil mengembangkan produk Rapid Diagnostic Test (RDT) untuk deteksi IgG/IgM, dan saat ini dalam persiapan produksi masal. Ia mengungkapkan, kelebihan alat tes cepat untuk deteksi antibodi IgG/IgM ini memiliki akurasi, sensitivitas, serta spesifisitas yang lebih baik daripada produk impor. Validasi produk ini telah dilakukan di beberapa RS di Yogyakarta, Semarang, Solo dan Surabaya.

“Harga produk-produk hasil inovasi dalam negeri ini juga jauh lebih murah dibandingkan yang impor. Produk RDT untuk deteksi IgG/IgM  harganya Rp 75 ribu, yang impor sekitar Rp 200 ribu. Untuk PCR test kit harganya hanya Rp 375 ribu, sementara impor harganya Rp 1 juta-1,5 juta,” ungkap Hammam.

Hingga 23 Juni 2020, Menristek Bambang Brojonegoro menyebutkan, bahwa Konsorsium Riset dan Teknologi untuk penanganan Covid-19 yang dikoordinasikan Kemenristek/BRIN sudah menghasilkan 57 produk inovasi, dan sembilan di antaranya sudah masuk tahap produksi. Dari sembilan produk inovasi ini, lima produk merupakan inovasi yang dikembangkan BPPT. Hammam menjabarkan, lima produk inovasi tersebut: rapid diagnostic test (rapid test kit), PCR (Polymerase Chain Reactiontest kit, Mobile Laboratory BSL-2, emergency ventilator, dan sistem pencitraan medis berbasis AI. “Kelimanya ini sudah produksi semua,” ujarnya.

Untuk Mobile Laboratory BSL-2, Hammam mengatakan, sudah ada yang aktif digunakan di Jakarta Timur yang dioperasikan Dinkes DKI. Mobile lab yang memiliki bio safety level 2 ini diproduksi sebagai solusi terhadap keterbatasan lab untuk pemeriksaan tes swab. Dalam mengembangkannya, BPPT juga bekerjasama dengan sejumlah engineer dalam negeri. Mobile Lab BSL-2 ini juga telah mengikuti standar WHO yang dilengkapi sejumlah peralatan untuk mendukung pemeriksaan swab Covid-19, antara lain peralatan PCR, bio-safety cabinet, dan peralatan untuk pemrosesan limbah laboratorium.

Terkait Mobile Laboratory BSL-2 ini, BPPT juga sudah menyiapkan aplikasi Pantau Covid-19 untuk melakukan registrasi secara online bagi orang yang akan melakukan swab test. Aplikasi akan memberitahu jadwal dan RS mana yang harus didatangi beserta nomor swab station. Kemudian, pasien diarahkan ke Mobile Lab BSL-2 tersebut. “Belum ada mobile lab yang bisa digerakkan secara cepat selain BSL-2 saat ini,” ujar Hammam.

Untuk pengembangan emergency portable ventilator, BPPT telah menjalin kesepakatan dengan tiga industri nasional dari kalangan BUMN dan swasta, yakni PT LEN, PT Polijaya, dan PT Dharma. Ventilator ini mengadopsi desain open source yang dikembangkan di Eropa dengan modifikasi sesuai dengan material serta komponen yang ada di pasar lokal, dengan menggunakan sistem ambu bagHammam mengatakan, setiap industri tersebut sekarang sudah bisa memproduksi 50 ventilator per minggu. Totalnya sekarang sudah ada 15 pengembang yang sedang diuji ventilatornya oleh Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan.

“Memang sudah berencana diproduksi lebih banyak, karena kalau seminggu sudah bisa produksi 50 ventilator, dalam sebulan mungkin 200 ventilator dari setiap industri bisa dilakukan untuk memenuhi kebutuhan. Maka, saya berharap para penggunanya nanti juga mau menggunakan ventilator made in Indonesia tersebut,” kata Hammam.

Kemudian, pada penggunaan teknologi AI, Hammam menjelaskan, prinsip penggunaannya berdasarkan dataset CT-scan dan X-ray yang dikumpulkan baik dari dalam maupun luar negeri. Runutan prosesnya mulai dari akuisisi data citra melalui platform data mining, anotasi oleh radiolog, kemudian pengembangan model AI melalui supervised training, validasi oleh radiolog/dokter dan penyempurnaan model, sampai deployment system di Cloud. 

Di luar kelima produk inovasi tersebut, BPPT juga sedang mengembangkan telemedicine dan satu alat rapid test lagi yang berdasarkan antigen. Dalam telemedicine tersebut, Hammam berharap, nantinya para dokter dari wilayah kota bisa berhubungan dengan para dokter umum di puskesmas atau faskes tingkat 1 agar terwujud sesuatu yang dalam istilah kedokteran disebut “penegakan diagnosis”, untuk membantu masyarakat di pelosok.

Untuk rapid test berdasarkan antigen, sedang dalam tahap persiapan produksi oleh ITB dan Universitas Padjadjaran. “Mudah-mudahan sudah bisa menghasilkan reagen yang diproduksi massal pada Agustus.” katanya.

Dalam Konsorsium Riset dan Teknologi untuk penanganan Covid-19 yang dikoordinasi Kemenristek/BRIN, BPPT Bersama institusi lain membetuk Task Force Riset dan Inovasi Teknologi untuk penanganan Covid-19 (TFRIC19), yang beranggotakan 8 institusi litbang pemerintah, 18 perguruan tinggi, 4 kalangan industri, 6 startup, 3 rumah sakit, dan 15 komunitas. Peran mereka spesifik pada inovasi teknologi.

Setelah TFRIC-19 terbentuk, Hammam membaginya menjadi lima sub-task force. Kelimanya adalah (1) tes non PCR (Rapid Diagnostic Test Kit) yang di dalamnya ada empat jenis kegiatan, termasuk rapid test kit untuk deteksi antigen dan microchip biosensor untuk deteksi antigen Covid-19; (2) tes PCR (swab test); (3) sistem citra medis berbasis artificial intelligence (AI); (4) pemetaan whole genome sequencing origin orang Indonesia yang terinfeksi untuk pengembangan obat dan vaksin; serta (5) sarana dan prasarana alat kesehatan, termasuk di dalamnya Lab Mobile BSL2 dan ventilator.

“Dapat dilihat bahwa kelima (hal) ini membentuk sebuah rantai atau ekosistem dari teknologi yang dibutuhkan dalam melaksanakan testing, tracing, tracking, detecting, isolating, dan treating, yang memang harus dijalankan untuk memutus penyebaran Covid-19,” kata Hammam.

Hammam menegaskan, BPPT akan terus mendorong serta mengawal inovasi teknologi yang dikerjakan oleh superteam yang terdiri dari berbagai stakeholder ABCG (academician, business, community, government), dari ujung ke ujung, mulai dari uji klinis sampai mendapatkan izin edar, termasuk berkoordinasi dengan rumah sakit terkait data AI agar citra X-ray dan CT-Scan bisa diunggah.

“Ini adalah momentum untuk mengangkat tema Inovasi Indonesia. Mulai dari pengembang inovasi, industri, hingga ke masyarakat, semuanya dalam negeri. Karya anak bangsa,” kata Hammam penuh kebanggaan. (*)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)