Florence Dhalia Orang Lokal Pertama yang Jadi Customer Logistic Director P&G Indonesia

Sudah 10 tahun Florence Dhalia berkiprah di P&G Indonesia. Saat ini, lulusan Teknik Industri Universitas Indonesia (2008-2012) ini menduduki posisi strategis se­bagai Customer Logistic Director P&G Indonesia. Ia menjadi orang lokal pertama yang menduduki posisi tersebut.

Tentunya, untuk mencapai posisi tersebut, bukanlah perkara gampang. Florence pun harus meniti karier dari bawah. “Saya mulai di P&G dari magang dan jabatan pertama saya adalah sebagai Market Demand & Supply Planning Manager. Kemudian, saya dipromosikan ke Transportation Senior Manager,” katanya.

Ada tiga peran yang dijalankan Florence saat ini. Pertama, sebagai Customer Logistic Director untuk ritel modern dan e-commerce P&G Indonesia. Kedua, sebagai Asia Pacific Line of Defense in Business Continuity Plan Leader. Ketiga, sebagai E-commerce Emerging Cluster Leader.

Florence Dhalia - Customer Logistic Director P&G Indonesia

Ia menjelaskan bagaimana dirinya mengembangkan kepemimpinannya di P&G. Yang pertama, perusahaannya mempunyai rule komposisi untuk leadership training 10-20-70. Yang artinya, 10% formal training; 20% informal training, misalnya membaca buku sendiri dan mencari mentor; dan 70% on the job training.

“Saya juga mempunyai mentor dan role model, di mana ketika saya mulai di P&G, saya beruntung mempunyai mentor yang fokus pada leadership saya dan saya juga mempunyai role model, yakni para leader yang ada di P&G,” Florence mengungkapkan.

Florence memiliki beberapa mentor dengan fungsi yang berbeda. Di antaranya, mentor untuk bimbingan karier dan mentor untuk keterampilan khusus yang perlu ia bangun, seperti presentasi kepada dewan pimpinan di tingkat regional.

“Di awal karier saya, semua itu bisa membantu menemukan kekuatan saya dan memolesnya. Saya juga meminta bantuan untuk mengetahui peluang saya saat ini, keahlian terbaru yang perlu dikembangkan, dll,” katanya.

Florence mengakui dirinya dipromosikan di jalur yang cukup cepat di P&G karena kebutuhan bisnis. Ini adalah keseimbangan antara kesiapan dan kesempatan. “Saya melakukan yang terbaik sejak awal karier saya dengan tanggung jawab yang semakin besar,” ujarnya. Ia pun mempersiapkan diri sejak pertama bergabung di P&G.

Di tahun ketiga, ia mulai memiliki tanggung jawab untuk memimpin tim dan memperluas pengaruh organisasi melalui beragam proyek multifungsi yang diberikan. Di sinilah ia mendapat peluang untuk memperlihatkan kapasitasnya, yang kebetulan manajemen P&G Indonesia juga tengah menyiapkan pemimpin-pemimpin lokal di perusahaan.

“Saya tahu, saya harus berlomba untuk menjadi angkatan pertama karena ke­sempatan ini tidak akan datang dua kali, dengan memberikan hasil terobosan dan
dengan niat memoles pengaruh serta  kedewasaan saya,” ungkap Florence.

Setelah promosi, ia harus memimpin rekan dan seniornya sendiri. “Itu ibarat sepatu besar untuk diisi karena direktur yang saya gantikan adalah pemimpin hebat dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Sementara saya berusia lima tahun di per­usahaan, saya sepenuhnya sadar bahwa saya harus mengejar banyak hal,” katanya.

Enam bulan pertama diakuinya sungguh berat, meskipun ia sudah mempersiapkan mental. Ia tahu dirinya harus mendapatkan kepercayaan dari timnya terlebih dahulu. Ia pun berhasil menyelaraskan kinerjanya.

“Tim kami diakui sebagai salah satu tim logistik pelanggan yang paling cakap. Pada akhirnya, yang sangat dihargai oleh tim saya adalah saya niat bekerja keras
untuk menjadi manajer orang-orang hebat,” ucapnya. 

 Menurutnya, salah satu yang paling penting adalah early responsibility. “Ketika saya sudah di-identified sebagai calon supply chain leader lokal pertama, saya diberi early responsibility. Dan sebagai seorang wanita, tentu ada plus-minusnya menurut saya, tetapi saya kemudian berprinsip saya akan leverage itu sebagai kekuatan,” katanya.

Memang, harus diakui selalu ada stigma tertentu pada female leaders dibandingkan laki-laki, terutama ketika memimpin di ranah yang diasosiasikan sebagai maskulin area, seperti transportasi dan rantai pasok. “Tetapi, kami (sebagai wanita) selama bisa membuktikan kemampuan, saya lihat tidak akan ada lagi cara pandang yang memban­ding-bandingkan pria versus wanita,” ungkap Florence.

Sebagai karyawan dan sebagai leader haruslah business oriented. “Artinya, jangan perhitungan ‘Apa ini pekerjaan saya? Apa saya harus mengerjakan lebih dari yang ada di dalam job desc saya?’” katanya tandas.

Juga harus berorientasi pada hasil karena ia sudah membuktikannya sendiri. Pencapaian-pencapaian yang ia raih datang mulai dari awal niat dan tidak hanya untuk meraih key performance indicator (KPI), tapi secara keseluruhan berorientasi agar apa yang ia kerjakan berdampak pada bisnis.

Sebagai pemimpin, sekarang Florence juga harus menyiapkan pemimpin berikutnya. Ia mempunyai sejumlah prinsip dalam membangun the next leader.

Prinsip pertama, leaders that deliver result and role model. Menjadi pemimpin itu harus bisa memberikan contoh. Pemimpin juga harus menunjukkan sebagai leader yang kuat dan confident. Sehingga, saat bawahan akan melakukan terobosan atau inovasi, me­reka juga menularkan rasa percaya dirinya karena mereka tahu pemimpinnya adalah orang yang bisa diandalkan. “Mereka tahu, apa yang mereka lakukan, saya akan mem-backing mereka,” ujarnya.

Kedua, harus menjadi leader yang bisa relateable, karena di dunia kerja itu bisa menghabiskan 30% dari waktu yang ada. “Jadi, sudah seharusnya kita membangun hubungan yang baik antara direct-report dan manager,” ungkapnya.

Terakhir, harus bisa menjadi leader yang memperhatikan tujuan karier mereka. “Jadi, saya sangat memperhatikan perkembangan direct-report saya, reward, dll. Itu adalah gaya saya menyiapkan next leader,” katanya.

Berikutnya, kata Florence, dalam upaya membangun leader dan great team, harus menciptakan pemimpin-pemimpin baru dengan melakukan selebrasi setiap ada promosi di dalam timnya. “Saya sangat bangga, hampir semua dalam tim saya sudah pernah saya promosikan, minimal satu kali,” ujarnya.

Bahkan, ada anggota timnya yang ia promosikan dan sekarang sudah menjadi direktur juga di P&G sehingga sekarang keduanya menjadi partner. Sampai saat ini, Florence pun terus mempromosikan anggota timnya yang berkinerja bagus dan patut dibanggakan.

Author : Dede Suryadi & Arie Liliyah

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)