Hadapi MEA, Sudahkah Indonesia Mencetak Talenta Lokal Berdaya Saing Global?

Dihadapkan dengan makin kompetitifnya persaingan internasional, Indonesia harus mampu menjadi tuan di negeri kita sendiri.

Perekonomian Indonesia masih memiliki peluang untuk semakin melejit ke depannya. Pemerintah di tahun ini sudah bersiap untuk menyiasati dinamika perekonomian domestik dan global, diantaranya mengucurkan belanja negara di awal-awal tahun serta menelurkan paket kebijakan jilid 10 untuk menstimulasi aktivitas ekonomi. Hal itu nantinya akan memberi efek ganda, antara lain meningkatkan konsumsi domestik, aliran investasi bertambah deras, serta mempercepat realisasi pembangunan infrastruktur. Indonesia menjadi primadona bagi aktivitas perekonomian di tingkat regional dan global serta menjadi negara tujuan investasi saat ini hingga masa yang akan datang.

Tahun lalu Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyebutkan realisasi investasi sebesar Rp 545,4 triliun, naik 17,8%, dibandingkan periode yang sama tahun 2014. Investasi menjadi salah satu faktor pendorong pertumbuhan ekonomi yang pada tahun lalu mencapai 4,79%. Pencapaian itu masih terbilang baik di tengah-tengah pelambatan perekonomian global.

Sejumlah indikator ekonomi tersebut menambah optimisme pelaku ekonomi dan bisnis. Mereka meyakini roda perekonomian akan melaju semakin kencang ke depannya. Kenyakinan tersebut semakin diperkuat oleh riset McKinsey Global Institute (2012) yang memperkirakan Indonesia pada 2030 akan menempati peringkat ke-7 negara dengan perekonomian terbesar di dunia, bahkan melampaui Inggris.

Imbas dari peningkatan ekonomi Indonesia, adalah lahirnya masyarakat kelas menengah yang semakin berkembang. Pada riset yang sama, McKinsey memprediksi peningkatan populasi kelas menengah akan naik menjadi 135 juta jiwa dari 45 juta jiwa di tahun 2012. Kajian serupa juga tercermin dari hasil riset Boston Consulting Group yang memperkirakan jumlah kelas menengah pada 2020 akan mencapai 141 juta jiwa atau 53% dari populasi penduduk Indonesia saat ini.

Imbas dari peningkatan ekonomi Indonesia, adalah lahirnya masyarakat kelas menengah yang semakin berkembang. Pada riset yang sama, McKinsey memprediksi peningkatan populasi kelas menengah akan naik menjadi 135 juta jiwa dari 45 juta jiwa di tahun 2012. Kajian serupa juga tercermin dari hasil riset Boston Consulting Group yang memperkirakan jumlah kelas menengah pada 2020 akan mencapai 141 juta jiwa atau 53% dari populasi penduduk  Indonesia saat ini.

Penambahan populasi kelas menengah akan berdampak pula pada peningkatan jumlah kelompok usia kerja produktif yang dapat berkontribusi bagi perekonomian nasional. Apabila merujuk data Bank Dunia, penduduk usia produktif di Indonesia yang di bawah umur 39 tahun tercatat sekitar 60% dari total populasi penduduk Indonesia. Penduduk dari kelas menengah itulah yang nantinya akan menjadi salah satu motor penting penggerak perekonomian nasional.

Disaat yang sama, potensi kekuatan ekonomi dan populasi penduduk yang demikian besar harus dibarengi dengan ketersediaan angkatan kerja yang berkualitas dan terampil. Hal ini dibutuhkan agar ketersediaan talenta-talenta lokal bisa memenuhi kebutuhan perusahaan dalam menghadapi kompetisi yang semakin ketat ke depannya. Boston Consulting Group mengungkapkan, Indonesia dalam lima tahun mendatang akan menghadapi tantangan besar terkait pasokan tenaga kerja berkualitas dan kompetitif di berbagai level, mulai tingkat pemula, menengah hingga eksekutif. Kebutuhan tenaga kerja di level menengah (setingkat manajer), mencapai sekitar 56% dari jumlah total kebutuhan tenaga kerja di berbagai sektor industri. Kajian ini juga mengingatkan Indonesia agar segera berbenah diri sehingga tidak terjadi kekurangan tenaga kerja yang handal dan berkualitas di masa mendatang.

Saat ini, keresahan itu sudah menyeruak dengan melihat hasil dari kompetisi HR Excellence Award 2016 yang diselenggarakan Majalah SWA beberapa waktu lalu. Sejumlah perusahaan yang mengikuti kompetisi tersebut kesulitan mencari SDM yang berkualifi kasi tinggi untuk memenuhi kebutuhan yang ada. Dunia usaha akan menghadapi tantangan yang berat apabila suplai talenta  yang berkualitas tinggi sulit dijumpai di bursa kerja.

Salah satu penanggulangan yang harus dilakukan segera adalah mempersiapkan SDM berkualitas melalui dunia pendidikan. Sayangnya, kondisi pendidikan Indonesia masih belum menggembirakan. Hal tersebut bisa tercermin dari riset yang dilansir sejumlah lembaga internasional. Sebagai contoh, peringkat Indonesia menurut Program for International Student Assessment (PISA) berada di posisi ke-64 dari 65 negara dalam hal matematika, sains dan membaca. Laporan The Learning Curve Pearson 2014, menempatkan Indonesia di posisi paling buncit dari 40 negara yang dinilai dalam pencapaian pendidikan. Sedangkan, survei yang dirilis Organization for Economic Co-operation and Development (OECD), Indonesia menduduki urutan ke-69 dari 76 negara yang ada. Adapun data UNICEF, menyebutkan sekitar 50% siswa di Indonesia belum memenuhi standar internasional.

Melihat ironi ini, setiap tahun pemerintah terus berusaha membenahi sistem pendidikan ke arah yang lebih baik dan modern. Hal ini dilakukan agar sistem pendidikan di Indonesia mampu membekali generasi muda yang siap kerja dan kompetitif. Salah satu upaya pemerintah untuk memajukan pendidikan yaitu dengan mencanangkan program wajib belajar sembilan tahun. Hal ini diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 yang menyatakan bahwa setiap warga negara yang berusia 7 sampai dengan 15 tahun wajib mengikuti pendidikan dasar. Pemerintah sendiri telah mengalokasikan anggaran terbersarnya pada bidang pendidikan sebesar 20% dari total APBN. Pemerintah menyadari, pendidikan berperan penting menciptakan SDM yang berkualitas tinggi.

Eratnya kaitan antara kualitas SDM dengan pertumbuhan ekonomi menjadi semakin krusial seiring dengan berjalannya Masyarakat Ekonomi ASEAN  (MEA). Akan tetapi, pekerjaan rumah ini tidak bisa ditanggung pemerintah seorang sendiri, dibutuhkan peran serta seluruh pihak baik swasta, organisasi, maupun masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam perbaikan kualitas pendidikan di Indonesia.

Sistem pendidikan adalah salah satu yang perlu dicermati ketika melakukan penyempuraan kualitas tersebut. Di Indonesia sendiri, dikenal beberapa sistem yang telah diterapkan di beberapa sekolah. Sistem pertama adalah sistem Pendidikan Nasional yang menerapkan wajib belajar 12 tahun. Sistem ini mengajarkan peserta didiknya (IB) yang memenuhi kebutuhan pendidikan siswa sejak usia 3 tahun hingga 19 tahun. Sistem pendidikan ala IB ini  bertujuan mengembangkan siswa menguasai ilmu pengetahuan, memompa motivasi dan kepercayaan diri siswanya untuk berani mengemukakan pendapatnya.

Dokumentasi SSS

Yang keempat adalah sistem pendidikan Amerika yang menonjolkan kurikulum berbasis Science, Technology, Engineering, Art dan Math (STEAM). Sistem ini dapat memenuhi kebutuhan pendidikan para siswanya sejak usia 3 sampai 18 tahun serta dapat mempersingkat masa pendidikan siswanya selama 14 tahun.

Memilih sistem pendidikan yang tepat dengan alur pendidikan yang jelas dan memiliki fl eksibilitas yang terarah diyakini telah didapatkan selama di bangku sekolah hingga kuliah telah membentuk para lulusan siap kerja dengan kemampuan berpikir kritis, kemampuan memecahkan masalah, keterampilan dalam memimpin, serta berkomunikasi dan mengutarakan pendapat secara aktif. Poin-poin tersebutlah yang dicari oleh setiap perusahaan dalam mencari calon karyawan agar dapat menempati posisi strategis di sebuah perusahaan.

Pada akhirnya, sangatlah penting untuk menentukan alur pendidikan yang tepat dan sesuai dengan talenta setiap individu yang ada. Dengan pendidikan yang tepat dan berkualitas internasional, maka akan dipastikan talenta lokal Indonesia mampu bersaing dalam setiap persaingan global kedepan.

 


 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)