Indonesia Infrastructure Finance (IIF) Mengedukasi Pentingnya Faktor Sosial dan Lingkungan

Sebagai lembaga pembiayaan, nama PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF), memang tidak sepopuler lembaga pembiayaan lainnya. Maklum, IIF sesuai mandatnya berfokus pada pembiayaan infrastruktur di Indonesia. Ditambah lagi, klien IIF adalah kalangan perusahaan atau instansi di bidang infrastruktur.

Secara ringkas, menurut Presdir IIF Reynaldi, IIF didesain sebagai suatu lembaga keuangan khusus di bidang infrastruktur. “Kami tidak crowding out (bersaing) dengan perbankan, tapi justru saling melengkapi,” Reynaldi menegaskan.

Pada situs web-nya tercantum IIF resmi berdiri pada 15 Januari 2010 melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No.100/PMK.010/2009. IIF dimiliki PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI, BUMN yang mewakili Kementerian Keuangan) sebesar 30%, ADB 19,99%, IFC (mewakili World Bank) 19,99%, KFW DEG 15,12%, dan Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC) 14,90%.

Dalam pembangunan infrastruktur, menurut Reynaldi, IIF punya misi sebagai katalis dan enabler. Sebagai katalis, melahirkan proyek-proyek infrastruktur baru. Adapun sebagai enabler, mendukung keberhasilan dan keberlanjutan proyek-proyek infrastruktur.

Reynaldi menuturkan, sebagai lembaga keuangan khusus, jenis infrastruktur yang dapat dibiayai IIF sudah diatur secara jelas oleh Peraturan Menteri Keuangan No. 100 Tahun 2010. Namun, ada keunikan pada model bisnis IIF, yakni selalu mengedepankan faktor sosial dan lingkungan. Ada delapan aspek sosial dan lingkungan yang menjadi perhatian IIF (lihat Boks). “Sustainability merupakan kata kunci dari seluruh proyek yang dibiayai IIF,” kata Reynaldi. “IIF tidak membiayai suatu proyek yang tidak memperhatikan faktor sosial dan lingkungan,” tambahnya.

Dari sisi bisnis, Reynaldi menegaskan bahwa IIF berkolaborasi dan saling komplementer dengan kalangan perbankan. “Kami sudah melakukan kerjasama co-financing dengan perbankan seperti BCA, Mandiri, BRI, dan BNI,” katanya.

Mengenai produk dan layanan, pihaknya memiliki keleluasaan, sehingga seluruh aspek project financing bisa dilayani. Untuk produk fund-based, IIF menyediakan pinjaman (loan) dan equity investment. Jenis pinjamannya mulai dari senior loan, mezzanine, dan junior loan. “Salah satu kekuatan kami adalah memberikan pinjaman jangka panjang 10-15 tahun, sebab kami tahu infrastruktur itu merupakan investasi jangka panjang,” katanya.

Reynaldi Hermansjah,President Director and CEO PT Indonesia Infrastructure Finance

Reynaldi mencontohkan, salah satu produk junior loan yang cukup istimewa yakni CDS (Cash Deficiency Support). Produk ini membantu pengelola proyek yang mengalami kekurangan cash flow agar keberlanjutan operasional proyeknya terjaga.

 Tailor-made Financing merupakan salah satu keunggulan IIF lainnya. “Kami bisa memberikan pinjaman jangka panjang dengan skema yg khusus memenuhi profil finansial proyek infrastruktur tersebut. Salah satunya yg unik adalah kemampuan untuk memberikan fasilitas Cash Deficiency Support, dimana produk ini tidak tersedia secara umum dalam konsep skema pembiayaan konvensional” kata Reynaldi.  “Kami Memang lebih fleksibel dalam memenuhi needs daripada proyek infrastruktur tersebut, namun tetap mengedepankan  dan tidak mengabaikan berbagai analisis risiko,” katanya lagi.

Selain layanan fund-based, IIF juga memiliki layanan Advisory, untuk membantu klien di sektor swasta dan publik pada setiap tahapan proses penyediaan infrastruktur. IIF pun memiliki layanan Credit Enhancement. Layanan ini diberikan kepada perusahaan yang ingin menerbitkan obligasi, untuk meningkatkan peringkat kreditnya. “Dengan kekuatan rating dan perusahaan kami, kami bisa meningkatkan kualitas kredit perusahaan tersebut,” kata Reynaldi.

Tiga besar sektor infrastruktur yang menjadi garapan IIF, yakni jalan tol, air bersih, dan ketenagalistrikan. “Fokus utama kami masih di sektor toll road,” ujar Reynaldi. Tol Cipali merupakan proyek pertama yang ikut dibiayai IIF. Proyek jalan tol selanjutnya yang dibiayai: Tol Jakarta-Cikampek II (Elevated), Tol Solo-Ngawi, Tol Ngawi-Kertosono, Cibitung Tanjung Priok Port Tollways (CTP), dan Tol Pemalang-Batang.

Untuk sektor air bersih, IIF berpartisipasi dalam pembiayaan proyek Sistem Penyediaan Air Minum di Umbulan (Jawa Timur), Lampung, dan Semarang Barat. Ketiga proyek ini, menurut Reynaldi, akan memberikan akses air bersih kepada sekitar 3 juta orang. Menurut Bappenas, hingga saat ini ada 32,5 juta orang Indonesia yang tak memiliki akses ke air bersih.

Di sektor ketenagalistrikan, saat ini IIF membiayai proyek pembangkit listrik tenaga angin di Sidrap. Selain itu, IIF juga akan masuk ke proyek tenaga surya (solar power). Belum lama ini, IIF juga menandatangani pembiayaan untuk proyek energi biomass. 

Hampir 10 tahun sudah IIF berkiprah. Reynaldi menilai perusahaannya sedang dalam masa pertumbuhan dan relatif sudah on the track. “IIF ingin memosisikan diri sebagai champion dalam pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan,” katanya.

Menurut Reynaldi, tantangan yang dihadapi timnya sebenarnya tergolong berat. Sebab, ketika ingin memberikan pembiayaan, prasyaratnya banyak, terutama klien harus memenuhi tanggung jawab sosial dan lingkungan. Hal ini berbeda dengan perbankan dan lembaga pembiayaan lainnya.

Karena itu, pihaknya harus mampu mengedukasi calon klien, bahwa proyek yang memperhatikan aspek sosial dan lingkungan ke depannya akan terhindar dari berbagai macam potensi masalah. “Apalagi, data dari World Bank juga menunjukkan ROI proyek seperti ini justru lebih bagus,” katanya.

Sebagai nakhoda, Reynaldi tentu harus mengarahkan anggota timnya, yang total berjumlah  90-an orang itu. “Buat saya, komunikasi adalah segalanya,” katanya menegaskan. Ia sering mengibaratkan dirinya dan timnya berada pada kapal dengan dayung. “Karena itu, mari kita mendayung dengan irama yang sama,” katanya.

Sarana penting untuk berkomunikasi adalah town hall meeting yang sering digelar. “Ketika saya masuk, saya juga sudah sampaikan apa rencana saya, strateginya seperti apa, dan apa peran serta yang saya harapkan dari teman-teman semua,” ungkapnya.

Program knowledge sharing juga kerap digelar di IIF. Termasuk mendatangkan perwakilan dari pihak shareholder. Menurut Reynaldi, perwakilan dari World Bank sering mengunjungi kantor IIF dan proyek-proyek untuk melihat implementasi dari aspek sosial dan lingkungan.

Reynaldi mengaku IIF baru saja menyelesaikan program Social and Environmental Awareness. Secara internal dilakukan knowledge sharing: konsep apa yang harus dilaksanakan dan bagaimana implementasinya.

Saat ini, IIF dalam proses untuk mendapatkan sertifikasi Green Climate Fund. Di Indonesia, sejauh ini baru satu institusi yang mendapatkannya. “Mudah mudahan kami menjadi yang kedua,” ujarnya.

Reynaldi melihat dalam lima tahun ke depan, bisnis infrastruktur di Indonesia masih tetap akan berkembang pesat. “Tol di Sulawesi saja baru ruas Menado- Bitung, dan Kalimantan baru ruas Balikpapan-Samarinda. Potensi pembangunan serta pembiayaan infrastruktur masih terbuka lebar. Apalagi, jika berbicara ibukota (negara) yang baru,” katanya.

Menurut Reynaldi, IIF masih akan mempertahankan tiga besar sektor garapannya selama ini: jalan tol, air bersih, dan ketenagalistrikan. Namun, ke depan pihaknya juga akan menggarap sektor baru yang sudah dibuka untuk IIF, yakni social infrastructure, seperti rumah sakit, sekolah, dan infrastruktur agribisnis.

Reynaldi menargetkan pada 2020 aset IIF bisa tumbuh sekitar 30%. Net Interest Margin (NIM) juga diharapkan bisa makin baik. “Kami benar-benar berada di fase take off, belum di fase cruising altitude,” Reynaldi mengibaratkan. “Bersamaan dengan hal itu, kami juga terus memperkuat tim,” ujarnya lagi.§

Author : Joko Sugiarsono & Vina Anggita

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)