Kapitalisasi Pasar Rp 2,81 Triliun, Apa Saja Inovasi Prodia?

Dewi Muliaty, Direktur Utama PT Prodia Widyahusada Tbk. (Foto : Dok)

PT Prodia Widyahusada Tbk bergerak lincah merespons dampak pandemi Covid-19 terhadap kesehatan masyarakat dan bisnis perseroan. Beragam layanan dan produk inovatif dirilis manajamen Prodia, antara lain pemeriksaan serologi cepat (rapid test antibodi) anti SARS-CoV-2 IgM/IgG dan pemeriksaan SARS-CoV-2 real-time polymerase chain reaction/RT-PCR, menyediakan layanan telekonsultasi untuk meningkatkan kemudahan akses layanan kesehatan untuk pelanggan pada masa pandemi, mendatangkan alat otomatis untuk pemeriksaan terkait Covid-19 sehingga dapat memperbesar kapasitas tes dan waktu selesai hasil pemeriksaan dapat dilakukan lebih cepat pula.

Berikutnya, Prodia meluncurkan pemeriksaan Prodia Wellness Genomics (PWG) untuk memprediksi risiko penyakit berdasarkan profil genetik seseorang yang bertujuan untuk menentukan strategi pencegahan secara personal agar seseorang dapat terhindar dari penyakit tertentu di masa depan. Emiten yang sahamnya berkode PRDA ini memperoleh izin dari Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta untuk melakukan pemeriksaan laboratorium RT-PCR Covid-19. Pemeriksaan ini mulai dilakukan sejak awal Mei 2020 yang bertujuan untuk mendukung pemerintah menangkal penyebaran wabah virus Corona dan memenuhi kebutuhan pemeriksaan RT-PCR di Indonesia, khususnya di Jakarta.

Direktur Utama Prodia, Dewi Muliaty, mengatakan perseroan berkomitmen untuk terus berkontribusi dalam mendukung pemerintah dalam menangani Covid-19. Terkait inovasi, Dewi menyampaikan Prodia terus melakukan inovasi untuk menyediakan layanan kesehatan yang lebih baik bagi masyarakat Indonesia. . “Berbagai inovasi dan langkah strategis Prodia bertujuan untuk memberikan nilai tambah yang berkelanjutan bagi pemegang saham dan pemangku kepentingan,”. ujar Dewi seperti dikutip SWAonline di Jakarta, Minggu (23/8/2020).

Pada Juni 2020, PRDA mencatatkan pendapatan senilai Rp 139,72 miliar, naik sekitar 26,4% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Kapitalisasi pasar Prodia pada Rabu, 19 Agustus 2020, senilai Rp 2,81 triliun. Jumlah saham beredar PRDA sebanyak 937,50 juta unit dan harga sahamnya sebesar Rp 3 ribu/saham per Rabu itu. Hingga Juni tahun ini, Prodia telah mengoperasikan jejaring layanan sebanyak 285 outlet di 34 provinsi dan 127 kota di seluruh Indonesia

Adapun, inovasi terbaru perseroan di Juli lalu adalah menggunakan alat otomatis PerkinElmer untuk pemeriksaan PCR Covid-19 di Laboratorium Pusat Rujukan Nasional dan Laboratorium Rujukan Regional Prodia di Surabaya, Makassar dan segera menyusul di Medan. Serangkaian inovasi layanan ini melanjutkan inovasi yang dilakukan tahun sebelumnya.

Pada 2019, misalnya, Prodia memperbaharui sistem automasi laboratorium untuk meningkatkan kualitas proses kerja di laboratorium mulai dari proses pra-analitik, analitik dan pasca-analitik. Dengan adanya sistem automasi ini, Prodia mampu meningkatkan produktivitas, efisiensi serta mempercepat waktu selesai hasil pemeriksaan (turn around time).

Nah, untuk memasarkan layanan dan produk inovatif perseroan itu, maka tim di Divisi Pemasaran Prodia saling menyokong untuk menyebarluaskan manfaatnya kepada masyarakat. Prodia, dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia pada pertengahan Agustus ini, menyampaikan pengembangan program-program unggulan pemasaran yang dilakukan taktis itu melihat perkembangan Covid-19 di setiap bulannya. Di masa pandemi, perseroan melakukan pemasaran yang terkait dengan kebutuhan konsumen demi memenuhi kebutuhan masyarakat dan menyokong pemerintah mencegah penyebaran virus Corona yang selaras dengan fokus pemasaran Prodia yang mencakup pemasaran ilmiah maupun kegiatan komunikasi pemasaran yang umum.

Indriyanti Rafi Sukmawati, Direktur Bisnis dan Pemasaran Prodia, memimpin tim pemasaran yang berpusat di Jakarta dengan tenaga pemasaran yang tersebar di seluruh cabang Prodia dan berfokus pada aktivitas pemasaran ilmiah maupun kegiatan komunikasi pemasaran yang umum. Perempuan kelahiran 48 tahun silam ini memulai kariernya di PRDA sejak tahun 1996 di bagian pemasaran sebagai Asisten Manajer Marketing hingga tahun 2001. Kariernya berlanjut sebagai Account Manager Marketing (2008) dan Kepala Laboratorium Pusat Rujukan Nasional Prodia (2008-2014). Peraih gelar Sarjana Farmasi (1995) dan Profesi Apoteker (1996) dari Universitas Padjadjaran, Bandung, ini diangkat sebagai Direktur PRDA sejak tahun 2014.

Indriyanti, lulusan S-2 (2006) dan S-3 (2010) di bidang Biomedik Kimia Klinik dari Universitas Hasanuddin, Makassar, mengemban tugas yang berkaitan dengan kegiatan bisnis dan strategi pemasaran, yakni, clinical laboratory referral lab services, klinik, marketing communication, product, dan research support. Layanan inovatif perseroan diantaranya Prodia Health Care (PHC) yakni layanan wellness clinic yang berbasis personalized medicine serta specialty clinics yang terdiri dari Prodia Children’s Health Centre (PCHC), Prodia Women’s Health Centre (PWHC), dan Prodia Senior Health Centre (PSHC).

Untuk mengetahui lebih lanjut layanan inovatif Prodia, simak saja Strategi Prodia Berinovasi Mengembangkan Layanan Demi Kepuasan Pelanggan dalam Business Leader Talk di Instagram @swamediainc dan @prodia_lab yang disiarkan langsung pada Senin, 24 Agustus 2020, pukul 16.00 WIB, dengan narasumber Indriyanti Rafi Sukmawati, Direktur Bisnis dan Pemasaran Prodia. Bincang-bincang vitual ini dipandu oleh Anastasia Anggoro Suksmonowati, jurnalis SWA. (*)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)