Equine Global Terus Berinovasi untuk Bantu Klien Hadapi Disrupsi

Disrupsi teknologi memang terjadi dengan sangat luar biasa dalam satu dekade terakhir. Tak hanya merangsek pada ruang personal, tetapi juga dalam konteks bisnis pada pengelolaan korporasi. Ya, disrupsi sebagai perubahan yang radikal harus diakui telah secara masif memengaruhi industri, pekerja, pemerintah, masyarakat, pasar, dan perusahaan, sehingga memaksa orang menjalankan kebiasaan baru.

Dalam konteks pribadi, misalnya, untuk kebutuhan transportasi, dulu kita harus bersusah payah ke luar gedung, lalu ke pinggir jalan, untuk menghentikan taksi atau kendaraan umum. Sekarang, cukup dengan ujung jari saja, maka GoJek atau Grab akan datang di depan pintu di mana kita berada. Juga, kebutuhan makan dan belanja berbagai kebutuhan rumah tangga, tinggal klik tanpa keluar ke jalan raya, barang akan diantar rumah.

“Dalam konteks bisnis dan manajemen korporasi, disrupsi juga terjadi dengan masif dan berdampak besar. Tdak ada yang bisa menghindar dari era disrupsi ini, semua dipaksa berubah,” kata Yusuf Fadli, Direktur PT Equine Global yang banyak bergerak di berbagai bidang layanan dan solusi teknologi informasi (TI).

Yusuf Fadli, Direktur PT Equine Global

Dalam konteks bisnis dan manajemen korporasi, artinya kini para pemilik dan pengelola perusahaan harus melakukan adaptasi teknologi baru agar bisa menghadapi kompetisi dalam format dan lanskap yang baru. Pasar sangat dinamis, pelaku bisnis harus bisa mengikuti dinamika itu dengan menciptakan model-model bisnis baru agar tetap bisa tumbuh.

Teknologi jelas bisa membantu per­usahaan dalam membaca tren perubah­an konsumen, bahkan bisa membantu menciptakan kebutuhan di masyarakat sebagai pasar baru dari perusahaan. Contohnya, karena berselancar di marketplace, konsumen yang tadinya tak berniat membeli sesuatu akhirnya membeli produk menarik yang dipajang di marketplace atau e-commerce. Apalagi, bila barang itu dipromosikan di page mobile yang eye catching dengan bantuan algoritma tertentu.

Persis seperti yang dijelaskan Yusuf Fadli, banyak sekali teknologi baru yang bisa diimplementasikan kalangan pengelola bisnis untuk meningkatkan kinerja bisnis. Antara lain, big data analytics ,predictive analytics, artficial intelligence, serta data analytics, yang bisa menjadi solusi teknologi untuk “menciptakan kebutuhan” di market. “Tapi semua itu tergantung pada pengelola perusahaan dalam kemauannya mengadopsi teknologi untuk memajukan bisnis,” kata Fadli yang perusahaannya, Equine Global, biasa membantu klien menciptakan kebutuhan baru di market melalui bantuan teknologi.

Dalam hal ini, penting bagi para pengelola perusahaan untuk mengetahui dan melakukan instrospeksi, sebenarnya perusahaannya berada di stage (level) mana. Mengutip data riset SAP, Fadli menyebutkan, 40% dari bisnis yang disurvei masih mengadopsi pendekatan wait and see dalam menanggapi pandemi. “Mere­ka masih wait and see, menunggu akan seperti apa. Sisanya, mereka mengambil langkah akselerasi dengan cepat agar tetap tumbuh di masa ketidakpastian ini,” katanya.

Karena itulah, perusahaan harus memahami di level mana saat ini: masih menunggu saja atau sudah memasuki stage mendeteksi model bisnis baru, mendorong inisiatif baru, melakukan perubah­an dan transformasi, atau sudah adaptasi kebiasaan baru.

Menurut Fadli, Equine Global selama ini membantu klien untuk bisa beradaptasi dengan berbagai teknologi baru yang memang dibutuhkan perusahaan agar bisa kompetitif dan tetap tumbuh. Dalam hal ini, memang tergantung pada ketajam­an pengelola perusahaan dalam melihat perubahan akibat disrupsi. Setelah meng­analisis dampak perubahan akibat new normal, mereka kemudian bisa melakukan terobosan atau hanya sekadar diam.

Tiap stage membutuhkan upaya dan solusi yang berbeda. Fadli menegaskan, Equine Global memiliki komitmen kuat untuk mendampingi klien agar bisa bertransformasi dengan cepat dengan bantuan teknologi yang relevan.

Selama ini Equine Global menyediakan solusi yang komprehensif dan end to end, mulai dari perencanaan strategis, implementasi, hingga pengelolaan manajemen risiko. “Kami membantu perusahaan mulai dari pre-implementation, implementation, dan post-implementation,” ujar pria 32 tahun ini  yang sudah tujuh tahun berkarier di Equine Technologies Group ini.

Solusi yang disediakan Equine merupakan hasil kerjasama dengan SAP, perusahaan teknologi terkemuka asal Jerman. Produk SAP kemudian dikombinasi dan dikustomisasi dengan pengalaman Equine agar relevan dengan klien di Indonesia.

“Kami juga mampu mengimplementasi dengan cepat dan tepat. Sudah ada best practice di industrinya, sehingga pelanggan bisa mengadopsi solusi dengan efisien berdasarkan pengalaman panjang Equine. Kami juga membuat alternatif paket-paket layanan untuk klien, kami menyebutnya Equine Rapid Deployment Solutions (ERDS),” Fadli  menjelaskan.

ERDS terbukti merupakan solusi yang efektif di era new normal, terutama bagi perusahaan yang ingin mengembangkan back-end system yang mampu menopang resouces planning dengan cepat dan efisien. “Kata efisien ini sangat dibutuhkan di era pandemi. Solusi ERDS bisa diadopsi dengan cepat, hanya 2-3 bulan sudah running, harga terjangkau,” kata pria yang berusia 32 tahun ini.

Selama ini, kata Fadli, 80% pelanggan SAP ini adalah small Business- and medium enterprise (SME). Solusi ERDS memang dihadirkan agar bisa diadopsi secara lebih luas dan terjangkau. Dalam hal ini, peran Equine Global sebagai partner SAP adalah membantu klien dalam menyesuaikan diri dengan best practices dari perusahaan-perusahaan terbaik tersebut. Pihaknya membantu dengan adaptasi lokal dan mengupayakan agar operasional dan bisnis klien tidak terlalu terganggu akibat penerapan solusi tersebut.

Equine Global memang termasuk mitra terbaik SAP. Pada 2017, misalnya, Equine Global mendapatkan penghargaan dari SAP Indonesia sebagai Innovations Partner of the Year.

Tak hanya itu, Equine juga memperkuat layanan IT security yang di era mobile dan transformasi digital saat ini. Seiring dengan meningkatnya tren bekerja secara mobile (work from home) ‘anywhere & anytime’, karyawan mengakses sistem digital melalui jaringan publik (Internet), meningkat pula kebutuhan terhadap pengendalian keamanan layanan IT klien terhadap ancaman cyber security. Untuk mening­katkan jaminan proteksi ini, pihaknya mendampingi dan mengawal klien dalam melakukan penerapan standar internasio­nal sistem manajemen keamanan informasi (ISO 27001) serta technical security assessment terhadap potensi cyber hacking dan juga kerentanan lainnya. Terkait dengan kepatuhan regulasi (compliance), Equine pun membantu melakukan audit IT independen, seperti Peraturan Bank Indonesia, Peraturan OJK, Peraturan Menteri BUMN, dan lain-lain.

Di bawah Divisi LOB SAP, Equine Global terus meningkatkan kompetensi konsultannya dengan memberikan tantangan kepada mereka untuk mempelajari hal-hal baru. Fadli  menegaskan, penguasaan teknologi baru menjadi keunggulan yang dijaga oleh Equine Technologies Group agar terus berada di depan pesaing.

Tak mengherankan, para konsultan terus didorong untuk berinovasi, misalnya dengan diselenggarakannya agenda rutin Innovation Management Meeting. “Para konsultan mesti mempresentasikan apa saja inovasi yang sudah mereka ciptakan dan terapkan di hadapan manajemen Equine,” kata lulusan Teknik Informatika Institut Teknologi Harapan Bangsa, Bandung, 2010 itu. Inovasi sudah menjadi budaya agar terobosan baru bisa terus dilahirkan perusahaan, baik untuk kebutuhan Equine sendiri maupun klien.

Fadli meyakini di semua situasi selalu ada peluang. Disrupsi dan masa pandemi ini pun pasti bisa dilewati. Yang penting, harus mau berubah. Jangan heran, di Equine juga dibentuk  layanan Organization Change Management untuk mendorong perubahan pola pikir. Terutama, untuk mengubah pola pikir klien.

“Kami mendorong klien agar mindset berubah. Setelah mindset berubah, para pekerja mesti mendapatkan akses teknologi agar bisa lebih produktif dengan bantuan solusi TI. Akan sulit bagi karyawan di era ini untuk berkembang dan berkinerja maksimal jika mereka tidak mendapatkan akses atau dikenalkan dengan teknologi terbaru,” Fadli menegaskan.

Menariknya, dengan berbagai layanan TI yang inovatif, price layanan Equine Global bisa lebih terjangkau. “Memang di pasar, SAP itu seperti Lamborghini yang mahal, sulit digunakan SME. Karena itu, kami melakukan bundling. Yang tadinya mahal, dengan template berkat R&D kami, biaya dan waktu penerapan berkurang sepertiganya, tanpa mengurangi kualitas penerapan,” kata Fadli. Inilah yang didorong Equine melalui solusi ERDS agar lebih terjangkau oleh pelanggan yang lebih luas.

Equine pun menggandeng infrastructure provider, termasuk solusi cloud, agar lebih terjangkau oleh perusahaan mene­ngah. Solusi yang jelas sangat ditunggu di era pandemi ini yang butuh efisiensi di segala lini, tentu saja.§

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)