Menebar Kebaikan, Membantu Pemulihan

Kebaikan itu menular dan siklusnya tidak boleh berhenti. Mencegah penularan COVID-19 merupakan bagian dari kebaikan.

dr. Aulia Giffarinnisa (Dokter - RSDC Wisma Atlet) (tengah) bersama Yusrin Zata Lini (Relawan Jurnalis Bergerak) (kanan) dan moderator Pascalis Iswari berbagi cerita inspiratif dalam dialog Liputan produktif bertema Berbakti Untuk Kemanusiaan Tanpa Pamrih di Jakarta, Jumat, 4 Desember 2020.

JAKARTA - Dalam wabah COVID-19 ini, banyak orang tidak punya pilihan untuk tetap berada di rumah. Mereka harus tetap berjibaku mencari nafkah di bawah risiko penularan yang cukup tinggi. Ironinya, banyak dari mereka tidak peduli pada protokol kesehatan karena keterbatasan pengetahuan dan juga keterbatasan keuangan.

Situasi yang yang dilihat Yusrin Zata Lini mendorongnya untuk menginisiasi gerakan Relawan Jurnalis Bergerak. “Saat bertugas sebagai jurnalis di lapangan melihat langsung masyarakat kurang beruntung yang harus bekerja meski dalam masa pandemi. Mereka juga cenderung tidak peduli pada COVID-19 dan lebih peduli mencari uang untuk keluarga,” ujar jurnalis yang akrab disapa Tata ini dalam Dialog Produktif yang mengangkat tema ‘Berbakti untuk Kemanusiaan Tanpa Pamrih’. Dialog ini diselenggarakan Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) di Media Center KPCPEN, Jumat (4/12) dalam rangka Hari Relawan Internasional pada 5 Desember.

Gerakan yang diinisiasinya ini akhirnya dapat memberikan bantuan sembako serta hand sanitizer dan masker. Gerakan ini juga menyebar selebaran edukasi terkait COVID-19. “Target penerima bantuan adalah pekerja non formal seperti tukang ojek, pemulung penjual keliling dan sebagainya,” ungkapnya sembari mengatakan sebelum disalurkan, donasi dikumpulkan melalui benihbaik.com. “Target awalnya untuk 400 penerima namun lebih dan bisa menjangkau 600 penerima,” lanjutnya.

Selain itu, gerakan para jurnalis ini memiliki misi memberikan edukasi informasi bagi mereka yang kurang memiliki akses pada informasi COVID-19. “Dalam gerakan ini kami bekerja sama menjadi wadah masyarakat umum untuk saling membantu satu sama lain dan tidak saling menyalahkan,” jelasnya.

Bantuan  yang mereka dapat didistribusikan di lima wilayah administrasi DKI Jakarta. Para penerima bantuan umumnya adalah orang-orang yang direkomendasikan oleh perorangan,  atau komunitas seperti guru honorer dan tukang pijat tuna netra.

Di tengah gerakan kemanusiaan yang digagasnya, Tata sangat mendukung kehadiran vaksin. Dia menyatakan bahwa dengan vaksin maka dapat mengembalikan setidaknya kehidupan masyarakat dalam mencari pekerjaan dan berkehidupan sosial.

Panggilan hati dengan sukarela membantu sesama mampu memberikan bantuan dan harapan bagi yang tidak mampu. Kebaikan itu menular dan siklusnya tidak boleh berhenti. Dan mencegah penularan COVID-19 merupakan bagian dari kebaikan.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)