Korn Ferry: Perusahaan Harus Cepat Mengamankan Biaya dan Mental Karyawan

Pandemi Covid-19 mendorong terjadinya krisis global. Hampir semua pihak pada awalnya tidak siap dengan pandemi ini dan krisis yang tercipta oleh pandemi, termasuk perusahaan di Indonesia. Tidak seperti krisis-krisis lainnya, kata Sylvano Damanik, Vice Chairman Korn Ferry Indonesia, krisis karena Covid-19 lebih cepat, baik dalam penyebarannya maupun dampaknya ke global. “Itu disebabkan terjadi imobilisasi mas­yarakat dan ekonomi,” ujarnya.

Menurut Sylvano, krisis yang dialami perusahaan akibat pandemi corona harus dilihat dalam dua bagian. Yaitu, apa yang harus dan bisa kita lakukan saat ini dalam mengatasi krisis yang tercipta oleh pandemi, dan apa yang perlu kita persiapkan pascapandemi ini.

Sylvano mengatakan, banyak yang memprediksi, pandemi ini akan berakhir antara Juli dan Desember 2020, dan bouncing back perekonomian diperkirakan antara Maret dan Juni 2021. Dengan kata lain,  hampir semua memiliki harapan tinggi karena bounce back-nya cukup cepat dibandingkan beberapa krisis terdahulu.

Sylvano Damanik, Vice Chairman Korn Ferry Indonesia

Dalam penilaiannya, itu tidak terlalu salah. Karena kalau kita lihat, krisis ini belum melumpuhkan fundamental ekonomi kita ataupun negara lain. “It’s just a matter of delaying demand and supply. Demand-nya tetap ada, dan supply-nya juga tetap ada, hanya tersumbat karena imobilitas yang harus kita lakukan saat ini,” dia menjelaskan.

Namun, Sylvano menyaran­kan agar perusahaan bertindak cepat untuk mengamankan biaya dengan melakukan penghematan. Sebab, dia yakin, setiap usaha memiliki buffer, dan bila buffer tersebut dihemat, mereka masih bisa survive. “Itu langkah di tahap awal,” ujarnya menegaskan.

Jika terjadi krisis tahap kedua, dan ini telah dialami beberapa perusahaan/industri, hal itu bisa membuat pemasuk­an terhambat atau tertunda signifikan dalam 2-3 bulan terak­hir, mungkin bisa turun hingga lebih dari 70% (bulan ke bulan, bukan --mudah-mudahan ja­ngan-- tahun ke tahun, year on year comparison). Maka, kondisi tersebut harus diantisipasi.

Hanya saja, menurut Sylvano, jangan sampai perusahaan memangkas biaya yang mengakibatkan amputasi pada organ penting perusahaan. “Apa itu? Masing-masing perusahaan perlu melihat, aspek penghematan apa yang bisa dilakukan tanpa memotong organ penting.”

Memang, se­perti dikatakan Hesty Setianingrum, Client Partner Advisory Korn Ferry Indonesia, tidak ada satu resep khusus yang dapat diaplikasikan per­usahaan, apa pun industrinya, untuk bisa survive menghadapi krisis karena pandemi corona. Namun, beberapa hal perlu dipertimbangkan untuk menghadapi kondisi krisis. Di antaranya, business continuity plan (BCP), yaitu suatu dokumentasi proses ataupun beberapa action plan lainnya.

Contohnya, dalam pembentukan crisis management team, perlu adanya perwakilan dari berbagai fungsi, seperti sales, strategic planning, risk management, dan operation. Hesty menjelaskan, “Tugas dan tanggung jawab tim ini termasuk melakukan pemantauan kondisi perusahaan secara rutin, dan membentuk mitigation plan secepat mungkin untuk memastikan bahwa kondisi kesehatan perusahaan dapat terjaga dengan sebaik mungkin, serta seluruh potensi risiko dapat dimitigasi sebelum terjadi.”

Hesty sepakat, optimasi bia­ya merupakan inisiatif yang harus dilakukan dalam menghadapi krisis saat ini. Namun, perusahaan perlu melakukan analisis terlebih dahulu untuk menentukan sejauh mana optimasi biaya yang dibutuhkan guna menjaga cash flow perusahaan.

Dia menambahkan, saat perusahaan sudah mengalami penurunan pendapatan lebih dari 50% selama dua bulan terakhir, dapat mempertimbangkan untuk mulai mengap­likasikan short-term efficiency measure. Contohnya, memotong beberapa komponen biaya yang diperkirakan dapat membantu dalam menyehatkan cash flow, misalnya gaji para eksekutif perusahaan; mengimplementasikan unpaid leave, alternate, atau menerapkan kebijakan masuk bergiliran.

Hesty Setianingrum, Client Partner Advisory Korn Ferry Indonesia.

Hanya saja, di samping penghematan biaya, perusahaan juga tidak boleh melupakan inisiatif untuk mendapatkan sumber pendapatan baru. Yang penting untuk dilakukan di saat menghadapi pandemi agar bisa bertahan, menurut Hesty, adalah terus berinovasi dan tidak hanya menunggu sampai kondisi kembali membaik. “Perusahaan yang langsung berinovasi dan masuk ke mode survival akan lebih dapat bertahan di saat krisis dibandingkan perusahaan yang tidak melakukan apa-apa,” katanya.

Sylvano juga menggarisbawahi hal penting lainnya dari sisi people atau talenta, yakni “crisis is actually the best time to develop our future leaders”. Mengapa? Karena, situasi ini adalah real, bukan simulasi yang dilakukan di kelas. “This is real, dan krisis kerapkali memfilter talenta-talenta yang lebih resilient daripada yang lain,” ia mengungkapkan.

Dan, langkah berikutnya adalah mengembangkan talenta yang resilient menjadi calon pemimpin masa depan dengan meminta mereka untuk ikut berpikir, memberikan usulan, dan membantu pemimpin yang ada sekarang dalam mengatasi situasi krisis dan pascakrisis. Atau dengan kata lain, “Push them to think 2-3 levels higher than they are today. Itu cara baik untuk men-develop talent untuk menjadi future leaders,” Silvano menegaskan.

Bahkan, ketika memasuki masa pacapandemi corona, menurut Hesty, perusahaan perlu memasukkan kompetensi “leadership in crisis“ ke dalam program pengembangan kepemimpinan --walaupun krisis bukanlah sesuatu yang terjadi secara rutin.

Pascapandemi, lanjut Hesty, perusahaan harus terus mengembangkan digitalized process, bukan malah kembali ke non-digitalized process. “Yang dapat dipelajari dari pandemi ini adalah perusahaan yang sudah terdigitalisasi atau dapat mendigitalisasi prosesnya adalah perusahaan yang dapat tetap survive di kala keluar dari rumah pun tidak diperbolehkan,” ungkapnya.

Selanjutnya, on top of digitalization, yakni perusahaan harus mengembangkan strategi untuk memastikan keamanan cyber dapat terjaga. Walaupun digitalisasi sudah dilakukan, menurut Hesty, “Cyber security adalah prioritas selanjutnya yang harus ada untuk memastikan keamanan transaksi maupun keamanan proses agar perusahaan tidak kehilangan kepercayaan customer-nya.”

Dari segi sales channel, organisasi yang belum merambah kanal e-commerce akan mulai menargetkan jumlah transaksi yang dapat dilakukan melalui e-commerce. Dan, tren lainnya adalah digitalisasi dokumentasi, dengan menggunakan cloud system untuk penyimpanan dokumen.

“Organisasi bisnis dapat berubah dan dapat juga tetap sama. Mungkin akan bermunculan posisi baru di perusahaan, seperti tim cyber security maupun tim digital apabila saat ini belum ada. Begitu juga dengan organisasi penjualan, mungkin akan memiliki tim khusus yang akan melakukan kegiatan sales melalui e-commerce maupun melalui online channel lainnya,” Hesty menegaskan. 

Bernadette Themas, Senior Client Partner and Executive Search Lead Korn Ferry Indonesia, menambahkan, di era "new normal" akan banyak posisi yang tereliminasi. “Banyak yang akan tereliminasi, terutama di posisi-posisi support. Dan, per­usahaan akan lebih mendorong share services. Ini juga sudah dijalankan Korn Ferry, misalnya Account Receivable dan Account Payable bisa disentralisasi, yang sentralnya di Singapura,” ungkapnya. Untuk karyawan di fungsi administrasi, mereka memang tidak perlu menjadi permanent employee.

Bernadette Themas, Senior Client Partner and Executive Search Lead Korn Ferry Indonesia

Bernadette Themas, Senior Client Partner and Executive Search Lead Korn Ferry Indonesia, menambahkan, di era "new normal" akan banyak posisi yang tereliminasi. “Banyak yang akan tereliminasi, terutama di posisi-posisi support. Dan, per­usahaan akan lebih mendorong share services. Ini juga sudah dijalankan Korn Ferry, misalnya Account Receivable dan Account Payable bisa disentralisasi, yang sentralnya di Singapura,” ungkapnya. Untuk karyawan di fungsi administrasi, mereka memang tidak perlu menjadi permanent employee.

“Selepas pandemi, gig eco­nomy dan free agent akan lebih berkembang. Satu lagi, selepas pandemi, pengurangan tenaga kerja lebih banyak atau redundancy akan banyak terjadi,” kata Bernadette. Tiap organisasi akhirnya akan melakukan pemetaan, fungsi apa saja yang bisa dirangkap. Dan, perusahaan akan mempertahankan karya­wan yang memberikan dampak pada revenue dan value lainnya.

Hanya saja, dengan kondisi seperti sekarang, perusahaan dipaksa mengelola karyawannya untuk bekerja dari rumah, ditambah lagi dengan langkah perusahaan melakukan penghematan biaya, menurut Bernadette, mungkin saja ba­nyak yang tidak bisa menerima, terutama mereka yang hidup sendirian, stresnya lebih besar. Maka, harus ada pendam­pingan oleh psikolog ataupun edukasi manajemen stres bagi karyawan, karena tidak mudah menghadapi kondisi baru ini.

Perusahaan yang tidak bisa menjalankan full work from home untuk seluruh karya­wannya --apakah itu dengan metode shifting atau kalau yang di pabrik harus tetap bekerja agar produksi tetap jalan-- kata Bernadette, perlu memberikan apresiasi berupa insentif kepada mereka yang tetap bekerja di kantor/pabrik. Karena, “Bisa jadi, pasa­ngannya atau anaknya sebenar­nya tidak mengizinkan mereka bekerja ke kantor de­ngan alasan risiko kesehatan, apalagi yang harus bekerja dengan kendaraan umum,” tuturnya. Saat ini memang pemasukan perusahaan berkurang, tetapi mental karyawan dan produktivitasnya harus tetap dijaga.§

Kutipan Sylvano:

"It’s just a matter of delaying demand and supply"

Sylvano Damanik
Vice Chairman Korn Ferry Indonesia



Kutipan Hesty:

"Dalam pembentukan crisis management team, perlu adanya perwakilan dari berbagai fungsi"

Hesty Setianingrum
Client Partner Advisory Korn Ferry Indonesia



Kutipan Bernadette:

"Di era new normal akan banyak posisi yang tereliminasi"

Bernadette Themas
Senior Client Partner and Executive Search Lead Korn Ferry Indonesia

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)