Elnusa Trans Samudera Tetap Tumbuh Cepat dan Optimistisdi Era Penuh Tantangan

Di tengah situasi makrobisnis yang belum sepenuhnya kondusif,  Elnusa Trans Samudera mampu mencatatkan kinerja kinclong dengan revenue yang tumbuh fantastis. Mau tahu rahasianya?

Tak banyak perusahaan di Indonesia yang tetap berkinerja mengkilap di saat makroekonomi negeri ini stagnan dalam 2-3 tahun terakhir. Terlebih, di sektor minyak dan gas (migas) serta shipping yang secara industri memang sedang mengalami tekanan. Meski demikian, tetap saja ada bintang dalam kegelapan, hanya kita yang mungkin belum melihatnya. Di bisnis migas dan shipping, salah satu pemain yang berkinerja cemerlang itu ialah PT Elnusa Trans Samudera (ETSA) yang bergerak di bidang marine support menyasar industri migas.

Tak berlebihan menyebut ETSA sebagai salah satu perusahaan yang berkinerja kinclong. Salah satu anak perusahaan PT Elnusa Tbk. ini membukukan pendapatan (revenue) yang tak pernah turun dalam situasi industri yang bak roller coaster. Angka pertumbuhannya selalu positif. Bila ditarik dalam horison lima tahun, pada 2016 revenue ETSA baru Rp 97 miliar dan di tahun 2020 ini sudah Rp 663 miliar.

“Dari sisi kinerja keuangan, dalam rentang lima tahun ter­akhir, ETSA terus tumbuh, baik dari sisi pendapatan maupun laba bersih dengan CAGR (compounded annual growth rate) sebesar 47%” kata Didik Purwanto, Direktur Utama ETSA. Pernyataan Didik jelas sangat faktual. Bahkan, dari 2019 ke 2020 ETSA tumbuh nyaris berlipat. Di 2019 revenue-nya Rp 364 miliar, dan di 2020 ini sudah menyentuh Rp 663 miliar. Laba setelah pajak pun sekitar Rp 40 miliar.

Jelas, itu bukan prestasi yang mudah diraih di situasi makrobisnis yang sangat menan­tang ini. ETSA membidangi jasa marine support dengan memberikan jasa pendukung operasional bagi kegiatan per­usahaan di bidang energi lepas pantai (offshore), termasuk perusahaan migas. Didirikan pada 8 November 2013, ETSA pada awalnya menyediakan jasa marine support, seperti jasa seatruck, seabus, crew boat, tug boat, landing craft tank, dan accommodation barge.

Cikal-bakal ETSA berawal dari sebuah unit bisnis (divisi/departemen) di Elnusa. Pada 2013 divisi bisnis itu di-spin off menjadi entitas perusahaan tersendiri dan diberi nama   ETSA. Jadi, sebelumnya, bisnis dan asetnya (termasuk kapal) sudah ada, tetapi hanya sebagai penunjang bisnis inti. Baru setelah dilakukan spin off, dan kemudian banyak terobosan, inovasi, dan pengembangan bisnis, sayap bisnisnya pun mengepak secara luas. Terjadi scalling-up yang signifikan.

Bagaimanapun, pilihan strategi spin off itu sangat smart. Grup Elnusa saat itu sudah punya aset berupa kapal dan sebagainya, tetapi masih sebatas digunakan untuk kepentingan sendiri (internal Grup). Dengan dibuatkan PT tersendiri yang independen, terbentuklah lini bisnis baru yang bisa lebih serius dikembangkan, memungkinkan melayani lebih banyak pelanggan, dan menjadi mesin profit baru.

“Utilisasi aset-aset marine support dari Elnusa Group pun menjadi semakin maksimal,” ujar Didik. Selain itu, juga memperkuat pendapatan dari segmen recurring income sehingga menambah stabilitas bisnis. Di sisi lain, secara makro, juga memperkuat perannya dalam mendukung ketahanan energi nasional melalui penyedian jasa pendukung kegiatan eksplorasi dan produksi migas.

Dari sisi cakupan bisnis, selama ini ETSA fokus pada pengembangan bisnis di offshore dan jasa marine support. Antara lain meliputi penyediaan kapal dan operasional seatruck, accommodation work barge, crane barge, utility vessel, seismic vessel, dredging barge, dan offshore vessel. Juga, bisnis jasa pengoperasian serta perawatan jetty/dermaga dan offshore terminal, dan jasa perbaikan single bouy mooring.

“Target pasar ETSA adalah customer yang membutuhkan jasa marine services, baik di sektor migas hulu, hilir, maupun non-oil & gas, di mana kami dapat melayani kebutuhan yang sangat spesifik maupun jasa-jasa yang lebih general,” Didik yang sebelumnya pernah menjabat sebagai direksi di PT Elnusa Petrofin ini menjelaskan.

Salah satu keunggulan kompetitif ETSA dibandingkan perusahaan sejenis lainnya, mampu mendukung induk perusahaannya dalam menyediakan layanan secara total solution atau one stop service. Di Indonesia, banyak perusahaan pelayaran, tetapi tidak banyak yang bisa melayani jenis-jenis layanan migas yang kompleks. Ada banyak juga perusahaan jasa survei seismik, tetapi tidak punya aset-aset pendukung untuk mengerjakan proyeknya untuk kegiatan ekplorasi migas di lepas pantai (offshore). Selain membutuhkan modal besar, diperlukan juga teknologi dan SDM dengan kualifikasi tertentu untuk mengoperasikannya. Nah, ETSA dalam naungan Grup Elnusa ini punya aset dan layanan lengkap, serta SDM yang memang berpengalaman di bidang tersebut.

Sebagai contoh, di bidang survei seismik. Setelah sebelumnya sukses mendukung pelaksanaan survei seismik di Vietnam dengan menggunakan armada kapal miliknya yang bernama MV ELSA REGENT, ETSA juga berkontribusi dalam pelaksanaan proyek eksplorasi strategis dalam survei seismik 2-D KKP Jambi Merang Wilayah Terbuka Bone Tukang Besi. Bahkan, survei dengan panjang lintasan 32.200 km ini tercatat sebagai survei seismik terbesar di Asia Pasifik dalam 10 tahun terakhir. Jadi, kompetensi, pengalaman, dan aset memang menjadi keunggulan ETSA dalam persaingan.

Untuk menjalankan bisnis ini, ETSA sangat serius melakukan investasi peralatan. Sebagai bagian dari strategi solusi total untuk menunjang kegiatan operasi para pelanggan, ETSA melakukan banyak investasi armada. Misalnya, punya unit kapal LCT (landing craft tank) yang secara khusus dilengkapi dengan crane untuk melayani pekerjaan well intervention, khususnya slickline services. Juga, punya banyak kapal barge (tongkang) yang didesain khusus dengan berbagai per­alatan canggih untuk berbagai jenis pekerjaan: ada kapal work barge, well testing barge, accommodation work barge, hingga dredging barge.

Bahkan, ETSA juga berinvestasi membeli satu unit seismic vessel untuk melayani pekerjaan survei seismik, baik dua maupun tiga dimensi (2-D dan 3-D). “ELSA REGENT mempunyai LOA 94 meter dengan berbagai keunggulannya. Ini kapal seismik pertama yang dimiliki oleh Grup Usaha Pertamina. Juga, merupakan kapal survei satu – satunya berbendera Indonesia dengan kapasitas terbesar untuk survei seismik dengan kemampuan towing streamer maksimum sampai dengan 12 set, dengan panjang masing-masing 10 km,” Didik menjelaskan. Selain memiliki peralatan survei broadband tercanggih di Indonesia, kapasitas tangki bahan bakar dan air kapal ini sangat besar sehinga bisa beroperasi terus-menerus tanpa pengisian bahan bakar dan air bersih selama 60 hari untuk mengerjakan proyek seismik 2-D.

Tak salah, demi memperkuat kinerja bisnisnya, sejak 2013 manajemen ETSA melakukan perbaikan di berbagai lini agar kompetensinya terus meningkat. Perbaikan dilakukan dengan berbagai cara, baik melalui investasi di infrastruktur, alat, kompetensi teknis, pemasaran, keuangan, pengembangan organisasi, hingga SDM. Upaya transformasi dan perbaikan itu makin intensif dilakukan 1,5 tahun terakhir sejak posisi CEO ETSA diamanatkan ke Didik yang memang berpengalaman sebagai eksekutif senior di lingkungan Grup Elnusa serta mendapatkan perhargaan karyawan terbaik PT Elnusa Tbk.

Lalu, pada 2017-2018, ETSA mengembangkan sayap dengan merambah proyek nonmigas, tepatnya telekomunikasi, dengan mengerjakan proyek Pre-Lay Grapnel Run. “Ini proyek dalam rangka mendukung proyek Palapa Ring. Kami mengerjakan instalasi kabel telekomunikasi serat optik bawah laut, sebagai tulang punggung jaringan telekomunikasi nasional dan internasional,” kata Didik.

Ia menambahkan, ETSA juga masuk ke marine services. Yakni, berupa proyek instalasi pipa bawah laut, untuk meng­hubungkan jaringan pipa minyak dan gas antarplatform di wilayah Poleng, Jawa Timur. Pada 2019-2020, ETSA melakukan next step dengan bermain di pasar luar negeri, yakni mengerjakan proyek Seismik SOCO di Vietnam. Pada kurun waktu tersebut, ETSA juga sukses menyelesaikan pekerjaan refurbishment dan instalasi Single Point Mooring (SPM) di wilayah Jawa Timur.

Pengembangan pun dilakukan di sisi teknologi. Contohnya, pada saat ETSA membangun accommodation work barge ELSA-8 dengan mengimplementasikan teknologi solar panel untuk penyediaan energi alternatif. Pada tahun 2020, ETSA yang 99,58% sahamnya dimiliki Elnusa dan 0,42% saham dimili­ki PT Elnusa Fabrikasi Kons­truksi, juga sudah menerapkan teknologi digital Computerized Maintenance Management System pada semua unit kapal miliknya.

Contoh lainnya, dalam proyek pengerukan di Pertami­na Hulu Mahakam, belum lama ini ETSA melakukan terobosan dengan penggunaan metode pengerukan baru excavator dredger. Berbagai teknologi dan inovasi itu tentu membantu dalam peningkatan kinerja dan efisiensi.

Terobosan dilakukan pula pada aspek manajemen. “ETSA hingga kini terus berproses membangun organisasi yang fit for purpose, lean, dan agile dengan memperkuat semua lini, baik marketing, business development, maupun business support untuk mencapai target RKAP dan RJPP dan menjawab tantangan saat ini dan mendatang,” Didik menerangkan.

Pihaknya pun aktif membangun integrasi budaya, kolaboratif, inovatif, dan cost awareness di seluruh tim di ETSA. “Kami juga berusaha meningkatkan kemampuan perusahaan melalui strategi capability margin, terutama pada proyek-proyek diversifikasi dan non-asset based,” kata Didik yang juga merupakan Tim Implementasi Standar Akuntasi Keuangan dari Ikatan Akuntan Indonesia (masa bakti 2020 -2024)

Dari sisi organisasi, manajemen ETSA juga terus melakukan transformasi dan memacu munculnya corporate entrepreneurship melalui berbagai pembelajaran. Contohnya, mengadakan pelatihan berkelanjutan dengan target minimal 100 jam per karyawan per tahun. Ada juga program Tour of duty, rotasi jabatan/posisi sebagai bagian dari peningkatan kemampuan manajerial personel di setiap lini, khususnya operasional.

Selain itu, juga melakukan Professional Hire (rekrutmen mid career) untuk menutup gap pengalaman dan kompetensi SDM inti agar cepat menguasai knowledge yang dibutuhkan. Tak ketinggalan, sering melakukan sharing session berupa meeting ataupun diskusi dalam rangka program pembelajaran untuk perbaikan ke depan.

Tak bisa dimungkiri, salah satu penopang terpenting bagusnya kinerja ETSA adalah pengembangan bisnis yang dilakukan. Dari sisi penetrasi pasar, ETSA terus menguatkan layanan pada existing market,misalnya dengan menambah aset untuk mening­katkan kapasitas pela­yanan. Namun, di sisi lain juga mengembangkan produk, yakni produk-produk baru di luar common unit ETSA sebelumnya. Misalnya, produk self-elevated platform, amphibious barge, dan backhoe dredger.

Diversifikasi bisnis juga dilakukan dengan mengembangkan bisnis baru yang selama ini belum pernah dilakukan. Antara lain, mengerjakan proyek fiber optic cable laying proyek Refurbishment SBM, marine services untuk offshore & marine terminal, dan instalasi subsea pipeline.

“Hal itu sangat penting dalam rangka pengembangan portofolio perusahaan untuk lebih masif dalam merambah pekerjaan-pekerjaan, khususnya di marine,” kata Didik yang lulus dengan predikat “Distinction” pada saat menempuh pendidikan masternya di University of Birmingham, United Kingdom serta memiliki kualifikasi CA (Chartered Accountant), CPA (Certified Public Accountant), dan CMA (Certified Management Accountant, Australia)

Selain proyek di lingkungan Grup Pertamina, ETSA menggarap pula proyek di Conoco Philips, yaitu memberikan jasa pengoperasian dan pe­rawatan dermaga dan offshore terminal yang telah memasuki tahun ke-4. ETSA pun sedang mengerjakan proyek untuk PT Pelabuhan Indonesia Maspion. Menurut Didik, pasar non-Pertamina semakin tumbuh dari tahun ke tahun dan berkontribusi cukup besar terhadap total pendapatan.

Dalam melayani pelanggan, ETSA menitikberatkan pada aspek safety, kepuasan pelanggan, dan performa yang excellent. Dengan komitmen tersebut, sampai saat ini ETSA mencatatkan Zero LTI (Loss Time Injury) dan Zero Fatality. Tingginya standar HSE (Health, Safety, Environment) dalam bekerja tidak hanya sangat berguna bagi ETSA, tetapi juga bagi semua stakeholder, baik itu klien, investor, masyarakat, maupun karyawan sendiri.

Hal tersebut juga tercermin pada angka survei kepuasan pelanggan yang tinggi dan beberapa penghargaan yang diterima ETSA. Proyek marine support services ETSA di ConocoPhilips (Grissik) Limited, misalnya, mendapatkan penghargaan 123.000 jam kerja aman dengan kinerja excellent, tanpa ada insiden ataupun fatality.

Di era pandemi Covid-19 ini, bisnis ETSA tentu saja juga menghadapi tantangan. “Bagi kami, aspek kesehatan kar­yawan menjadi tantangan baru yang belum pernah dialami sebelumnya, terlebih untuk para marine crew yang harus bekerja di ruangan tertutup dalam waktu yang lama. Pandemi ini memaksa kami melakukan penyesuaian tata waktu proyek karena proses pengadaan impor yang terhambat pandemi di negara asal impor barang. Di samping itu, pembatasan sosial juga menjadi tantangan tersendiri yang harus diatasi,” Didik mengungkapkan.

Pihaknya berusaha melakukan terobosan terkait pencegahan Covid-19 dengan membentuk Tim Covid-19 Ranger. Mereka bertugas memastikan arahan dan protokol kesehatan dilaksanakan, serta menjadwalkan PCR dan rapid antigen test berkala kepada karyawan yang akan onboard, baik di kantor ataupun lokasi kerja lapangan. Perusahaan mengawasi kondisi kesehatan pekerja tiap hari, melalui Covid-19 Ranger ataupun dokter perusahaan, secara langsung dan online.

Kondisi pandemi memang sangat berpengaruh terhadap aktivitas ETSA, baik di kantor pusat maupun seluruh wilayah operasi. Namun, perusahaan akan terus memprioritaskan kesehatan stakeholders, termasuk mendukung program Pemerintah dalam  mengadakan dalam hal vaksinasi demi menurunkan risiko terkena Covid-19.

Yang pasti, Didik dan timnya banyak bersyukur karena di tahun 2020 ini, dengan strategi optimalisasi aset (owned asset) dikombinasikan dengan strategi kemitraan, pengembangan pasar dan layanan, serta diversifikasi, ETSA bisa tumbuh dua digit. “Pendapatan ETSA mening­kat 82% dibanding tahun 2019 dan sekaligus mencapai 124% dari target RKAP,” ung­kap Didik semringah. Kinerja yang sangat ciamik, tentu saja.

Manajemen ETSA memahami, tantangan ke depan yang dihadapi dunia migas, khususnya di sektor marine, akan sangat dipengaruhi pertumbuhan energi-energi alternatif dan cadangan energi fosil yang ada. Manajemen melihat, dalam beberapa tahun ke depan energi fosil masih akan tetap digunakan oleh sebagian besar pasar. Namun, ETSA tidak akan menutup mata terhadap peluang baru dengan melakukan diversifikasi, seperti masuk ke bisnis pengerukan dan transportasi, serta prospek pekerjaan lainnya.

Yang juga menjadi tantangan, selain meningkatkan efisiensi biaya agar lebih kompetitif, juga bagaimana menambah portofolio pada proyek dan pasar baru, termasuk pasar nonmigas yang masih sangat besar. Tantangan lainnya, bagaimana mengenalkan ETSA lebih luas dan bisa berkompetisi, termasuk bisa masuk di banyak pasar mancanegara.

Melihat kekompakan tim di ETSA yang didukung kuatnya kepemimpinan Didik sebagai CEO, masa depan transformasi di ETSA tentu akan cerah. “Tugas saya sebagai leader lebih pada menyinergikan potensi-potensi bagus di dalam organi­sasi perusahaan ini, lalu saya gabungkan dengan pengalaman dan strategi sukses yang pernah saya jalankan di perushaaan lain,” kata Didik yang pernah menjabat sebagai VP Controller PT Elnusa Tbk. ini.

“Talenta di ETSA merupa­kan bibit unggul sejak awal. Di­tambah dengan kemauan untuk belajar, berinovasi, bersinergi, dan melakukan partnership, saya yakin prospek perusahaan ini ke depan akan sangat cerah,“ Didik menandaskan keyakinannya.§

Author : Sudarmadi

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)