DV Medika Berbisnis dengan Nurani di Tengah Pandemi

Tidaklah keliru jika menyebut pandemi Covid-19 menim­bulkan keguncangan sekaligus tanda tanya bagi banyak pihak, termasuk kalangan pebisnis. Tak terkecuali bagi Vincentius Lianto, Founder dan Chairman DV Medika. Namun, sementara pertanyaan bagi keba­nyakan pebisnis mengarah pada sejauh mana bisa melewati badai ini, tanda tanya yang dihadapi Vincent berfikir lebih jauh kedalam nurani dan mengusik sanubari: bagaimana harus bertindak? Haruskah kita mengambil keuntungan sebesar-besarnya ditengah situasi masyarakat yang membutuhkan dan kesulitan? Rasanya saya tidak sampai kedalam hati untuk melakukannya

Kita semua tahu, sejak kasus pertama Covid-19 diumumkan di Indonesia (awal Maret 2020), permintaan alat kesehatan, khususnya masker, hand sanitizer, alat pelindung diri (APD) tenaga medis, dan ventilator,melonjak tajam sehingga terjadi kelangkaan yang memicu lompatan harga. Dalam kondisi demikian, Vincent sebagai Founder dan Chairman DV Medika yang mengambil jalan menuruti nuraninya yang bagi sebagian orang mungkin dinilai naif.

Vincentius Lianto, Founder dan Chairman DV Medika

Ya, dia menekankan kepada jajarannya agar mengelola kondisi ini dengan tidakmengambil keuntungan yang memanfaatkan situasi,dan sedapat mungkin berbuat lebih untuk membantu masyarakat dan pemerintah. Intinya, di tengah hiruk pikuk permintaan yang melebihi kemampuan menyediakan pasokan, DV Medika memilih untuk menentukan harga jual dibawah harga pasar.

“Saya bicara kepada manajemen bahwa kita harus membantu pemerintah dan masyarakat sesuai dengan peran kita, yakni menyediakan alat kesehatan dengan harga yang wajar, tidak ikut-ikutan memanfaatkan situasi,” ungkapnya.

Mungkin muncul pertanyaan: ketika harga beli dari principal sudah naik, ditambah pula ongkos kirim yang naik, bagaimana bisa DV Medika tak mengambil margin tinggi?

Menurut Vincent, tidak elok bila mengambil margin keuntungan berlebihan ditengah kondisi seperti ini. Maka perusahaan menetapkan laba sedikit dibawah laba sebelum terjadi krisis.Ini dilakukan agar tidak memberatkan konsumen. Dia memberikan contoh, ketika masker dipasar­an dijual seharga Rp150 ribu, DV Medika masih menjual dengan harga Rp120.000.

Demikian juga halnya dengan ventilator, alat yang sangat diperlukan untuk penanganan Covid-19. Sebagai perusahaan yang sudah belasan tahun menjadi agen merek Draeger dari Jerman, DV Medika telah membeli sejumlah stok untuk keperluan 6 bulan kedepan di akhir tahun 2019,tanpa berpikir dan memperkirakan akan terjadi pandemi sama sekali.Maka ketika DV Medika memiliki stok ventilator kira-kira sebanyak 40 unit, beberapa unit mobile Xray digital, beberapa puluh unit patient monitor, DV Medika dapat memenuhi permintaan rumah sakit yang menjadi pelanggannya dengan cepat dan dengan harga yang tidak dinaikkan, walaupun ketika itu nilai tukar dollar melonjak mendekati 17.000 per 1 US$.

“Ketika harga beli tinggi, kalau kami masih punya stok,kami bisa subsidi. Walaupun belinya tinggi, kami menetapkan hanya mengambil selisih yang sedikit saja sehingga tidak memberatkan mereka, karena kita dalam kondisi yang sama-sama berat sekarang,” kata Vincent.Bahkan, perusahaannya memberikan potongan harga khusus agar lebih terjangkau lagi atau bahkan beberapa diantaranya diberikan secara cuma-cuma ke rumah sakit yang menurutnya memang perlu dibantu dan benar-benar kesulitan menangani wabah ini, juga kepada sahabat dan kolega, serta yayasan kemanusiaan dan masyarakat yang tidak mampu memperolehnya. Karena menurut Vincent, secara tidak langsung DV Medika bisa membantu masyarakat melalui upaya-upaya yang dilakukan rumah sakit.

Tresia Hutapea, Manajer Showroom DV Medika, menambahkan, dalam menjalankan penjualan di lapangan saat ini, pihaknya berusaha menjaga harga tetap wajar di tengah kelangkaan dan melambungnya harga alat kesehatan walaupun kini stok sudah menipis.Penjualan hanya disesuaikan dengan harga principal, tidak mengambil kesempatan di te­ngah situasi pandemi.“Begitu barang datang, kami langsung jual dengan harga standar. Kami tidak melakukan penimbunan. 1-2 jam bisa langsung habis, karena harga jual kami tidak tinggi,” kata Tresia.

Besarnya daya serap pasar membuat masker, ventilator, dan APD dalam kondisi kosong saat tulisan ini dibuat. DV Medika sedang dalam tahap pembelian lagi ke pabrik, tetapi barang datang paling cepat pada Juli. “Setiap hari kami pantau terus, walaupun misalnya kami hanya dapat satu atau dua karton, kami akan langsung jual ke tenaga medis,” kata Tresia.Adapun untuk peralatan medis yang merupakan barang modal, seperti Hospital Bed, CT Scan, MRI, X-ray stasioner tidak mengalami kenaikan harga, tetapi permintaannya berada pada kondisi yang biasa cenderung stagnan karena sebagianbesar rumah sakit sedang fokus menanganani Covid-19.

DV Medika juga menghentikan sementara penjualan masker dan hand sanitizer ke pedagang perantara agar tidak terjadi pembelian barang berlebihan sehingga semuanya diprio­ritaskan untuk end user dalam hal ini tenaga medis, rumah sakit, atau klinik.“Mohon maaf sementara waktu tidak diprioritaskan kepada pedagang perantara karena kalaupun kita kasih murah lalu mereka menaikkan harga tinggi, khawatir nanti user dan masyarakat akan tetap membeli mahal juga,” ujarnya.

Menurut Vincent, saat ini bukan momentum untuk menaikkan keuntungan bisnis dengan sebesar-besarnya. Dia justru percaya bahwa dengan hati yang tulus untuk membantu, niscaya di kemudian hari rumah sakit yang terjaga hubungan baiknya akan menjadi customer yang loyal. “Saya menyebutnya sebagai Spiritual Marketing dan menerapkan Prinsip Marketing with heart,” ujar lelaki yang murah senyum ini.

Vincent lalu menambahkan, dirinya percaya bahwa menjalankan bisnis tidak bisa hanya mengutamakan kalkulasi uang semata, tetapi juga perlu memiliki rasa empati kepada pelanggan. Dengan menjaga keduanya secara seimbang, reputasi baik akan terbentuk. Dan, reputasi yang baik akan menjadi hal yang selalu diingat.Begitu keyakinannya dalam menjalankan bisnis. “Selama ini pelanggan kami sangat mengapresiasi cara kami dalam berbisnis, karenanya kami memiliki basic customer loyal yang terus bertambah.Maka disaat mereka mengalami kondisi yang sulit sekarang,sudah sepantasnya kami membantu,” katanya

DV Medika sudah 21 tahun beroperasi sebagai distributor peralatan medis dan rumah sakit, serta menjadi mitra strategis profesional. Sedikitnya ada 2.000 item alat medis dan alat kesehatan yang didistribusikannya, serta lebih dari 1.000 rumah sakit dan perusahaan medis di seluruh Indonesia yang dilayaninya.

Di luar kebijakan di atas, sejak awal April lalu,perusahaan yang pendiriannya berbasis di Bali ini juga rutin berdonasi melalui program CSR bernama DV Medika Peduli dengan motto kami peduli, kami mengerti.DV Medika memberikan bantuan ke seluruh rumah sakit, klinik, dan pusat pelayanaan masyarakat dan keagamaan, berupa Hand Santizer, Masker KN95, Goggle optical protective, Baju APD berstandard medis. “Kami bersimpati terhadap peran serta mereka dalam membantu masyarakat terdampak Covid-19,” ujar Vincent.

Di dalam perusahaan sendiri, manajemen DV Medika juga mengeluarkan kebijakan yang disesuaikan dengan peraturanpemerintah, yakni menerapkan work from home(WFH). Pembayaran gaji pun dibayar penuh kendati bekerja WFH,Seluruh karyawan beserta keluarganya juga diberikan vitamin, masker, dan hand sanitizer.Vincent menegaskan, tidak ingin mengurangi hak karyawan agar mereka tetap bisa menjaga kelangsungan nafkah keluarga.

“Intinya, setulus hati kami supaya bisa menyelamatkan keluarga, karyawan dan seluruh pelanggan kami, agar bisa melawati situasi sulit ini” kata Vincent menutup pembicaraan di sore itu.§

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)