Elnusa Petrofin Terapkan 7 EPN Ways untuk Taklukkan Triple Shock

Elnusa Petrofin (EPN) punya satu impian besar: menjadi living company dengan pertumbuhan yang cepat. Menyadari hal itu tak mudah dicapai, mereka berupaya selalu disiplin dan fokus menjalankan bisnis yang sifatnya berkelanjutan. Juga, lincah (agile) dalam melakukan transformasi agar bisnisnya terus berkembang. Tak mengherankan, perusahaan yang bergerak di sektor hilir minyak dan gas ini berkembang dari awalnya hanya menangani distribusi, kini juga mengelola fleet management dan menambah kepemilikan aset terminal BBM dan LPG.

Kelincahan itu kini ditampakkan lagi di tengah disrupsi yang menghantam dunia bisnis dalam beberapa tahun terakhir, termasuk yang terberat: saat terjadi pandemi Covid-19. Haris Syahrudin, Direktur Utama EPN, mengatakan, dengan adanya pandemi, di sektor minyak dan gas, tantangan setahun terakhir menjadi triple shock, bukan lagi double shock. Yakni: harga minyak yang jatuh di awal pandemi, penurunan permintaan dari sektor pengonsumsi utama minyak karena terdampak pandemi, dan pelemahan rupiah karena fluktuasi kurs valas.

HARIS SYAHRUDIN -Direktur Utama Elnusa Petrofin.

Menghadapi situasi demikian, jajaran direksi segera mengidentifikasi masalah dan menggelar strategi agar bisnis tetap berjalan sebaik mungkin. “Kami merumuskan apa yang kami sebut sebagai 7 Elnusa Petrofin (EPN) Ways. Kami mengharapkan ini menjadi pegangan bagi seluruh karyawan sebagai pedoman untuk bisa survive melewati krisis di tahun 2020,” kata Haris.

Ia lalu memaparkan ketujuh strategi tersebut. Pertama, People Readiness. Sebagai pihak yang ditugaskan Pertamina untuk mendistribusikan BBM di luar Jawa setiap harinya, EPN segera membentuk tim satgas Covid-19 untuk memastikan keselamatan karyawan di lapangan dengan membuat SOP protokol kesehatan agar tidak terjadi kekosongan BBM, serta membuat rencana mitigasi apabila ada head atau manajer yang terpapar Covid-19 agar kegiatan operasi tidak terganggu.

Kedua, Security of Supply: memastikan kelancaran supply chain dengan menjaga komunikasi kepada para vendor. Ketiga, Infrastructure Readiness: memastikan keandalan aset serta penyelesaian pembangunan aset operasional. “Saat pandemi, kami harus memastikan semua sarana dan fasilitas dalam kondisi yang sehat, siap beroperasi, agar tetap melayani secara optimal,” Haris menegaskan.

Keempat, Business Process Improvement, antara lain membuat Business Continuous Plan (BCP), dan melakukan digitalisasi kegiatan operasional untuk mewadahi kebijakan work from home (WFH). Kelima, Customer Engagement. Keterbatasan interaksi langsung dengan para pelanggan disiasati dengan terobosan baru, yaitu membuat website yang interaktif. “Kami membangun website yang interaktif dengan para customer maupun calon customer. Ini dilakukan untuk memastikan interaksi dengan customer serta ekspektasinya tersampaikan kepada kami.”

Keenam, Cash Reserved & Cost Leadership. Haris mengatakan bahwa cash menjadi sangat penting di situasi pandemi untuk memastikan bahwa seluruh mitra bisa dibayar dengan baik sehingga bisa tetap mendukung EPN. “Kami menjaga supaya cash dari operasional ini selalu positif. Alhamdulillah, terus meningkat berkat upaya-upaya baru dalam collection terkait pengerjaan operasi kami,” tuturnya.

Pada cost leadership, dibuat strategi inisiatif, yakni mewajibkan reevaluasi terkait struktur cost, terutama activity-based cost di setiap unit bisnis “Masing-masing unit bisnis harus membuatnya sehingga bisa mempunyai cost leadership yang baru,” ujar Haris.

Lalu, yang ketujuh, Selective Investment: kehati-hatian dalam pengeluaran capex (capital expenditure), yaitu fokus pada low to medium risk. Haris menegaskan, EPN tidak mengambil investasi yang besar penuh risiko. “Memprioritaskan yang sifatnya strategis dan investasi yang bisa segera mendatangkan profit,” ujarnya.

Setelah dirumuskan dan ditetapkan, kebijakan-kebijakan ini kemudian dikomunikasikan ke jajaran pemimpin agar bisa dipahami seluruh karyawan. Lalu, dimasukkan ke dalam KPI masing-masing manajer, dan dilakukan evaluasi.

Sejumlah hasil telah tercapai dari penerapan 7 EPN Ways tersebut. Haris menjabarkan bahwa EPN bisa menjamin ketersediaan stok dan mengakselerasi procurement process. Berikutnya, tidak ada project execution dan project maintenance yang downtime. Cash flow operational pun selalu positif dan terjadi efisiensi di beberapa sektor biaya, antara lain traveling, utility, consultant, dan office facilities. “Kami juga bisa meningkatkan digital promotion dan rebranding di media sosial. Yang terpenting, EPN sampai saat ini tidak melakukan PHK,” ungkapnya.

Performa keuangan pun terlihat solid. Total aset EPN terus tumbuh: tahun 2019 sebesar Rp 1,9 triliun, tahun 2020 naik menjadi Rp 2,3 triliun. Kurun 2015-2019, anak usaha Elnusa Tbk. ini mencatat pertumbuhan pendapatan dengan CAGR 35%. ”Ketika masuk pandemi, terkoreksi sedikit, Revenue turun 13%, namun profitability ratio masih cukup baik. Dari sisi NPAT (net profit after tax) juga cukup bagus: CAGR-nya naik terus mencapai 38%, dan terkoreksi 18% di tahun 2020,” Haris memerinci.

Dari sisi revenue, EPN membukukan Rp 4,36 triliun tahun 2019, dan Rp 3,8 triliun tahun 2020 akibat pandemi. Kendati demikian, Haris lalu menyoroti bahwa di tengah situasi sulit, ternyata pendapatan dari sektor chemical meningkat: dahulu hanya sekitar Rp 30 miliar per tahun, sekarang mencapai sekitar Rp 300 miliar per tahun. Kemudian, ditinjau dari sisi kontribusi ke holding, pada tahun 2020 EPN tetap memberikan kontribusi profit yang terbesar di Grup Elnusa.

Selain kesiapan menghadapi pandemi dan kinerja yang relatif terjaga, ada sisi positif lain dari penerapan 7 EPN Ways, yaitu terciptanya digitalisasi pada area transportasi, storage management, daily operations, maintenance & tire management dan finance, sebagai bentuk penyesuaian gaya kerja di tengah situasi pandemi. Haris menyampaikan, berkat digitalisasi ini semua perusahaan bisa meningkatkan safety behavior dan operational excellence, serta memberikan experience baru kepada customer dalam kerjasama distribusi BBM. “Kami juga telah mengoptimalisasikan kegiatan operasional karena semuanya bisa termonitor di aplikasi, yang sedang kami upayakan bisa termonitor juga melalui smartphone,” tambahnya.

Yang menarik, untuk menghadapi pasca-Covid-19 nanti, pihaknya sudah siap untuk kembali lincah bergerak. Salah satunya, berencana melakukan beberapa akuisisi untuk pengembangan bisnis antara lain di sektor petrokimia.

“Infrastruktur ini kan perlu waktu, maka kami akan memprioritaskan untuk melakukan akuisisi bisnis yang mempunyai propsek menjanjikan di masa depan agar dapat mencatatkan revenue dan profit yang lebih cepat. Disamping pengembangan infrastruktur Mudah-mudahan ini bisa mempercepat pertumbuhan secara anorganik,” kata Haris penuh harap. Selagi menanti hal tersebut, ia beserta jajaran EPN terus fokus dan konsisten menerapkan 7 EPN Ways sebagai jalan hidup untuk menaklukkan triple shock yang masih menghantam. (*)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)