Didik Purwanto, CEO PT Elnusa Trans Samudera Membawa Perusahaan Melompat Lebih Tinggi

Di lingkungan Grup Elnusa, sosok Didik Purwanto yang kini menjabat sebagai CEO PT Elnusa Trans Samudera (ETSA) bukanlah nama asing. Bukan saja karena ia telah bergabung dalam Grup Elnusa sejak 2006, tetapi juga karena sederet prestasi yang ditorehkannya.

Sewaktu menjadi direksi PT Elnusa Petrofin (2014-akhir 2018) misalnya --sebagai direktur keuangan-- bersama direksi lainnya, Didik berhasil membawa Elnusa Petrofin tumbuh cepat. Ketika tim direksi masuk (2014), level profit Elnusa Petrofin masih di level Rp 40 miliar/tahun, dan di akhir 2018 sudah meraih profit tahunan Rp 240-an miliar/tahun. Perusahaan itu melesat cepat berkat berbagai upaya pengembangan yang dilakukan hingga kemudian menjadi tulang punggung Grup Elnusa.

Prestasi cemerlang Didik juga sangat jelas setelah ia didapuk menjadi CEO ETSA. Dari sisi prestasi dan kinerja, tunjuk contoh, CEO ETSA sejak 27 Maret 2019 ini membawa perusahaan menggapai pertumbuhan kinerja yang pesat. Pada 2019 revenue ETSA berkisar Rp 364 miliar setahun, dan pada 2020 sudah menyentuh Rp 663 miliar. Tumbuh nyaris berlipat.

Dari sisi laba setelah pajak, ETSA mampu membukukan laba positif Rp 40 miliar. Dengan catatan itu, perusahaan bisa menjaga ritme pertumbuhan kinclong, dalam lima tahun terakhir berhasil mencatatkan CAGR (compounded annual growth rate) sebesar 42%.

Jelas, itu bukan prestasi yang mudah, terlebih ETSA membidangi marine support, menyasar industri minyak dan gas yang secara makro industrinya sedang kurang kondusif. Pemain lain di sektor ini banyak yang megap-megap kesulitan. Tak salah, dalam survei Best CEO tahun ini, Didik termasuk dalam jajaran CEO terbaik Indonesia. Tak diragukan, sebagai CEO, ia mampu memerankan dengan baik fungsi CEO sebagai perintis (pelopor), panutan, penyelaras, dan pemberdaya bagi perusahaan yang ia pimpin.

Didik Purwanto - CEO PT Elnusa Trans Samudera

Begitu diangkat sebagai CEO ETSA, Didik langsung menggelar gebrakan jangka pendek dan jangka panjang. Untuk jangka pendek, ia membereskan hal-hal fundamental terkait keuangan. Maklum, ia memang punya basis keahlian di bidang keuangan.

“Begitu masuk sebagai dirut, kami lakukan beberapa hal yang immediate, misalnya piutang yang belum terbayar oleh klien. Klien yang belum membayar padahal proyek sudah selesai hampir satu tahun, maka beberapa saya datangi langsung. Juga, kami lakukan sejumlah efisiensi biaya, termasuk melakukan realokasi aset dan anggaran ke pos yang lebih produktif. Ini saja sudah berdampak signifikan,” kata lulusan S-1 Akuntansi Universitas Trisakti dan Master of Science dari Universitas of Birmingham (UK) ini.

Dari sisi komersial, Didik memimpin timnya untuk melakukan banyak sinergi dan kolaborasi, baik dengan perusahaan dalam satu grup (Elnusa) maupun dengan pihak lain. “Kami berkoordinasi lebih intensif dengan grup. Kami memperkuat kolaborasi,” ia menegaskan.

Di bidang pemasaran, salah satu terobosan penting yang dilakukan Didik ialah mengubah strategi tender. Ia menceritakan, sebelumnya ETSA terlalu banyak mengikuti tender, tetapi rasio kalahnya (lost ratio) sangat tinggi. Padahal, untuk mengikuti tiap proses tender butuh effort yang besar, baik dari sisi sumber daya manusia, uang, maupun waktu.

Dari pengalaman masa lalu yang banyak kalah tender itu, ia mengajak timnya mengubah pola. “Lebih baik kami selektif saja dalam memilih tender yang akan kami ikuti, tapi semua resource dan persiapan kami lakukan secara lebih matang dan memadai agar menang. Pola itu kami jalankan sehingga success rate kami jadi lebih tinggi, meningkat cukup signifikan,” ungkapnya.

Hal itu juga dibarengi dengan strategi manajemen aset yang kemudian difokuskan untuk mendapatkan proyek yang durasinya panjang guna mengurangi faktor ketidakpastian. Dengan cara itu, hasil kinerja lebih maksimal.

Strategi Didik cukup efektif. Contohnya, banyak menjalin kolaborasi dengan para pemilik kapal yang menganggur. Ini ternyata bisa mendapatkan peluang bisnis di tengah krisis. “Kami ajak mereka kolaborasi, daripada mereka mem-PHK-kan karyawan/kru atau bahkan mungkin kapalnya bakal ditarik bank karena nggak bayar pinjaman, lalu kami ajak sama-sama cari klien,” katanya. Pendapatan dari sharing asset ini ternyata signifikan dan sama besarnya dengan pendapatan dari aset milik sendiri.

“Kami punya value proposition, orang-orang berkompetensi, jaringan pasar, kemudian juga dengan nama Elnusa, itu yang kami bawa dalam kolaborasi,” Didik menandaskan. Luar biasa, kontrak bisnis yang dimenangi ETSA dari model bisnis kolaborasi ini, sepanjang 2020 saja nilainya mencapai hampir Rp 500 miliar.

Tak lupa, salah satu elemen penting untuk mencapai kinerja terbaik yaitu Didik melakukan penyelarasan ke timnya dengan terus membangun komunikasi dua arah di dalam organisasi perusahaan. Ia meyakini, komunikasi merupakan hal yang vital untuk mencapai sukses leadership. Dalam hal ini, ia bukan tipe orang yang memaksakan kehendaknya dalam membuat kebijakan, tetapi mementingkan komunikasi dua arah, termasuk dalam menjalankan kebijakan transformasi. “Saya suka meminta masukan dari teman-teman,” ujarnya.

Tak berhenti di situ. Fungsi-fungsi dalam organisasi ETSA juga dipertajam. Salah satunya, melakukan reorganisasi, dengan cara mengatur span of control agar bagian-bagian yang harus dikontrol per seorang leader tidak terlalu luas. Harapannya, masing-masing bisa lebih fokus dalam mengerjakan tanggung jawabnya.

“Kami lakukan re-grouping fungsi utama. Kami bagi ke divisi support dan divisi operation. Lalu, untuk hal-hal strategis, kami lakukan sentralisasi, namun yang di level bawah tetap ada ruang-ruang otonomi,” ia menjelaskan.

Tak lupa, Didik juga mendorong perusahaannya menerapkan teknologi terbaru di bisnisnya. Termasuk, di bidang teknologi dan peralatan kapal untuk menopang operasional bisnis secara lebih akurat dan terkini.

Nah, dalam menghadapi situasi pandemi Covid-19 ini, Didik juga melakukan berbagai upaya untuk menyelamatkan perusahaan dan menyelaraskan laju bisnis dengan tantangan kondisi pandemi. Jelas, itu bukan hal yang mudah. Perusahaan di bidang marine support, yang memberikan jasa seatruck, seabus, crew boat, tug boat, landing craft tank, dan accommodation barge, ini langsung melakukan langkah-langkah mitigasi.

“Yang pertama kami lakukan adalah bagaimana menjaga keselamatan dan kesehatan karyawan dulu, kemudian yang lebih kompleks lagi adalah merombak dan menjadwalkan ulang tim lapangan, karena kan ada yang onboard sekian hari dalam sekian bulan dan orangnya berapa banyak dan seterusnya. Harus kami atur supaya aman,” Didik menjelaskan.

Ia tak ingin kinerja perusahaannya terjun bebas gara-gara Covid-19. Karena itu, pihaknya melakukan sejumlah langkah mitigasi risiko dan mencegah segala kemungkinan hambatan. Misalnya, langsung membuat aturan untuk menerapkan protokol kesehatan, juga membentuk satgas Covid-19 internal yang disebut Covid Ranger untuk mengawasi dan memastikan bahwa arahan dan aturan prokes dilaksanakan, baik yang di atas kapal maupun di kantor. Misalnya, sebelum naik kapal, kru ETSA wajib dites swab PCR, untuk memastikan kapal ETSA tidak menjadi klaster penyebaran.

Masa depan bisnis sekarang memang banyak ketidakpastian dengan adanya pandemi Covid-19, tetapi manajemen ETSA yang dipimpin Didik tetap optimistis akan mampu menangkap peluang-peluang pengembangan bisnis untuk menjaga kinerja perusahaan.

“Sekarang kami juga coba masuk bisnis hulu, sudah eye-ing (mengincar) ke bisnis transportasi untuk produk LNG. Pemerintah ke depan akan mengembangkan pemerataan penggunaan LNG ke seluruh Indonesia sehingga akan ada penugasan dari Kementerian ESDM kepada perusahaan-perusahaan terkait, termasuk Pertamina. Kami melihat potensi di situ,” papar Didik yang sebelumnya menjabat sebagai Vice President of Controller PT Elnusa Tbk. (holding).

Selain itu, pihaknya juga akan mengembangkan bisnis melalui kolaborasi dengan anak-anak usaha Pertamina. Kolaborasi itu akan dijalankan untuk layanan transportasi produk-produk curah seperti pupuk. “Banyak opportunity yang sedang kami jajaki dan kembangkan,” ujar Didik dengan nada penuh optimisme. Ia yakin kerjasama seperti itu akan berhasil karena sama-sama menguntungkan. Yang penting, dalam bisnis mesti dicari titik keseimbangan agar semua pihak sama-sama mendapatkan untung.

Dalam memimpin perusahaan, Didik selalu menekankan pentingnya menjaga dan mendapatkan trust. Bagaimanapun, ia yakin, trust merupakan elemen kunci dalam berbisnis. “Saya sering sampaikan ke teman-teman di ETSA, ’Perusahaan ini adalah representasi dari kita semua. Kalau kita jalannya baik, ya perusahaan akan baik. Kalau kita jelek, ya perusahaan akan jelek juga. Jadi, mesti dimulai dari masing-masing kita’,” Didik mengungkapkan prinsipnya.

Dari sisi SDM, sebagai CEO, Didik selama ini lebih fokus pada upaya menyinergikan potensi-potensi bagus di dalam organisasi perusahaan serta menggabungkan pengalaman dan kompetensi mereka agar bisa menjadi kekuatan sinergis bagi ETSA. Dan, tentu saja, juga terus mendorong anak buah agar terus mau belajar, berinovasi, dan mengembangkan diri melalui pola-pola partnership. (*)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)